RADARBONANG.ID – Gua Son Doong di Vietnam menyimpan lanskap alam yang tidak biasa. Di dalam rongga bawah tanah raksasa ini, terdapat aliran sungai, vegetasi menyerupai hutan tropis, hingga kabut yang terbentuk akibat perbedaan kondisi udara.
Gua yang dikenal sebagai gua alam terbesar di dunia berdasarkan volume tersebut diperkirakan memiliki kapasitas sekitar 38,5 juta meter kubik.
Son Doong berada di kawasan Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang dan membentang hampir 9 kilometer.
Baca Juga: Bukan Cuma Menikmati Pantai, Wisatawan Bisa Mencoba Terapi Garam di Pantai Jetis Purworejo
Keunikan gua ini tidak hanya terletak pada ukurannya.
Proses geologi selama jutaan tahun membentuk lorong batu kapur yang sangat luas, sementara runtuhan sebagian atap menciptakan bukaan yang memungkinkan sinar matahari masuk ke bagian dalam.
Kombinasi kondisi tersebut menghasilkan lingkungan yang berbeda dari kebanyakan gua, sekaligus menjadikan Son Doong objek menarik bagi penelitian geologi dan ekosistem.
Lorong Raksasa dengan Hutan dan Sungai Bawah Tanah
Son Doong ditemukan oleh warga setempat bernama Ho Khanh pada 1990.
Gua ini kemudian dieksplorasi secara resmi oleh tim ekspedisi Inggris-Vietnam pada 2009.
Di sejumlah titik, lorongnya memiliki ketinggian sekitar 200 meter dan lebar hingga 150 meter.
Ruang sebesar itu memungkinkan terbentuknya bentang alam yang mencakup sungai bawah tanah dan formasi batu kapur berukuran raksasa.
Salah satu ciri khasnya adalah dua lubang runtuhan atap yang dikenal sebagai doline.
Bukaan tersebut memungkinkan cahaya matahari mencapai bagian dalam gua sehingga pepohonan dan vegetasi dapat tumbuh di area yang memperoleh cukup cahaya.
Keberadaan tumbuhan turut membentuk habitat bagi berbagai organisme yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat.
Dengan demikian, sebagian area Son Doong tidak hanya menjadi ruang kosong di bawah tanah, tetapi juga memiliki unsur ekosistem yang dipengaruhi cahaya, air, suhu, dan kelembapan.
Proses terbentuknya gua ini berawal dari pelarutan batu kapur oleh air selama jutaan tahun.
Seiring waktu, proses geologi dan runtuhan sebagian atap menghasilkan lorong serta bukaan yang membentuk lanskap khas Son Doong.
Perbedaan Suhu Memunculkan Kabut di Dalam Gua
Selain hutan dan sungai bawah tanah, fenomena kabut menjadi daya tarik lain Son Doong.
Dalam video dokumenter kanal YouTube Ruhi Cenet Documentaries, kondisi tersebut dikaitkan dengan perbedaan suhu antara udara di luar dan di dalam gua.
“Perbedaan suhu antara bagian luar dan bagian dalam gua membentuk kabut dan awan di dalam gua,” urai narasi dalam tayangan video tersebut.
Secara umum, kabut terbentuk ketika uap air di udara mengalami kondensasi menjadi butiran air kecil yang melayang.
Perbedaan suhu dan kelembapan di dalam rongga gua dapat mendukung terbentuknya fenomena tersebut dalam kondisi tertentu.
Kabut yang menyelimuti pepohonan dan dinding batu menciptakan pemandangan khas, terutama ketika cahaya matahari masuk melalui bukaan atap.
Perpaduan antara pencahayaan, kelembapan, dan ruang gua yang luas membuat lanskap Son Doong tampak berbeda dari lingkungan bawah tanah pada umumnya.
Meski memiliki daya tarik wisata, ekosistem Son Doong tetap rentan terhadap gangguan. Karena itu, kegiatan ekspedisi di kawasan tersebut diatur secara ketat.
Pengunjung harus melewati jalur hutan, menyeberangi sungai, dan menghadapi medan berbatu dengan pendampingan tim ekspedisi.
Keberadaan hutan, sungai, dan kabut dalam satu sistem gua menunjukkan bagaimana proses geologi dapat membentuk lingkungan yang unik.
Son Doong pun menjadi kawasan yang menarik untuk dipelajari sekaligus perlu dijaga kelestariannya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari