RADARBONANG.ID - Di tengah maraknya kegiatan Car Free Day (CFD) di berbagai kota, Yogyakarta memiliki cara unik untuk merayakan kebersamaan para pesepeda.
Setiap Jumat terakhir di setiap bulan, ratusan hingga ribuan pesepeda dari berbagai komunitas berkumpul untuk mengikuti Jogja Last Friday Ride (JLFR).
Acara ini bukan sekadar bersepeda, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi, unjuk kreativitas, sekaligus merayakan budaya bersepeda yang kental di Kota Gudeg.
JLFR dimulai pada sore hingga malam hari, dengan titik kumpul yang sering berpindah-pindah, meski beberapa kali berlangsung di kawasan ikonik seperti Tugu Jogja atau Alun-Alun Utara.
Baca Juga: Skena Fixie Gear Kembali Nge-tren: Dari Gaya Hidup Urban ke Manfaat Kesehatan
Pesertanya beragam, mulai dari anak muda, pekerja, hingga keluarga, membawa sepeda berbagai jenis — dari sepeda lipat, fixie, MTB, hingga talbike alias sepeda tinggi yang jadi pusat perhatian.
Salah satu daya tarik JLFR adalah suasananya yang inklusif dan santai. Tidak ada pendaftaran formal atau biaya ikut serta. Cukup datang dengan sepeda dan semangat, semua orang bisa bergabung.
Jalur yang dipilih biasanya melewati sudut-sudut kota yang kaya sejarah dan budaya, membuat peserta bisa sekaligus menikmati keindahan Jogja di malam hari.
Bagi komunitas sepeda di Jogja, JLFR bukan sekadar rutinitas bulanan. Kegiatan ini menjadi simbol solidaritas antar-pesepeda, wadah bertukar cerita, hingga kesempatan memamerkan kostum atau modifikasi sepeda unik.
Bahkan, tak jarang JLFR mengundang pesepeda dari luar kota seperti Solo, Magelang, hingga Semarang untuk ikut meramaikan.
Menurut beberapa peserta, JLFR memberikan sensasi berbeda dibanding CFD. Jika CFD biasanya berlangsung pagi hari dan berfokus pada area tertentu, JLFR menghadirkan nuansa night ride yang lebih bebas, spontan, dan penuh kejutan.
Lampu-lampu sepeda yang berwarna-warni, musik portable, dan tawa para peserta menciptakan suasana festival kecil di jalanan Jogja.
Tak hanya itu, JLFR juga membawa dampak positif bagi sektor UMKM. Rute yang dilalui seringkali melewati kawasan kuliner malam, sehingga banyak peserta yang mampir untuk mencicipi gudeg, angkringan, atau jajanan kaki lima. Hal ini menambah daya hidup ekonomi malam di Jogja sekaligus memperkenalkan wisata kuliner khas kota ini.
Dengan semangat kebersamaan dan kreativitas yang terus terjaga, JLFR telah menjadi identitas tersendiri bagi Jogja.
Ia membuktikan bahwa bersepeda bukan hanya soal olahraga, tetapi juga soal membangun komunitas, merayakan kota, dan menjaga tradisi.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah