RADARBONANG.ID - Sumber Mata Air Krawak di Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, kini resmi tidak lagi dibuka untuk wisatawan maupun masyarakat umum.
Penutupan tersebut menjadi perhatian karena Krawak selama beberapa tahun terakhir justru semakin dikenal sebagai salah satu wisata alam tersembunyi di Tuban.
Kejernihan air, suasana hutan jati, serta lanskap alam yang masih asri membuat lokasi ini kerap muncul dalam berbagai konten perjalanan dan rekomendasi wisata.
Bahkan, Sumber Air Krawak pernah tercatat sebagai atraksi pariwisata dalam Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (Sisparnas) Kementerian Pariwisata.
Data tersebut mencatat Krawak sebagai kegiatan wisata alam dan wisata tirta yang mulai beroperasi pada 2018.
Baca Juga: Sibuk Bukan Alasan Mengabaikan Kesehatan, Ini Kebiasaan Sederhana yang Bisa Jadi Investasi Diri
Kini, ketika namanya semakin dikenal, masyarakat justru harus menerima kenyataan bahwa lokasi tersebut tidak diperuntukkan lagi sebagai tempat wisata umum.
Hidden Gem yang Makin Dikenal Wisatawan
Krawak memiliki daya tarik yang cukup berbeda dibandingkan sejumlah destinasi wisata Tuban lainnya.
Sumber mata air tersebut berada di tengah kawasan hutan jati Desa Guwoterus.
Airnya dikenal jernih dengan suasana sekitar yang sejuk dan masih alami.
Keindahan tersebut membuat Krawak beberapa kali menjadi objek pemberitaan dan konten wisata.
Media nasional juga pernah mengulasnya sebagai destinasi alam yang menarik untuk dikunjungi.
Bahkan, pada 2026, tayangan perjalanan yang menampilkan aktivitas wisatawan menikmati kejernihan air Krawak kembali beredar.
Tidak mengherankan apabila Krawak kemudian masuk dalam daftar tujuan yang diburu pencinta wisata alam ketika berkunjung ke Tuban.
Namun, popularitas tersebut kini harus berhadapan dengan status kawasan.
Saat Popularitas Krawak Justru Berubah
Bagi wisatawan, Krawak mungkin terlihat seperti tempat pemandian alami yang bisa dikunjungi untuk bermain air, berenang, atau sekadar menikmati suasana hutan.
Akan tetapi, kawasan tersebut sebenarnya berada di dalam hutan lindung.
Kapolsek Montong Iptu Edi Purnomo menjelaskan bahwa kawasan hutan lindung memang tidak diperuntukkan sebagai lokasi wisata.
Karena itu, aktivitas kunjungan wisata di Sumber Mata Air Krawak kini tidak diperbolehkan.
Kondisi tersebut membuat penutupan Krawak terasa cukup kontras.
Di satu sisi, nama Krawak semakin dikenal melalui konten perjalanan dan pemberitaan wisata.
Di sisi lain, status kawasan membuat lokasi tersebut tidak dapat dibuka untuk kunjungan umum.
Bukan Sekadar Tempat Bermain Air
Ada alasan lingkungan yang membuat kawasan Krawak perlu mendapat perhatian lebih dari sekadar kepentingan wisata.
Sumber Mata Air Krawak memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Air dari kawasan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan pertanian.
Krawak juga berkaitan dengan sistem aliran air menuju kawasan Air Terjun Nglirip di Kecamatan Singgahan.
Karena itu, keberadaan hutan di sekitar sumber mata air memiliki fungsi penting dalam menjaga keberlangsungan sumber air.
Kawasan hutan lindung Krawak sendiri tercatat memiliki luas sekitar 112,10 hektare.
Keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan panorama alam, tetapi juga fungsi ekologis kawasan hutan.
Dulu Masuk Peta Wisata Tuban
Menariknya, posisi Krawak sebagai destinasi wisata bukan sekadar muncul dari unggahan media sosial.
Pemerintah Kabupaten Tuban juga pernah memasukkan Sumber Air Krawak dalam daftar potensi wisata alam daerah.
Dokumen Pemkab Tuban mencantumkan Sumber Air Krawak sebagai salah satu objek wisata alam di Kecamatan Montong.
Hal tersebut ikut menjelaskan mengapa masyarakat dan wisatawan selama ini mengenal Krawak sebagai tempat wisata.
Di sisi lain, pencatatan sebagai potensi wisata tidak serta-merta mengubah status kawasan hutan lindung.
Inilah yang kemudian menjadi persoalan penting ketika popularitas sebuah tempat wisata berkembang lebih cepat daripada kejelasan mengenai fungsi dan status kawasannya.
Wisatawan Harus Cari Destinasi Lain
Bagi wisatawan yang sudah memasukkan Krawak dalam daftar tujuan perjalanan ke Tuban, informasi mengenai penutupan ini penting diketahui sebelum berangkat.
Terlebih, berbagai konten lama mengenai Krawak masih dapat ditemukan di internet dan media sosial.
Konten tersebut bisa membuat wisatawan mengira lokasi tersebut masih dapat dikunjungi seperti sebelumnya.
Padahal, kondisi terbaru berbeda.
Baca Juga: Resep Cheesecake Matcha Homemade, Creamy dan Lembut dengan Crust Biskuit yang Renyah
Krawak kini tidak lagi dibuka untuk kegiatan wisata umum.
Pengunjung tidak diperbolehkan berenang, bermain air, ataupun melakukan aktivitas rekreasi di sekitar sumber mata air.
Popularitas Krawak sebagai hidden gem pada akhirnya menghadirkan cerita yang cukup unik dalam perkembangan wisata Tuban.
Ketika sebuah destinasi alam semakin dikenal dan mulai menarik perhatian pencinta perjalanan, kawasan tersebut justru harus kembali ditegaskan fungsi utamanya sebagai bagian dari hutan lindung dan sumber mata air.
Bagi Tuban, kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa promosi wisata alam perlu berjalan seiring dengan kepastian status kawasan dan perlindungan lingkungan.
Sebab, tidak semua tempat indah yang ramai dibagikan di media sosial otomatis dapat dijadikan ruang wisata untuk kunjungan umum.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Tuban