Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Lewak Tapo: Tradisi Pembelahan Kelapa untuk Mencari Kebenaran Kematian di Adonara

Muhammad Azlan Syah • Minggu, 9 November 2025 | 18:15 WIB
Molan, atau dukun tradisional ketika melakukan prosesi membelah kelapa. Dalam hal ini, molan akan memilih sebuah kelapa khusus dari yang tumbuh di tanah adat atau milik keluarga yang bersangkutan
Molan, atau dukun tradisional ketika melakukan prosesi membelah kelapa. Dalam hal ini, molan akan memilih sebuah kelapa khusus dari yang tumbuh di tanah adat atau milik keluarga yang bersangkutan

RADARBONANG.ID – Di tengah modernisasi yang kian cepat, masyarakat etnik Lamaholot di Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, tetap memegang teguh warisan leluhur mereka.

Salah satu tradisi sakral yang masih dijaga hingga kini adalah Lewak Tapo, sebuah ritual unik yang melibatkan pembelahan buah kelapa untuk mencari tahu penyebab kematian yang dianggap tidak wajar.

Dalam tradisi ini, kelapa bukan sekadar buah yang memiliki nilai ekonomi, tetapi simbol kehidupan, kebenaran, dan keterhubungan manusia dengan dunia roh.

Baca Juga: Scroll Sejam, Dapet Apa? Bahaya di Balik Kecanduan Konten Cepat yang Bikin Otak Lelah

Lewak Tapo dilakukan saat ada kematian yang menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat—misalnya meninggal mendadak, sakit yang tak kunjung sembuh, atau peristiwa yang dianggap melanggar keseimbangan adat.

Ritual Penuh Makna dan Ketelitian

Ritual Lewak Tapo dipimpin oleh seorang molan, yaitu dukun tradisional yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual untuk membaca tanda-tanda dari dunia tak kasatmata.

Dalam prosesi ini, molan akan memilih sebuah kelapa khusus, biasanya dari pohon yang tumbuh di tanah adat atau milik keluarga yang bersangkutan.

Kelapa tersebut kemudian dibelah dengan hati-hati, menggunakan parang atau pisau adat, sambil disertai doa dan mantra. Cara belahnya menjadi inti dari tradisi ini.

Jika kelapa terbelah rapi dan simetris, masyarakat menafsirkan bahwa kematian itu murni karena faktor alamiah—misalnya sakit atau usia tua.

Dalam kepercayaan Lamaholot, hal ini berarti tidak ada gangguan dari kekuatan jahat, pelanggaran adat, atau kutukan.

Namun, jika belahan kelapa tampak tidak rapi, pecah miring, atau memperlihatkan bentuk aneh, hasilnya bisa dianggap pertanda adanya ketidakseimbangan spiritual.

Molan akan menafsirkan tanda-tanda tersebut untuk menentukan apakah penyebab kematian berkaitan dengan pelanggaran adat, kutukan leluhur, atau perbuatan manusia lain.

Hubungan Manusia, Leluhur, dan Alam

Tradisi Lewak Tapo mencerminkan pandangan dunia masyarakat Lamaholot yang menempatkan kehidupan manusia dalam jalinan hubungan erat antara manusia, leluhur, dan Tuhan, yang dalam bahasa setempat disebut Lera Wulan–Tana Ekan.

Bagi mereka, setiap peristiwa besar—terutama kematian—bukan sekadar urusan duniawi, tetapi juga pertanda dari alam roh.

Karena itu, setiap langkah dalam ritual dilakukan dengan penuh hormat dan kehati-hatian agar tidak menyinggung kekuatan gaib yang diyakini hadir di sekeliling mereka.

Lewak Tapo bukan sekadar cara mencari jawaban, melainkan juga ritual penyembuhan sosial.

Setelah hasil pembelahan diumumkan, keluarga dan warga desa biasanya berkumpul untuk melakukan ritual perdamaian dan doa bersama agar arwah yang meninggal bisa tenang, dan harmoni sosial kembali terjaga.

Baca Juga: Segelas Jus Mangga Setiap Hari, Tubuh Auto Sehat dan Glowing! Tapi Hati-Hati, Jangan Salah Cara Membuatnya

Simbol Kearifan Lokal yang Bertahan

Meski sebagian generasi muda mulai mengenal dunia modern, tradisi ini masih dijalankan di sejumlah kampung di Adonara dan Flores Timur.

Banyak yang percaya bahwa Lewak Tapo merupakan penanda identitas budaya Lamaholot, yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara akal, kepercayaan, dan rasa hormat terhadap alam.

Bagi antropolog dan pemerhati budaya, praktik ini menjadi cermin kearifan lokal yang mendalam. Di balik kesan mistisnya, Lewak Tapo sesungguhnya mengajarkan nilai kejujuran, introspeksi, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Dalam dunia yang serba cepat dan rasional, masyarakat Lamaholot tetap membuktikan bahwa pengetahuan tradisional punya tempat penting sebagai penyeimbang spiritual.

Tradisi Lewak Tapo bukan hanya tentang membelah kelapa, tetapi tentang membaca tanda-tanda kehidupan—dan bagaimana manusia menjaga hubungan suci dengan leluhur serta semesta.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#pulau Adonara #ritual pembelahan kelapa #budaya NTT #tradisi Lamaholot #Lewak Tapo