RADARBONANG.ID – Berwisata ke pantai biasanya identik dengan menikmati pemandangan laut, bermain pasir, atau berburu kuliner di sekitar pesisir.
Namun, Pantai Jetis di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menawarkan pengalaman berbeda melalui wisata terapi garam yang dikelola masyarakat setempat.
Destinasi ini menghadirkan ruang berbentuk terowongan atau tunnel yang digunakan untuk aktivitas terapi garam.
Pengunjung bisa merasakan sensasi berada di ruang panas menyerupai sauna, sekaligus mengenal potensi garam yang diproduksi oleh warga pesisir.
Wisata tersebut dikelola Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo.
Inovasi ini menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang berbeda dari aktivitas pantai pada umumnya.
Baca Juga: Kayu Manis Bukan Sekadar Bumbu Dapur, Ini Potensi Manfaatnya bagi Kesehatan
Berawal dari Produksi Garam Rakyat
Keberadaan wisata terapi garam tidak terlepas dari aktivitas masyarakat di sekitar Pantai Jetis yang memproduksi garam.
Menurut laporan Inibaru.id pada Agustus 2024, Kugar Pendowo Limo awalnya berfokus pada produksi garam konsumsi.
Kelompok tersebut kemudian mengembangkan garam untuk kebutuhan terapi sejak akhir 2019.
Ketua Kugar Pendowo Limo, Marsino, menjelaskan bahwa garam yang diproduksi memiliki kadar natrium klorida atau NaCl mencapai 97,49 persen.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu pertimbangan kelompok dalam mengembangkan produk garam untuk aktivitas terapi.
Seiring waktu, fasilitas terapi garam mulai menarik minat pengunjung.
Jumlah ruang berbentuk terowongan yang disediakan pun bertambah untuk mengakomodasi pengunjung yang ingin mencoba pengalaman tersebut.
Inovasi ini memperlihatkan bagaimana kegiatan produksi garam dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas wisata.
Masyarakat tidak hanya menjual hasil produksi, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang dapat dinikmati pengunjung.
Sensasi Terapi Garam di Dalam Tunnel
Salah satu daya tarik utama wisata ini adalah ruang terapi berbentuk terowongan yang terpapar sinar matahari.
Kondisi tersebut membuat suhu di dalamnya terasa panas, sehingga pengunjung dapat merasakan sensasi menyerupai sauna.
Laporan Inibaru.id pada 2024 menyebut fasilitas tersebut memiliki terowongan dengan panjang sekitar 19 meter dan lebar 3,5 meter.
Saat itu, jumlahnya dilaporkan mencapai 38 terowongan dengan kapasitas sekitar 20 orang untuk setiap ruang.
Pengunjung dianjurkan mengikuti arahan pengelola sebelum memasuki ruang terapi.
Durasi berada di dalam terowongan juga perlu dibatasi agar tubuh tidak mengalami kepanasan atau kekurangan cairan.
Dalam laporan tersebut, pengelola menyarankan durasi sekitar 15 menit.
Pengunjung juga disarankan memperhatikan kondisi tubuh dan segera keluar apabila merasa pusing, lemas, atau tidak nyaman.
Meski kerap disebut terapi, manfaat medis dari metode tersebut tidak boleh dianggap sebagai pengganti pemeriksaan maupun pengobatan dokter.
Klaim mengenai kemampuan menyembuhkan penyakit memerlukan bukti ilmiah yang memadai.
Mengapa Wisata Terapi Garam Menarik Perhatian?
Daya tarik wisata ini bukan hanya terletak pada pengalaman berada di ruang panas.
Terapi garam juga menjadi bagian dari upaya masyarakat memperkenalkan potensi produksi garam lokal kepada pengunjung.
Wisatawan bisa mengenal proses pengembangan produk garam sekaligus melihat bagaimana komoditas yang selama ini identik dengan kebutuhan dapur dapat memiliki nilai tambah melalui inovasi.
Bagi kawasan pesisir, pengembangan atraksi wisata seperti ini juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Aktivitas wisata dapat mendukung usaha lokal apabila dikelola dengan baik dan melibatkan warga sekitar.
Meski demikian, perkembangan wisata tetap perlu memperhatikan keselamatan pengunjung, kebersihan fasilitas, serta informasi yang akurat mengenai manfaat dan risiko aktivitas terapi.
Lokasi Pantai Jetis di Purworejo
Pantai Jetis yang memiliki fasilitas terapi garam tersebut berada di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Kawasan pantai ini dikenal dengan pasir berwarna hitam dan panorama pesisir selatan.
Pengunjung juga dapat menikmati suasana pantai serta menjumpai berbagai aktivitas wisata lain di sekitarnya.
Menurut laporan Inibaru.id pada 2024, fasilitas terapi garam saat itu beroperasi setiap hari pukul 08.00–14.00 WIB.
Waktu operasional, kapasitas, dan ketentuan kunjungan dapat berubah, sehingga pengunjung sebaiknya memeriksa informasi terbaru sebelum datang.
Untuk menjaga kenyamanan, wisatawan disarankan membawa air minum, mengikuti petunjuk pengelola, dan tidak memaksakan diri berada di ruang panas apabila memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Baca Juga: Bayern Munchen Siapkan Gaji 25 Juta Euro per Tahun untuk Michael Olise, Kontrak hingga 2032 Dibahas
Orang yang memiliki gangguan jantung, tekanan darah yang tidak terkontrol, sedang hamil, atau memiliki kondisi medis lain sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mencoba aktivitas bersuhu tinggi.
Wisata terapi garam di Pantai Jetis menunjukkan bahwa potensi daerah dapat dikembangkan melalui ide kreatif berbasis sumber daya lokal.
Pantai tidak hanya menjadi tempat menikmati pemandangan laut, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan produk dan inovasi yang mereka kembangkan.
Dengan pengelolaan yang memperhatikan keamanan serta informasi kesehatan yang bertanggung jawab, wisata ini dapat menjadi pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih jauh potensi garam rakyat di pesisir Purworejo.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id