RADARBONANG.ID – Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan wisata alam seperti Kawah Ijen atau pesona pantai di ujung timur Pulau Jawa.
Daerah ini juga menyimpan jejak sejarah panjang Kerajaan Blambangan yang pernah menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Jawa bagian timur.
Salah satu tempat yang berkaitan erat dengan sejarah tersebut adalah Pura Agung Blambangan.
Berada di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, pura ini menjadi salah satu tempat penting bagi umat Hindu sekaligus memiliki nilai sejarah dan budaya.
Kerajaan Blambangan dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa.
Kerajaan tersebut bertahan hingga abad ke-18 dan memiliki perjalanan sejarah yang panjang, termasuk hubungan dengan Majapahit, kerajaan-kerajaan di Bali, Mataram, hingga VOC.
Baca Juga: Sering Pakai Messy Bun, Bob, atau Kepang? Ini Interpretasi Gaya Rambut yang Menemani Keseharian
Karena itu, keberadaan Pura Agung Blambangan tidak hanya menarik dari sisi arsitektur.
Tempat ini juga menjadi bagian dari cerita panjang mengenai jejak Hindu di ujung timur Pulau Jawa.
Berada di Kawasan Bersejarah
Pura Agung Blambangan berada di kawasan yang memiliki sejumlah peninggalan sejarah.
Lokasinya dekat dengan situs purbakala Umpak Songo dan kawasan Pelabuhan Ikan Muncar.
Bangunan pura menempati lahan sekitar satu hektare. Pura tersebut diresmikan pada 28 Juni 1980, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.
Dalam perkembangannya, Pura Agung Blambangan menjadi salah satu tempat ibadah penting bagi umat Hindu di Banyuwangi.
Pura ini juga menggunakan konsep Tri Mandala yang membagi kawasan menjadi Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.
Pembagian tersebut membuat kompleks pura tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menarik untuk dilihat dari sisi tata ruang dan arsitekturnya.
Bagi wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan budaya, keberadaan pura ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata alam Banyuwangi.
Berkaitan dengan Kerajaan Blambangan
Nama Blambangan sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Kerajaan ini disebut memiliki hubungan dengan masa akhir Majapahit dan kemudian berkembang sebagai kerajaan tersendiri di kawasan ujung timur Jawa.
Setelah Majapahit mengalami kemunduran, Blambangan menjadi salah satu kerajaan Hindu yang tetap bertahan di Jawa.
Posisinya yang berada di wilayah timur membuat kerajaan tersebut kemudian berhadapan dengan berbagai kekuatan politik dari barat maupun timur.
Dalam perjalanan sejarahnya, Blambangan pernah berada dalam pengaruh kerajaan-kerajaan Bali.
Pada periode lain, kawasan tersebut juga menjadi sasaran perebutan kekuasaan Mataram dan VOC.
Konflik yang berlangsung selama berabad-abad akhirnya membawa Blambangan menuju keruntuhan.
Pada abad ke-18, VOC berhasil memperkuat pengaruhnya di wilayah tersebut.
Sejarah panjang itulah yang membuat berbagai peninggalan Blambangan memiliki nilai penting.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga mencatat sejarah Blambangan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan terbentuknya Banyuwangi.
Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Pura Agung Blambangan hingga sekarang tetap berfungsi sebagai tempat ibadah.
Karena itu, wisatawan yang datang perlu memahami bahwa kawasan pura merupakan ruang sakral bagi umat Hindu.
Di sisi lain, pura tersebut juga berkembang sebagai salah satu tujuan wisata religi dan budaya.
Penelitian mengenai Pura Agung Blambangan mencatat bahwa tempat ini banyak dikunjungi umat Hindu dari Banyuwangi maupun daerah lain.
Nilai tersebut membuat kunjungan ke pura tidak hanya menawarkan kesempatan melihat bangunan dengan karakter arsitektur khas.
Wisatawan juga dapat mengenal bagaimana tradisi keagamaan dan sejarah lokal tetap hidup hingga sekarang.
Terlebih, Banyuwangi memiliki banyak jejak budaya yang memperlihatkan keberlanjutan tradisi Hindu di wilayah ujung timur Jawa.
Salah satunya dapat ditemukan di Situs Kawitan.
Situs tersebut dipercaya berkaitan dengan peninggalan Kerajaan Blambangan dari sekitar abad ke-14 dan kini berada di kawasan Tegaldlimo.
Di dekatnya juga terdapat Pura Luhur Giri Salaka yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu.
Jejak Sejarah yang Masih Hidup
Menariknya, sejarah Blambangan bukan hanya sesuatu yang tersimpan dalam buku.
Sejumlah tradisi dan tempat ibadah masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga sekarang.
Pura Agung Blambangan menjadi salah satu contohnya.
Ketika hari raya keagamaan berlangsung, kawasan pura dapat dipadati umat Hindu yang datang untuk beribadah.
Pada perayaan Kuningan 2025, misalnya, ribuan umat Hindu memadati Pura Agung Blambangan.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menekankan pentingnya kerukunan dan toleransi antarumat beragama dalam momentum tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai sejarah sebuah tempat tidak selalu berhenti pada bangunan atau benda peninggalan.
Tradisi yang terus dijalankan masyarakat juga menjadi bagian dari warisan budaya.
Pilihan Wisata Sejarah di Banyuwangi
Bagi wisatawan yang selama ini mengenal Banyuwangi melalui destinasi alam, Pura Agung Blambangan bisa menjadi pilihan untuk melihat sisi lain daerah tersebut.
Perjalanan ke kawasan ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah Kerajaan Blambangan sekaligus melihat bagaimana warisan budaya Hindu masih bertahan di ujung timur Pulau Jawa.
Namun, karena merupakan tempat ibadah, wisatawan tetap perlu menjaga sikap selama berada di kawasan pura.
Baca Juga: Bukan Sekadar Debut, Film Perdana Azka Corbuzier Langsung Berkompetisi di Urbanworld New York
Menghormati aktivitas keagamaan, menjaga pakaian, tidak mengganggu umat yang sedang beribadah, serta mengikuti aturan pengelola menjadi hal penting.
Pura Agung Blambangan pada akhirnya bukan hanya tentang bangunan yang indah untuk dikunjungi.
Tempat ini menjadi salah satu pintu untuk memahami sejarah panjang Blambangan, perjalanan Hindu di Jawa, serta keberagaman budaya yang masih hidup di Banyuwangi.
Bagi pencinta wisata sejarah dan budaya, perjalanan ke Banyuwangi pun tidak harus berhenti pada menikmati pemandangan alam.
Menyusuri jejak Blambangan dapat memberikan pengalaman berbeda tentang bagaimana masa lalu tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id