TUBAN-Menabuh lesung dalam tradisi Jawa untuk mitoni atau menyambut bulan ketujuh untuk kehamilan anak pertama termasuk yang dijalani warga keturunan Arab di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Salah satu keturunan Arab yang menjaga tradisi Jawa ini adalah Habib Salim Asegaf.
Keluarga ini menggelar tradisi Jawa tabuh lesung pada 15 Desember 2013. Tradisi menabuh lesung tersebut berlangsung di rumah salah satu tokoh keturunan Arab tersebut di Jalan Pemuda.
Suara lesung yang ditabuh terdengar jauh hingga puluhan meter.
Sekilas, bunyi yang yang rampak tersebut mirip musik patrol yang ditabuh untuk membangunkan orang sahur pada puasa Ramadan.
Tradisi menabuh lesung sudah dilakukan keluarga ini sejak 2000 untuk mitoni putri-putrinya.
Pada hari itu, keluarga Habib Salim tengah memperingati tujuh bulan kehamilan pertama putri ragilnya, Aisyah Kumairoh.
Lesung tersebut ditabuh selama sepekan. Dimulai 15 Desember dan baru berakhir 22 Desember.
Menabuh alat penumbuk tradisional pada masyarakat Jawa ini adalah prosesi awal mitoni.
Setelah tetabuhan ini berakhir, acara dilanjutkan dengan siraman, pecah telur, pecah kelapa, hingga rujak sepet.
Wardah, anak kedua Habib Salim mengatakan, tradisi tersebut dijalankan keluarga Soraya, ibu kandungnya secara turun-temurun.
Soraya yang kelahiran Desa Maibit, Kecamatan Rengel mengklaim bertrah darah biru.
Sebagai generasi penerus, kata dia, keluarganya punya tanggung jawab moral untuk meneruskan tradisi yang mulai ditinggalkan sebagian besar masyarakat Jawa tersebut.
Keluarga Habib Salim memulai menabuh lesung sejak 2000. Persisnya, saat sulung Habib Salim hamil pertama. Dia bernama Yasmin. Prosesi yang sama dihelat pada kehamilan pertama Wardah.
Wardah mengaku keluarganya tak punya lesung. Penumbuk tradisional yang selama ini ditabuh didapat dari menyewa.
Untuk menabuh lesung selama sepekan nonstop, keluarga saudagar ini tidak mungkin hanya berharap dari anggota kerabatnya.
Karena itulah, Habib Salim mendatangkan empat orang perempuan yang diupah harian. Aktivitasnya hanya menabuh lesung yang ditempatkan di garasi rumah.
Meski sudah ada penabuh tetap, anggota keluarga ini tetap bergantian ikut menabuh. Sekali waktu, Wardah dan ibunya ikut menabuh.
Saat waktu longgar, khususnya malam hari, sejumlah pria tetangga Habib Salim berdatangan dan ikut menabuh.
Habib Salim menambahkan, di balik pelestarian tradisi Jawa tabuh lesung, ada makna simbolik. Makna tersebut adalah harapan agar prosesi kelahiran diberikan kelancaran dan selamat. (*)