Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fenomena Skip Breakfast Generation: Ketika Gen Z Terbiasa Melewatkan Sarapan

Muhammad Azlan Syah

Ilustrasi sarapan
Ilustrasi sarapan


Advertisement

RADARBONANG.ID – Sarapan dulu dianggap sebagai “makan paling penting dalam sehari”. Namun di era serba cepat, generasi muda—khususnya Gen Z—kini semakin sering meninggalkan kebiasaan itu.

Banyak yang memilih langsung beraktivitas tanpa asupan pagi, entah karena buru-buru kerja, sekolah, atau sekadar kehilangan nafsu makan setelah begadang mengerjakan tugas dan menatap layar hingga larut malam.

Fenomena ini memunculkan istilah baru di dunia kesehatan: Skip Breakfast Generation, sebutan bagi kelompok muda yang menjadikan tidak sarapan sebagai gaya hidup harian.

Advertisement

Baca Juga: Dokter Ungkap! 7 Kondisi Tubuh yang “Wajib” Makan Melon: Murah, Segar, dan Khasiatnya Bikin Melongo

Rutinitas Super Cepat, Sarapan Jadi Nomor Dua

Banyak Gen Z menjalani hari dengan ritme yang padat. Ada yang kuliah sambil kerja, menyiapkan tugas sambil mengelola bisnis kecil, atau sekadar bangun mepet jam berangkat.

Akibatnya, sarapan sering dianggap aktivitas yang “menghabiskan waktu”.

Survei kecil beberapa ahli nutrisi menunjukkan pola serupa:

  • 59% remaja dan dewasa muda mengaku lebih memilih tidur lima menit lebih lama ketimbang menyiapkan sarapan.

  • 42% Gen Z mengatakan mereka tidak merasa lapar di pagi hari karena kebiasaan tidur larut atau begadang.

Di balik kebiasaan ini, terkadang ada pula anggapan salah bahwa melewatkan sarapan bisa membantu menurunkan berat badan lebih cepat. Padahal faktanya tidak demikian.

Dampak Melewatkan Sarapan pada Metabolisme

Dokter gizi menyebut sarapan berfungsi sebagai “pemantik metabolisme”.

Advertisement

Setelah puasa semalaman, tubuh perlu energi awal untuk mulai bekerja. Ketika sarapan dilewatkan, tubuh akan memasuki mode hemat energi.

Akibatnya:

  • Tubuh jadi lebih cepat lelah.

  • Kinerja otak melambat, memengaruhi fokus dan ingatan.

  • Rasa lapar lebih parah di siang hari, memicu makan berlebihan.

  • Metabolisme menurun, membuat berat badan justru mudah naik.

Lebih jauh, kebiasaan tidak sarapan dalam jangka panjang meningkatkan risiko:

  • gangguan gula darah,

  • masalah lambung seperti maag atau GERD,

  • penurunan kualitas mood,

  • penurunan produktivitas harian.

Pengaruh Gaya Hidup Digital

Perubahan gaya hidup digital sangat berperan dalam munculnya generasi tanpa sarapan ini. Banyak remaja yang terbiasa tidur larut karena:

  • menonton film,

  • bermain game,

  • scroll media sosial,

  • diskusi daring,

  • atau mengerjakan tugas mepet deadline.

Ketika bangun tidur dalam keadaan terburu-buru dan kurang istirahat, tubuh cenderung kehilangan rasa lapar di pagi hari.

Beberapa ahli menyebut ini sebagai “digital jet lag”, kondisi ketika jam biologis tubuh terganggu akibat pola hidup tidak teratur.

Tak Sarapan Mengganggu Kinerja Akademik dan Kerja

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pelajar dan pekerja yang rutin sarapan memiliki kemampuan konsentrasi dan daya tahan tubuh lebih baik. Sarapan membantu menjaga kestabilan glukosa otak sehingga kemampuan berpikir lebih tajam.

Sebaliknya, remaja yang sering melewatkan sarapan cenderung:

  • sulit fokus di kelas,

  • mudah mengantuk,

  • lebih rentan stres,

  • kerap mengalami mood swing.

Guru dan HRD dari beberapa institusi bahkan mulai menyadari tren ini karena penurunan performa yang cukup signifikan terutama pada jam-jam awal aktivitas.

Mengapa Sarapan Penting untuk Gen Z?

Bagi generasi yang dituntut bergerak cepat, sarapan sebenarnya adalah “bahan bakar utama”. Bahkan menu sederhana seperti roti selai kacang, yogurt, telur, atau buah sudah cukup untuk membuat tubuh bekerja optimal sejak pagi.

Sarapan juga membantu stabilitas emosional—hal penting di usia produktif yang sering dihadapkan pada tekanan akademik maupun pekerjaan.

Baca Juga: PSIS Semarang Resmi Miliki Pemilik Baru, Datu Nova Fatmawati Akuisisi Mayoritas Saham PT MJS

Kesimpulan: Perlu Edukasi, Bukan Sekadar Imbauan

Fenomena Skip Breakfast Generation menunjukkan bahwa gaya hidup modern memengaruhi pola makan harian masyarakat, terutama anak muda. Ini bukan sekadar soal malas makan, tetapi juga soal ritme hidup yang makin padat dan jam biologis yang kacau.

Edukasi gizi yang lebih dekat dengan gaya hidup Gen Z diperlukan agar mereka memahami manfaat sarapan dari sisi kesehatan jangka panjang.

Bukan untuk memaksa, melainkan membangun kebiasaan baru yang lebih sehat dan realistis.

Pada akhirnya, sarapan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga memastikan tubuh dan otak siap menghadapi hari dengan efektif. Mengubah kebiasaan kecil ini bisa berdampak besar bagi kualitas hidup generasi muda. (*)

Advertisement
Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang

Artikel Terkait

Terjebak Budaya Flexing di Media Sosial? Islamic Minimalism Ajak Hidup Cukup dan Lebih Bersyukur

Terjebak Budaya Flexing di Media Sosial? Islamic Minimalism Ajak Hidup Cukup dan Lebih Bersyukur

Mengenal Islamic minimalism, gaya hidup sederhana berlandaskan nilai Islam untuk menghadapi budaya flexing dan mengelola keuangan lebih bijak.

Bukan Cuma Malas Olahraga, Kebiasaan Duduk Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit

Bukan Cuma Malas Olahraga, Kebiasaan Duduk Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit

Sedentary lifestyle atau gaya hidup kurang gerak bisa meningkatkan risiko penyakit. Kenali dampak dan cara sederhana mengatasinya.

Tak Harus Selalu Produktif, Mengapa Weekend Tanpa Rencana Justru Penting bagi Kesehatan Mental?

Tak Harus Selalu Produktif, Mengapa Weekend Tanpa Rencana Justru Penting bagi Kesehatan Mental?

No-plan weekend menjadi cara baru menikmati akhir pekan tanpa agenda padat. Kenali manfaatnya untuk istirahat dan menjaga keseimbangan hidup.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer