Berawal dari Kebutuhan Warga, Puja Mandala Kini Jadi Contoh Keberagaman dan Toleransi di Indonesia

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:18 WIB
Lima rumah ibadah dari agama berbeda berdiri berdampingan di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. Kompleks ini bukan hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dengan sikap saling menghormati. (instagram.com/garudainfrastructure)
Lima rumah ibadah dari agama berbeda berdiri berdampingan di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali. Kompleks ini bukan hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dengan sikap saling menghormati. (instagram.com/garudainfrastructure)

RADARBONANG.ID – Indonesia memiliki beragam contoh kehidupan masyarakat yang berbeda agama, tetapi tetap dapat hidup berdampingan.

Salah satunya terlihat di Puja Mandala, sebuah kompleks peribadatan di kawasan Nusa Dua, Bali, yang menaungi lima rumah ibadah dari agama berbeda dalam satu area.

Di kompleks ini, masjid, gereja Katolik, gereja Protestan, vihara, dan pura berdiri berdekatan.

Keberadaannya menjadi gambaran bagaimana kebutuhan beribadah dari masyarakat dengan latar belakang keyakinan berbeda dapat difasilitasi dalam satu kawasan.

Puja Mandala berada di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Baca Juga: Lubang Hitam Seukuran Jeruk Bali Diduga Bisa Ungkap Misteri Planet Sembilan

Lokasinya berada di kawasan pariwisata Nusa Dua yang menjadi tempat tinggal dan aktivitas masyarakat dari berbagai latar belakang.

Nama Puja Mandala berasal dari kata puja yang berarti pemujaan atau ibadah, serta mandala yang berarti kawasan atau wilayah.

Nama tersebut menggambarkan fungsi kompleks ini sebagai pusat peribadatan bagi umat dari lima agama.

Berawal dari Kebutuhan Tempat Ibadah

Gagasan pendirian Puja Mandala berawal dari kebutuhan masyarakat Muslim yang tinggal dan bekerja di kawasan Nusa Dua.

Saat itu, warga harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer menuju Kuta untuk mencapai masjid terdekat.

Kondisi tersebut mendorong munculnya gagasan untuk menyediakan tempat ibadah yang lebih mudah dijangkau.

Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave, kemudian mengusulkan pembangunan kompleks peribadatan yang dapat digunakan oleh umat dari lima agama.

Gagasan tersebut mendapat dukungan pemerintah dan tokoh masyarakat setempat.

PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC), yang kini dikenal sebagai Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), menyediakan lahan untuk pembangunan kompleks tersebut.

Pembangunan dimulai pada 1994 dan kompleks ini diresmikan pada 22 Desember 1997 oleh Menteri Agama Tarmizi Thaher bersama Gubernur Bali Ida Bagus Oka.

Meski demikian, penyelesaian seluruh rumah ibadah berlangsung secara bertahap hingga tahun-tahun berikutnya. 

Lima Rumah Ibadah Berdiri Berdampingan

Keunikan utama Puja Mandala terletak pada keberadaan lima rumah ibadah dalam satu kompleks.

Setiap bangunan memiliki identitas, fungsi, dan ciri arsitektur masing-masing.

1. Masjid Agung Ibnu Batutah

Masjid ini menjadi tempat ibadah umat Islam di kompleks Puja Mandala.

Bangunannya memiliki ciri arsitektur masjid dengan kubah dan ruang yang digunakan untuk kegiatan peribadatan.

Keberadaan masjid ini juga berkaitan dengan gagasan awal pendirian kompleks, yakni memudahkan masyarakat Muslim di kawasan Nusa Dua untuk menjalankan ibadah.

2. Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa

Gereja ini menjadi tempat ibadah umat Katolik.

Arsitekturnya memadukan unsur bangunan modern dengan sentuhan ornamen Bali, termasuk pada bagian menara lonceng.

3. Vihara Buddha Guna

Vihara Buddha Guna merupakan tempat ibadah umat Buddha.

Bangunannya memiliki ornamen khas, termasuk patung gajah putih dan detail dekoratif bernuansa keemasan.

4. Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Bukit Doa

Gereja ini melayani umat Kristen Protestan.

Bangunannya memiliki karakter arsitektur tersendiri dengan sejumlah unsur dekoratif yang terinspirasi dari budaya Bali.

5. Pura Jagatnatha

Pura Jagatnatha menjadi tempat ibadah umat Hindu.

Bangunannya menampilkan karakter arsitektur pura Bali dengan gerbang dan ornamen khas yang memperlihatkan kekayaan seni tradisional setempat.

Kelima rumah ibadah tersebut memperlihatkan bahwa satu kawasan dapat menampung kebutuhan peribadatan yang berbeda tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing agama.

Toleransi Terlihat dari Ruang yang Digunakan Bersama

Puja Mandala tidak hanya menarik perhatian karena lima rumah ibadahnya berdiri dalam satu kompleks.

Kawasan ini juga menunjukkan bagaimana ruang bersama dapat digunakan oleh masyarakat dengan latar belakang keyakinan berbeda.

Area parkir menjadi salah satu fasilitas yang digunakan bersama oleh pengunjung dan jemaah.

Aktivitas di kompleks tersebut membuat orang dari berbagai kelompok agama berada dalam satu lingkungan, terutama ketika menjalankan kegiatan peribadatan masing-masing.

Meski berbagi kawasan, setiap rumah ibadah tetap memiliki fungsi dan aturan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaannya.

Penggunaan ruang bersama membutuhkan sikap saling menghormati agar aktivitas setiap kelompok dapat berlangsung dengan baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, toleransi tidak hanya diwujudkan melalui keberadaan bangunan yang berdekatan.

Sikap menghargai waktu ibadah, menjaga ketertiban, dan tidak mengganggu kegiatan kelompok lain juga menjadi bagian penting dari kehidupan berdampingan.

Puja Mandala memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menggunakan ruang bersama secara tertib dan saling menghormati.

Menjadi Pengingat tentang Keberagaman Indonesia

Selain berfungsi sebagai pusat peribadatan, Puja Mandala dikenal sebagai salah satu lokasi yang memperlihatkan keberagaman kehidupan beragama di Indonesia.

Keberadaannya juga menarik perhatian wisatawan yang ingin mengenal arsitektur rumah ibadah dan praktik toleransi di kawasan Nusa Dua. 

Namun, nilai penting Puja Mandala tidak hanya terletak pada daya tarik visual lima bangunan yang berdampingan.

Kompleks ini juga mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat yang beragam membutuhkan ruang, kesempatan, dan penghormatan yang setara.

Toleransi tidak cukup hanya ditampilkan melalui simbol atau slogan.

Baca Juga: Masa Depan Itu Penting, Tapi Jangan Sampai Terlalu Sibuk Menyiapkan Hidup hingga Lupa Menikmatinya

Nilainya perlu hadir dalam tindakan sehari-hari, seperti menghargai perbedaan, menjaga ketertiban, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Puja Mandala menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan peribadatan yang berbeda dapat difasilitasi dalam satu kawasan.

Sejarah pendiriannya juga menunjukkan bahwa gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, kemudian berkembang menjadi ruang bersama bagi umat dari lima agama.

Di tengah keberagaman Indonesia, keberadaan Puja Mandala menjadi pengingat bahwa perbedaan tidak selalu harus memisahkan.

Dengan pengelolaan ruang yang baik dan sikap saling menghormati, masyarakat dapat menjalankan aktivitas masing-masing sambil tetap hidup berdampingan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
Puja Mandala toleransi agama rumah ibadah Nusa Dua keberagaman Indonesia