Mengapa Susu Sapi Lebih Populer daripada Susu Mamalia Lain? Ini Penjelasannya

RADARBONANG.ID - Susu sapi menjadi jenis susu mamalia yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia.
Namun, di balik tingginya konsumsi susu sapi, sebagian orang justru mengalami gangguan pencernaan setelah meminumnya.
Kondisi ini berkaitan dengan intoleransi laktosa, yakni ketidakmampuan tubuh mencerna gula alami yang terkandung dalam susu.
Berdasarkan ulasan dalam tayangan kanal edukasi Kok Bisa? sapi memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menjadi pilihan utama dalam industri peternakan.
Hewan ini mampu menghasilkan susu dalam jumlah lebih besar dibandingkan mamalia lain. Selain itu, karakternya yang relatif tenang memudahkan peternak dalam proses pemerahan.
“Dari segi produksinya, selain sapi bisa ngasilin jauh lebih banyak susu dibanding mamalia lain, dia juga relatif kalem dan gampang diternak, jadi petani enggak nantang maut tiap mau manen susu,” demikian penjelasan dalam tayangan tersebut.
Faktor rasa juga berpengaruh terhadap popularitas susu sapi. Kandungan lemak dan karakteristiknya dinilai sesuai dengan selera banyak konsumen.
Susu sapi pun mudah diolah menjadi beragam produk turunan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Sebaliknya, susu dari mamalia lain memiliki karakteristik yang berbeda. Susu kambing, misalnya, mempunyai komposisi lemak dan cita rasa tersendiri.
Sementara itu, susu kucing bukan merupakan pilihan umum untuk konsumsi manusia karena karakteristik aroma dan teksturnya.
Mengapa Susu Bisa Menyebabkan Kembung dan Diare?
Meski populer, susu sapi tidak selalu cocok bagi semua orang. Lebih dari setengah populasi manusia di dunia diperkirakan mengalami penurunan kemampuan mencerna laktosa setelah masa kanak-kanak.
Laktosa merupakan gula alami yang terdapat dalam susu. Agar dapat diserap tubuh, zat tersebut perlu diuraikan oleh enzim laktase yang diproduksi di usus halus.
Pada orang yang mampu mencerna laktosa dengan baik, enzim laktase membantu memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih sederhana. Namun, produksi enzim ini pada banyak orang menurun seiring bertambahnya usia.
Ketika tubuh tidak menghasilkan cukup laktase, sebagian laktosa yang dikonsumsi tidak tercerna dan bergerak menuju usus besar.
Di sana, bakteri usus memfermentasi laktosa dan menghasilkan gas. Laktosa yang tidak terserap juga dapat menarik air ke dalam usus.
Proses tersebut dapat memicu gejala seperti perut kembung, nyeri perut, hingga diare.
Tingkat keparahannya berbeda-beda, bergantung pada jumlah laktosa yang dikonsumsi dan kemampuan tubuh masing-masing orang dalam mencernanya.
Jejak Evolusi di Balik Kemampuan Mencerna Susu
Kemampuan manusia mencerna susu setelah dewasa juga berkaitan dengan sejarah evolusi dan perkembangan peternakan.
Ribuan tahun lalu, sejumlah kelompok manusia mulai memelihara hewan ternak dan memanfaatkan susunya sebagai sumber pangan.
Kebiasaan tersebut berkembang di berbagai wilayah, termasuk Eropa, dan memberikan keuntungan bagi masyarakat yang mengandalkan produk susu sebagai bagian dari pola makan.
Pada sebagian populasi, mutasi genetik memungkinkan produksi enzim laktase tetap berlangsung hingga usia dewasa. Kemampuan ini dikenal sebagai persistensi laktase.
Sifat tersebut membuat seseorang dapat mencerna laktosa lebih baik dibandingkan orang yang produksi enzimnya menurun setelah masa kanak-kanak.
Perbedaan genetik dan sejarah pola konsumsi susu turut menjelaskan mengapa kemampuan mencerna laktosa pada usia dewasa lebih umum ditemukan di sejumlah populasi Eropa dibandingkan beberapa populasi di wilayah lain.
Susu Bebas Laktosa Menjadi Alternatif
Perkembangan teknologi pangan menghadirkan alternatif bagi orang yang mengalami intoleransi laktosa.
Salah satunya adalah susu sapi bebas laktosa yang telah melalui proses pengolahan untuk memecah laktosa menjadi gula yang lebih sederhana.
Dengan begitu, produk tersebut dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin tetap memperoleh nutrisi dari susu tanpa mengalami gejala akibat laktosa.
Meski demikian, toleransi setiap orang tetap berbeda, sehingga pemilihan produk perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Pemahaman mengenai kandungan susu dan kemampuan pencernaan menjadi hal penting sebelum menentukan asupan sehari-hari.
Dengan mengenali respons tubuh terhadap produk susu, masyarakat dapat memilih sumber nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tanpa mengabaikan kenyamanan pencernaan. (*)



