RADARBONANG.ID - Ketika mendengar istilah weton, pasaran, atau nama-nama hari seperti Legi dan Kliwon, sebagian dari kita mungkin langsung teringat hal-hal mistis atau ramalan nasib.
Padahal, sistem penanggalan Jawa, termasuk lima hari pasaran, bukanlah sekadar perkara klenik.
Yuk, kita bahas asal-usulnya yang ternyata kaya akan sejarah dan filosofi!
Asal-Usul Kalender Jawa
Sistem kalender Jawa mulai digunakan secara resmi oleh Kesultanan Mataram.
Saat itu, kerajaan ini menggabungkan dua kalender: kalender Masehi untuk keperluan administrasi dan kalender Jawa untuk keperluan adat serta upacara.
Yang membuat kalender Jawa unik adalah adanya lima hari pasaran tambahan di samping tujuh hari dalam kalender Masehi: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Nama-nama hari pasaran ini berasal dari tokoh leluhur yang diyakini, yaitu Batara Legi, Batara Pahing, Batara Pon, Batara Wage, dan Batara Kliwon.
Jadi, jangan heran jika hari-hari pasaran memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hari biasa.
Fungsi Pasaran: Dari Pasar hingga Filosofi Hidup
Sejak zaman dulu, lima hari pasaran ini menjadi pedoman bagi para pedagang untuk membuka pasar.
Tidak heran jika kita sering mendengar nama pasar seperti Pasar Kliwon atau Pasar Legi.
Fungsinya tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.
Hari-hari pasaran ini juga memiliki filosofi tersendiri:
- Kliwon (Kasih): Melambangkan jumeneng (berdiri).
- Legi (Manis): Melambangkan mungkur (berbalik arah).
- Pahing (Jenar): Melambangkan madep (menghadap).
- Pon (Palguna): Melambangkan sare (tidur).
- Wage (Cemengan): Melambangkan lengah (duduk).
Siklus ini mengajarkan keseimbangan hidup, seperti kapan harus berdiri tegak, kapan beristirahat, dan kapan melihat ke belakang untuk refleksi diri.
Tradisi Wetonan dan Filosofi Kehidupan
Wetonan adalah peringatan hari lahir seseorang berdasarkan kalender Jawa.
Biasanya, wetonan pertama diperingati 35 hari setelah bayi lahir dengan upacara nyelapani.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga pengingat akan siklus hidup yang terus berputar.
Bukan Klenik, tetapi Warisan Budaya
Jika masih ada yang menganggap hari pasaran Jawa hanya terkait dengan hal-hal mistis, mereka perlu mengetahui bahwa ini adalah bagian dari sejarah dan budaya yang kaya.
Selain membantu menjaga ritme hidup, hari-hari pasaran juga menunjukkan betapa bijaknya nenek moyang kita dalam memaknai waktu.
Kalau sempat, coba cek weton Anda. Siapa tahu ada cerita menarik yang dapat membantu kita lebih memahami diri sendiri. (*)