RADARBONAG.ID — Nama Cascais mendadak semakin menjadi sorotan setelah Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez resmi menikah secara privat di kota pesisir Portugal tersebut.
Pasangan yang telah menjalin hubungan selama kurang lebih satu dekade itu akhirnya mengikat janji sebagai suami istri pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Pernikahan digelar secara tertutup di Cascais, sebuah kawasan yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer Portugal.
Namun, Cascais bukan sekadar kota yang dipilih sebagai lokasi pernikahan salah satu pesepakbola paling terkenal di dunia.
Kota yang berada di tepi Samudra Atlantik ini memang memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari pantai, bangunan bersejarah, kawasan kota tua, hingga pemandangan tebing yang dramatis.
Kota Pesisir Sekitar 30 Kilometer dari Lisbon
Cascais berada sekitar 30 kilometer di sebelah barat Lisbon.
Lokasinya yang menghadap langsung ke Samudra Atlantik membuat kota ini memiliki karakter khas destinasi pesisir Eropa.
Bagi wisatawan, Cascais menawarkan perpaduan yang cukup lengkap.
Ada pantai untuk menikmati suasana laut, bangunan klasik untuk wisata sejarah, kawasan kota tua untuk berjalan santai, hingga restoran yang menyajikan beragam hidangan laut.
Tidak mengherankan jika Cascais kemudian berkembang menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Portugal.
Dulunya Hanya Desa Nelayan
Di balik citranya sebagai kota wisata cantik, Cascais ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang.
Pemerintah Kota Cascais mencatat jejak permukiman manusia di wilayah tersebut bahkan telah ada sejak Paleolitikum Bawah.
Berabad-abad kemudian, sekitar abad ke-12, kawasan tersebut masih berupa desa kecil yang dihuni oleh masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan petani.
Letaknya yang strategis di tepi Atlantik kemudian membuat Cascais berkembang menjadi pelabuhan penting.
Pada 7 Juni 1364, Raja Pedro I mengangkat Cascais dari sebuah desa menjadi vila.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari posisi teluk yang strategis serta aktivitas perikanan yang menjadi sumber ekonomi masyarakat.
Kehadiran Kerajaan Mengubah Wajah Cascais
Transformasi besar Cascais terjadi pada abad ke-19.
Pada 1870, Raja Luís I memilih Cidadela de Cascais sebagai tempat tinggal musim panas keluarga kerajaan Portugal.
Kehadiran keluarga kerajaan kemudian menarik perhatian kalangan bangsawan dan elite.
Mereka mulai membangun vila, istana, hotel, serta berbagai tempat hiburan di kawasan tersebut.
Perlahan, Cascais yang sebelumnya dikenal sebagai desa nelayan berubah menjadi kawasan peristirahatan bergengsi.
Jejak perubahan tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang melalui bangunan-bangunan bersejarah dan vila klasik yang menjadi bagian dari karakter kota.
Kereta Api Membuat Cascais Makin Mudah Didatangi
Perkembangan Cascais sebagai destinasi wisata semakin pesat setelah jalur kereta menuju kota tersebut dibuka pada 1889.
Akses yang semakin mudah membuat wisatawan dari Lisbon dapat mencapai Cascais dengan lebih praktis.
Sejak saat itu, kawasan pesisir tersebut semakin ramai dikunjungi orang yang ingin menikmati laut dan suasana santai jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Warisan masa tersebut masih terasa hingga kini.
Wisatawan dapat menemukan perpaduan antara arsitektur klasik, kawasan bersejarah dan kehidupan kota pesisir yang modern.
Pantai Guincho hingga Boca do Inferno
Daya tarik utama Cascais tentu tidak bisa dilepaskan dari garis pantainya.
Di sekitar pusat kota terdapat sejumlah pantai yang bisa menjadi tempat bersantai.
Sementara itu, Pantai Guincho dikenal memiliki ombak yang cocok untuk aktivitas seperti surfing dan windsurfing.
Kawasan tersebut juga berada di area Sintra-Cascais Natural Park sehingga wisatawan tidak hanya disuguhi pemandangan laut, tetapi juga lanskap alam yang menarik.
Salah satu lokasi yang paling ikonik adalah Boca do Inferno.
Namanya mungkin terdengar menyeramkan, tetapi tempat ini justru menjadi salah satu objek wisata terkenal di Cascais.
Boca do Inferno merupakan formasi tebing dan gua di tepi Samudra Atlantik yang dihantam ombak besar.
Dari atas tebing, wisatawan dapat melihat langsung bagaimana gelombang Atlantik menghantam bebatuan.
Pemandangan tersebut membuat Boca do Inferno menjadi salah satu spot yang banyak dikunjungi wisatawan.
Tak Hanya Pantai, Ada Kota Tua dan Kuliner Laut
Cascais juga menarik bagi wisatawan yang menyukai sejarah dan budaya.
Pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan kota tua, melihat Cidadela, mengunjungi taman dan museum, atau sekadar menikmati suasana di sepanjang pesisir.
Kota ini bahkan memiliki catatan sejarah menarik dalam perkembangan teknologi.
Cascais disebut menjadi lokasi eksperimen penerangan listrik pertama di Portugal pada 1878.
Setelah puas menjelajahi kota, wisatawan juga dapat mencicipi berbagai hidangan laut.
Sebagai kota yang tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir, kuliner berbahan hasil laut menjadi salah satu bagian yang melekat dengan identitas Cascais.
Kini Nama Cascais Ikut Terangkat karena Ronaldo-Georgina
Pernikahan Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez membuat nama Cascais kembali menjadi perhatian publik internasional.
Kota yang sudah memiliki sejarah panjang sebagai desa nelayan, pelabuhan, hingga kawasan wisata elite tersebut kini mendapat sorotan baru karena menjadi tempat pasangan populer itu menggelar pernikahan privat.
Bagi penggemar Ronaldo, Cascais mungkin kini memiliki cerita tambahan.
Bukan hanya tentang pantai Atlantik, bangunan klasik atau Boca do Inferno, tetapi juga tentang tempat di mana salah satu pasangan paling terkenal di dunia akhirnya resmi menjadi suami istri.
Cascais pun menunjukkan bahwa sebuah destinasi bisa memiliki banyak cerita dalam satu tempat: sejarah panjang, keindahan alam, budaya, kuliner, sekaligus menjadi saksi momen penting dua figur dunia.
Tak heran jika kota pesisir Portugal ini kini semakin menarik untuk dimasukkan ke dalam daftar destinasi impian.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : detik.travel.com