Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Skip Breakfast Generation: Ketika Gen Z Terbiasa Melewatkan Sarapan

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 21 November 2025 | 15:10 WIB

Ilustrasi sarapan
Ilustrasi sarapan

RADARBONANG.ID – Sarapan dulu dianggap sebagai “makan paling penting dalam sehari”. Namun di era serba cepat, generasi muda—khususnya Gen Z—kini semakin sering meninggalkan kebiasaan itu.

Banyak yang memilih langsung beraktivitas tanpa asupan pagi, entah karena buru-buru kerja, sekolah, atau sekadar kehilangan nafsu makan setelah begadang mengerjakan tugas dan menatap layar hingga larut malam.

Fenomena ini memunculkan istilah baru di dunia kesehatan: Skip Breakfast Generation, sebutan bagi kelompok muda yang menjadikan tidak sarapan sebagai gaya hidup harian.

Baca Juga: Dokter Ungkap! 7 Kondisi Tubuh yang “Wajib” Makan Melon: Murah, Segar, dan Khasiatnya Bikin Melongo

Rutinitas Super Cepat, Sarapan Jadi Nomor Dua

Banyak Gen Z menjalani hari dengan ritme yang padat. Ada yang kuliah sambil kerja, menyiapkan tugas sambil mengelola bisnis kecil, atau sekadar bangun mepet jam berangkat.

Akibatnya, sarapan sering dianggap aktivitas yang “menghabiskan waktu”.

Survei kecil beberapa ahli nutrisi menunjukkan pola serupa:

Di balik kebiasaan ini, terkadang ada pula anggapan salah bahwa melewatkan sarapan bisa membantu menurunkan berat badan lebih cepat. Padahal faktanya tidak demikian.

Dampak Melewatkan Sarapan pada Metabolisme

Dokter gizi menyebut sarapan berfungsi sebagai “pemantik metabolisme”.

Setelah puasa semalaman, tubuh perlu energi awal untuk mulai bekerja. Ketika sarapan dilewatkan, tubuh akan memasuki mode hemat energi.

Akibatnya:

Lebih jauh, kebiasaan tidak sarapan dalam jangka panjang meningkatkan risiko:

Pengaruh Gaya Hidup Digital

Perubahan gaya hidup digital sangat berperan dalam munculnya generasi tanpa sarapan ini. Banyak remaja yang terbiasa tidur larut karena:

Ketika bangun tidur dalam keadaan terburu-buru dan kurang istirahat, tubuh cenderung kehilangan rasa lapar di pagi hari.

Beberapa ahli menyebut ini sebagai “digital jet lag”, kondisi ketika jam biologis tubuh terganggu akibat pola hidup tidak teratur.

Tak Sarapan Mengganggu Kinerja Akademik dan Kerja

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pelajar dan pekerja yang rutin sarapan memiliki kemampuan konsentrasi dan daya tahan tubuh lebih baik. Sarapan membantu menjaga kestabilan glukosa otak sehingga kemampuan berpikir lebih tajam.

Sebaliknya, remaja yang sering melewatkan sarapan cenderung:

Guru dan HRD dari beberapa institusi bahkan mulai menyadari tren ini karena penurunan performa yang cukup signifikan terutama pada jam-jam awal aktivitas.

Mengapa Sarapan Penting untuk Gen Z?

Bagi generasi yang dituntut bergerak cepat, sarapan sebenarnya adalah “bahan bakar utama”. Bahkan menu sederhana seperti roti selai kacang, yogurt, telur, atau buah sudah cukup untuk membuat tubuh bekerja optimal sejak pagi.

Sarapan juga membantu stabilitas emosional—hal penting di usia produktif yang sering dihadapkan pada tekanan akademik maupun pekerjaan.

Baca Juga: PSIS Semarang Resmi Miliki Pemilik Baru, Datu Nova Fatmawati Akuisisi Mayoritas Saham PT MJS

Kesimpulan: Perlu Edukasi, Bukan Sekadar Imbauan

Fenomena Skip Breakfast Generation menunjukkan bahwa gaya hidup modern memengaruhi pola makan harian masyarakat, terutama anak muda. Ini bukan sekadar soal malas makan, tetapi juga soal ritme hidup yang makin padat dan jam biologis yang kacau.

Edukasi gizi yang lebih dekat dengan gaya hidup Gen Z diperlukan agar mereka memahami manfaat sarapan dari sisi kesehatan jangka panjang.

Bukan untuk memaksa, melainkan membangun kebiasaan baru yang lebih sehat dan realistis.

Pada akhirnya, sarapan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga memastikan tubuh dan otak siap menghadapi hari dengan efektif. Mengubah kebiasaan kecil ini bisa berdampak besar bagi kualitas hidup generasi muda. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#gaya hidup #anak muda #Gen Z #skip #sarapan