RADARBONANG.ID – Senin (8/12) sore jadi momen yang tak akan mudah dilupakan warga Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.
Hujan deras yang turun sejak sekitar pukul 15.00 tiba-tiba berubah menjadi teror ketika angin berputar kencang menyapu permukiman. Dalam hitungan menit, putingbeliung menerjang dan meninggalkan jejak kerusakan luas.
Atap-atap rumah beterbangan, pepohonan tumbang, dan bangunan tak berdaya menahan hentakan angin.
Data sementara pemerintah desa mencatat sedikitnya 50 rumah warga mengalami kerusakan, dari kategori ringan hingga berat. Dampak tak hanya menyasar rumah tinggal.
Atap balai desa juga tak luput—gentengnya banyak yang copot.
Lima rumah warga tercatat mengalami kerusakan paling parah hingga roboh. Pemandangan puing dan rangka rumah yang tersisa menjadi penanda betapa singkat namun destruktifnya bencana ini.
Kepala Desa Tegalagung, Sutomo, menggambarkan detik-detik kejadian dengan jelas.
“Saat angin putingbeliung datang warga melihat ada angin yang berputar seperti tornado, kemudian menerjang wilayah pemukiman warga. Rumah yang dilewati angin tersebut pun langsung mengalami rusak,” ujarnya.
Sutomomenegaskan pendataan masih berlangsung. “Kerusakannya parah dan ini kami di lapangan masih terus mendata, karena ini sebenarnya lebih dari 50 rumah yang rusak,” kata purnawirawan TNI AD itu.
Bencana Paling Parah di Tegalagung
Menurut Sutomo, peristiwa ini menjadi bencana angin paling parah yang pernah dialami desanya.
Terjangan yang berlangsung hanya beberapa menit itu cukup untuk merusak puluhan rumah sekaligus—sebuah lonceng keras soal kerentanan wilayah terhadap cuaca ekstrem.
Di balik kerusakan fisik, kabar baiknya tidak ada korban luka. Warga yang terdampak sementara mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat terdekat yang kondisinya relatif aman. Semangat gotong royong langsung menyala.
“Kami warga saling bahu membahu membantu warga yang rumahnya rusak apalagi yang roboh untuk ditampung sementara,” imbuh Sutomo.
Berharap Bantuan Perbaikan Rumah
Pemerintah desa kini memprioritaskan pendataan lanjutan untuk dilaporkan ke pemerintah daerah.
Harapan besar disematkan pada bantuan perbaikan rumah mengingat estimasi kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Putingbeliung ini bukan sekadar peristiwa cuaca. Ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya kesiapsiagaan, respons cepat, dan dukungan berkelanjutan bagi warga yang berada di garis depan bencana.
Selain Tegalagung, angin putingbeliung juga terjadi di Desa Penambangan dan mengakibatkan banyak bangunan mengalami kerusakan. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah