Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bubur Suro, Takjil Khas Ramadhan di Kampung Arab Tuban. Pembuat di Halaman Masjid Astana Perempuan Pribumi

Dwi Setiyawan • Senin, 15 Januari 2024 | 17:00 WIB
Pembuat bubur suro di halaman Masjid Muhdlor, Jalan Pemuda, Tuban, Jawa Timur.
Pembuat bubur suro di halaman Masjid Muhdlor, Jalan Pemuda, Tuban, Jawa Timur.

TUBAN-Di halaman Masjid Muhdlor di Jalan Pemuda, Tuban, Jawa Timur, Habib Salim al Hamid, mempelopori pembuatan bubur suro pertama kali pada 1948.
 
Sekitar 30 tahun kemudian, atau era 1980-an, Masjid Muhdlor Tuban sempat kewalahan melayani warga yang mengantre bubur suro.

Karena itulah, keluarga Habib Salim al Hamid memutuskan untuk membuat bubur yang sama di halaman Masjid Astana, kompleks makam Sunan Bonang.

Tak hanya menggagas, keluarga  keturunan Hadramaut, salah satu daerah di Yaman itu juga membiayai pembuatan bubur suro di halaman masjid tersebut.

Bubur suro yang dimasak di halaman Masjid Astana tak sebanyak di Masjid Muhdlor.

Dengan berbagai wadah, warga mengantre bubur sura di Masjid Astana Tuban, kompleks makam Sunan Bonang.
Dengan berbagai wadah, warga mengantre bubur sura di Masjid Astana Tuban, kompleks makam Sunan Bonang.

Sekali masak hanya menghabiskan sekitar 15 kg besar. Jumlah tersebut kurang dari separo dari Muhdlor yang mencapai 32 kg.

Aroma dan rasa bubur suro yang dibuat di dua halaman masjid tersebut hampir sama. Itu karena cara membuatnya pun sama.

Begitu juga bahan yang digunakan, beras, santan, balungan sapi, dan bumbu gule. Seluruhnya disiapkan keturunan keluarga Habib Salim al Hamid.

Bedanya, pemasak bubur suro di Astana adalah perempuan pribumi, bukan keturuan Arab, seperti di halaman Masjid Muhdlor.

Setelah Habib Salim al Hamid meninggal dunia, pembiayaan pembuatan bubur suro dilanjutkan Habib Ali al Kaf, salah satu keponakan Habib Salim.

Khusus yang meracik dan pengaduk pembuatan bubur suro di Masjid Muhdlor, semua mempertahankan keturunan Hadramaut.

Peracik pertama bumbu bubur suro adalah Bupah Gamar al Kaf yang masih kerabat dekat Habib Salim.

Kini, penerus peracik bumbu Ipah al Kaf, anak kandung Bupah Gamar al Kaf. Pengaduk bubur sekaligus pembaginya juga keturunannya.

Diwawancarai pada 13 Juni 2013, Abdurahman Basreh, salah satu mantan pengaduk bubur mengatakan, dia mengaduk bubur pada 1980-1998.

‘’Saya meneruskan Basreh, orang tua saya,’’ tutur dia.

Di masa Basreh, pengaduk lainnya adalah Umar Blusi. Mereka meneruskan kepada anak-anaknya setelah merasa fisiknya tak mampu.

Mengaduk bubur membutuhkan stamina yang prima. Itu karena lama mengaduknya selama tiga jam nonstop, mulai sehabis sholat Dhuhur sekitar pukul 13.00.

Kuliner takjil Ramadhan ini identik dengan masakan Arab. Itu bisa dilihat dari bahan yang digunakan.

Bahan utama makanan ini adalah beras. Untuk pelezat dan kaldunya bumbu gule, santan, balungan sapi, dan aneka rempah.

Memasaknya pun harus menggunakan kuali berukuran besar berbahan kuningan.

Perapian tungku di halaman Masjid Astana hingga kini masih mempertahankan kayu bakar.

Sementara di Masjid Muhdlor sekarang ini menggunakan perapian LPG. (*)

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#Takjil Khas Ramadhan #Masjid Muhdlor #Masjid Astana #Bubur Suro #habib salim