RADARBONANG.ID - Bagi setiap muslim, mencintai Nabi Muḥammad SAW. adalah kewajiban yang mutlak.
Bahkan, Dalam Al-Qur'an Allah Swt. menunjukkan cara mencintai Rasulullah SAW. melalui berbagai narasi yang penuh kelembutan.
Berikut Khutbah Jumat tentang cara mencintai Rasulullah Muhammad SAW.:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَىٰ بِاللّٰهِ شَهِيدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُم بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّينِ
Khutbah I
Ma'asyiral muslimīn raḥimakumullah,
Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung, baik yang langsung kita rasakan maupun yang datang melalui perantara makhluk-Nya. Mari kita bersama-sama berupaya meningkatkan rasa syukur dengan meningkatkan ketakwaan, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Mencintai Nabi Muḥammad saw. adalah kewajiban yang mutlak bagi setiap mukmin. Dalam Al-Qur‘an, Allah Swt. menyampaikan kecintaan-Nya kepada Nabi Muḥammad saw. melalui berbagai narasi yang penuh kelembutan. Walaupun secara tekstual, ungkapan cinta Allah kepada Nabi tidak dinyatakan secara langsung, namun kehangatan dan kedalaman cinta tersebut sangat terasa di setiap ayat yang berbicara tentang beliau. Narasi-narasi ini tidak hanya menggambarkan kasih sayang Allah kepada Nabi, tetapi juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara mencintai sosok mulia ini.
Pertama, Allah menjadikan ittiba' atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw., baik dari segi perbuatan, perkataan, maupun ketetapan, sebagai wujud cinta kepada beliau. Selain itu, ittiba' juga merupakan syarat mutlak untuk meraih cinta dari Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya pada Q.S. Ali 'Imran ayat 31:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: ”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali ‘Imran: 31).
Cara untuk membalas cinta Allah atas nikmat yang telah diberikan di dunia adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw. Allah menjadikan Nabi sebagai sosok yang harus dikasihi, diikuti, dan didekati. Dengan mengikuti beliau, cinta Allah akan didapatkan, serta ampunan dari-Nya bagi dosa-dosa para hamba-Nya.
Kedua, Allah menetapkan bahwa ketaatan kepada Rasulullah saw., yang tercermin dalam tindakan, perkataan, dan ketetapan beliau, merupakan bentuk nyata cinta kepada beliau sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah Swt.
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا
"Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka." (Q.S. An-Nisa': 80).
Dalam hal ini, ketaatan kita kepada Rasulullah SAW. tidak hanya menunjukkan penghormatan kita terhadap beliau, tetapi juga mencerminkan kepatuhan kita kepada Allah dan pengagungan terhadap-Nya.
Rasulullah SAW. adalah utusan Allah yang diutus untuk membawa nilai-nilai Ilahiyah, ‘ubudiyah, dan kemanusiaan ke dalam kehidupan kita.
Beliaulah yang memperkenalkan kita kepada Allah, mengajarkan cara beribadah kepada-Nya, dan memberikan petunjuk mengenai mu’amalah yang baik dengan sesama makhluk.
Karena itu, ketaatan mutlak kepada Rasulullah SAW, baik dalam perintah maupun larangan, adalah kewajiban kita sebagai umat Islam, karena semuanya bersumber dari Allah Swt.
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah“. (Q.S. Al-Ḥasyr: 7).
Ketiga, salah satu bentuk kemuliaan cinta Allah terhadap Nabi Muḥammad saw. dapat dilihat dari cara Allah memanggil beliau dalam Al-Qur'an.
Allah tidak pernah langsung menyebut nama Nabi Muḥammad saw. dalam wahyu-Nya.
Sebagai perbedaan, Allah secara langsung menyebut nama nabi-nabi lainnya ketika memanggil mereka.
Sebagai contoh, dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 35, Allah menyebut nama Nabi Ādam a.s. dengan jelas. Perbedaan ini menunjukkan keistimewaan dan kedekatan yang unik antara Allah dan Nabi Muḥammad SAW.
يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga"
يٰنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ
“Wahai Nuh, turunlah (dari bahteramu) dengan penuh keselamatan dari Kami dan penuh keberkahan atasmu" (Q.S. Hud: 48).
