Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Di Balik Sunyi Terminal Jatirogo, Ada Kisah Hidup yang Terus Bertahan karena Tidak Ada Pilihan

Andreyan (An) • Selasa, 30 September 2025 | 00:50 WIB
Surati, salah satu pemilik warung makan yang masih buka di Terminal Jatirogo di tengah sepinya penumpang angkutan umum.
Surati, salah satu pemilik warung makan yang masih buka di Terminal Jatirogo di tengah sepinya penumpang angkutan umum.

RADARBONANG.ID - Terminal Jatirogo, Kecamatan Jatirogo, Tuban, memang kian sepi dan nyaris kehilangan fungsi sebagai terminal tipe C.

Namun, di balik sunyinya suasana, masih ada masyarakat yang menggantungkan hidup di sana.

Salah satunya adalah Surati, pedagang nasi yang sejak 1996 setia berjualan di dalam terminal.

‘’Tak ada pilihan lain selain berjualan di sini, meskipun (pendapatannya, Red) tidak menentu,’’ ujar wanita paruh baya itu kepada wartawan.

Baginya, Terminal Jatirogo sudah seperti rumah kedua. Dari warung sederhana di terminal, dia membesarkan anak-anak dan menghidupi keluarganya.

Jika dulu pembeli datang dari para penumpang bus yang singgah, kini dagangannya hanya diminati warga sekitar.

Dari belasan ruko yang dulu ramai, kini hanya tersisa Surati dan dua pedagang lain yang bertahan.

Bahkan rukonya sempat ambruk diterjang angin. Meski harus berjualan di emperan dekat puing-puing, ia tetap memilih bertahan.

‘’Saya kira bakal segera diperbaiki, tapi sampai sekarang belum ada informasi apa-apa,’’ ucapnya.

Tak hanya pedagang, nasib serupa dialami para tukang ojek. Warno, misalnya, dulunya mangkal di dalam terminal.

Namun karena sepi penumpang, dia terpaksa pindah ke pinggir jalan raya, dekat lampu merah dan pasar.

‘’Sudah lama tidak mangkal di terminal lagi soalnya sepi, sekarang mangkal dekat lampu merah dan pasar,’’ ungkap pria asal Desa Wotsogo itu.

Warno menilai, jika tak ada langkah penyelamatan, Terminal Jatirogo dikhawatirkan akan jadi aset pemerintah yang terbengkalai.

‘’Sayang sekali jika nantinya menjadi bangunan mangkrak, seharusnya ada solusi dari pemerintah. Apalagi banyak masyarakat yang bergantung di sana (Terminal Jatirogo, Red),’’ pungkasnya.

Kini, terminal yang pernah ramai dengan puluhan bus setiap harinya itu hanya menyisakan kisah perjuangan orang-orang kecil yang masih berusaha bertahan hidup.

Bagi mereka, terminal bukan sekadar bangunan sepi, tapi ladang penghidupan yang tak bisa begitu saja ditinggalkan. (*)

Editor : Amin Fauzie
#pedagang nasi #sepi #Tipe c #tukang ojek #Terminal Jatirogo #tuban