TUBAN-Di era modern ini, banyak sekali inovasi baru untuk mempermudah kehidupan. Salah satu rokok elektrik atau vape.
Vape menggunakan alat elektronik yang bekerja dengan cara memanaskan cairan atau e–liquid untuk menghasilkan uap yang dihirup penggunanya.
Vape dianggap sebagai alternatif rokok yang lebih baik dibandingkan dengan rokok konvensional.
Alasan lain banyak orang beralih menggunakan vape karena rasa liquid-nya yang beragam dan dianggap lebih hemat dibandingkan rokok konvensional.
Apakah benar vape lebih baik daripada rokok konvensional dari segi kesehatan?
Menurut Kementerian Kesehatan, rokok konvensional dan vape sama membahayakannya bagi kesehatan tubuh, terutama bagi paru – paru.
American Heart Association (AHA) juga memaparkan bahwa tidak ada yang lebih baik atau lebih bersih antara rokok konvensional dan vape.
Orang yang merokok dan vaping akan mengalami penyempitan arteri, peningkatan detak jantung, dan peningkatan pada tekanan darah.
Asisten profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Wisconsin, Matthew C. Tattersall, DO, MS, mengatakan, terjadi perubahan yang mengkhawatirkan pada tekanan darah, detak jantung, dan penyempitan pembuluh darah pada perokok atau vaping.
Rokok konvensional dan vape sama – sama mengandung nikotin dan zat – zat berbahaya lainnya yang dapat menimbulkan masalah pada kesehatan tubuh.
Melansir dari halodoc.com, asap rokok konvensional menghasilkan lebih dari 7 ribu bahan kimia beracun dan sekitar 70 bahan kimia lain penyebab kanker.
E–liquid dalam vape juga sama beracunnya karena mengandung zat – zat berbahaya, seperti nikotin, asetaldehida yang dapat menyebabkan kanker.
Bahaya lainnya, kandungan acrolein dapat menyebabkan penyakit paru – paru dan tetrahydrocannabinol.
Vitamin E asetat pada vape juga dapat mencederai paru – paru, logam berat, dan ultrafin.
Berikut efek buruk vape maupun rokok konvensional:
1. Kanker paru – paru
Bahan kimia yang terkandung dalam rokok konvensional atau vape memiliki potensi merusak sel – sel dalam paru dan mengubah menjadi kanker.
2. Paru – paru runtuh
Paru – paru runtuh dapat terjadi ketika terdapat lubang pada paru – paru di tempat keluarnya oksigen.
Merokok dan vaping dapat meningkatkan risiko kolaps pada paru – paru.
Penyakit ini ditandai dengan nyeri pada dada atau bahu yang tajam, sesak napas, dan sulit bernapas.
3. Popcorn lung
Popcorn lung atau bronchiolitis obliterans merupakan salah satu kondisi langka karena kerusakan paru – paru hingga mempersempit saluran udara.
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan popcorn lung.
4. Meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular
Orang yang merokok, baik aktif maupun pasif lebih rentan mengalami penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.
Risiko ini semakin meningkat jika menjalani pola hidup yang tidak sehat.
5. Gangguan psikologis
Zat adiktif dalam rokok konvensional dan vape dapat menyebabkan kecanduan pada nikotin.
Berhenti menggunakan nikotin dapat menyebabkan perubahan suasana hati dan perilaku seseorang, seperti gelisah, cemas, sulit tidur, tidak bisa konsentrasi, dan cenderung mudah stres.
6. Memicu penyakit pada mulut
Studi menyebutkan bahwa aerosol pada vape dapat membuat permukaan gigi akan lebih rentan terhadap perkembangan bakteri.
Selain itu, vaping juga dapat memicu iritasi pada gusi, mulut, dan tenggorokan.
Kebiasaan merokok dan vaping tentu dapat mengganggu kesehatan tubuh bagi penggunanya maupun orang – orang di sekitar.
Dalam konteks kesehatan, pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati.
Berhenti atau mengurangi rokok dan vaping merupakan cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. (*)