Namun tatkala Allah memanggil Nabi Muḥammad saw., Dia menggunakan panggilan yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Allah sering menggunakan ungkapan seperti "Ya ayyuha" atau "duhai," tanpa menyebut nama Nabi secara langsung. Ini menunjukkan kedekatan dan rasa cinta Allah kepada beliau dengan cara yang istimewa.
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Duhai Nabi (Muhammad), cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagi engkau dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu" (Q.S. Al-Anfal:
64)
يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ
"Duhai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Q.S. Al-Maidah: 67)
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
“Duhai yang berselimut.” (Q.S. Al-Muzzammil: 1)
Secara implisit, Allah Swt. mengajarkan kita adab dalam menyebut nama Nabi Muḥammad SAW. Beliau tidak disebutkan secara langsung, melainkan diawali dengan gelar-gelar kemuliaan seperti Sayyiduna, Habibuna, Syafī`una, dan sejenisnya. Ini merupakan cara untuk menunjukkan rasa hormat dan cinta kita kepada Nabi Muhammad saw.
Keempat: Allah menunjukkan keagungan cinta-Nya melalui perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW. Allah Swt. menegaskan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 56 bahwa Dia dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Allah memerintahkan umat Islam untuk mengikuti teladan ini dengan bershalawat kepada Nabi.
Allah jarang melibatkan diri dalam tindakan yang diperintahkan kepada hamba-Nya, namun dalam hal bershalawat, Allah sendiri berpartisipasi. Ini menegaskan betapa besar kehormatan dan penghormatan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang tidak tertandingi oleh makhluk-Nya lainnya.
Kelima: Mencari keridaan Allah dan Rasul-Nya adalah prioritas utama. Sebagai seorang mukmin, penerapan iman yang sejati berarti menjadikan keridaan Allah dan Rasul-Nya sebagai tujuan utama. Keimanan seorang mukmin tidak akan lengkap jika hanya mengagungkan Allah tanpa menghormati dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW.
يَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ لِيُرْضُوْكُمْ وَاللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَحَقُّ اَنْ يُّرْضُوْهُ اِنْ كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ
"Mereka (orang-orang munafik) bersumpah kepadamu (kaum muslim) dengan (nama) Allah untuk membuat kamu rida, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka (raih) keridaan-Nya jika mereka adalah orang-orang beriman." (Q.S. At-Taubah: 62)
Ma`asyiral muslimin raḥimakumullah,
Demikianlah Khutbah singkat ini dalam membahas betapa dalamnya rasa cinta Allah Swt. kepada Nabi Muḥammad saw. Marilah kita memahami pesan-pesan Allah dalam mengekspresikan kasih sayang-Nya kepada kekasih-Nya, Nabi Muḥammad saw.
Untuk itu, sebagai bentuk penghormatan dan cinta kita kepada beliau, ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
- Mengikuti Sunnah: Amalkan sunnah-sunnah Nabi Muḥammad saw. dalam setiap aspek kehidupan kita.
- Menaati Ajaran: Patuhilah segala ajaran yang disampaikan oleh Rasūlullāh saw., baik dalam perintah maupun larangan, baik yang berkaitan dengan Allah maupun dengan sesama makhluk.
- Memberikan Gelar Kehormatan: Selalu sematkan gelar kehormatan dan kemuliaan setiap kali menyebut nama Nabi Muḥammad saw.
- Memperbanyak Shalawat: Perbanyaklah berselawat kepada Nabi Muḥammad saw. sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kita.
- Meraih Rida: Berusahalah sekuat tenaga untuk meraih keridaan Allah Swt. dan Rasūlullāh saw.
Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mencintai dan mengikuti ajaran Nabi Muḥammad saw. dengan penuh keikhlasan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْأَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُؤًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي أَمَرَنَا بِالِاتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِي أَرْسَلَ لِلْعَالَمِينَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ ۗ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَعَنِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِينَ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِ التَّابِعِينَ وَتَابِعِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
الّٰلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. الّٰلهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْلاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. الّٰلهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِنَا. الّٰلهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. الّٰلهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلىَ الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. الّٰلهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Untuk mendownload Naskah Khutbah Jumat versi PDF:
Demikian Khutbah Jumat tentang Cara Mencintai Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat. (*)