RADARBONANG.ID - Taman Nasional Ratu Elizabeth yang terletak di wilayah Ishasha, Uganda, menyimpan sebuah fenomena zoologi yang sangat langka dan menakjubkan bagi para peneliti satwa liar.
Di kawasan konservasi ini, kawanan singa setempat menunjukkan perilaku adaptasi yang tidak biasa dan menyimpang dari kodrat umumnya, yakni kebiasaan memanjat dan tidur santai di atas dahan pohon ara raksasa.
Langkah evolusi perilaku ini ternyata menjadi strategi utama mereka untuk menyelamatkan diri dari serangan lalat tsetse yang mematikan.
Lalat tsetse dikenal luas sebagai salah satu serangga paling berbahaya di benua Afrika karena merupakan vektor utama penyebar parasit Trypanosoma, pemicu penyakit tidur (sleeping sickness).
Serangga pengisap darah ini biasanya berkerumun dalam jumlah besar di dekat permukaan tanah yang lembap dan semak-semak rendah.
Sengatan bertubi-tubi dari lalat ini tidak hanya menyebabkan rasa gatal yang hebat dan memicu infeksi kulit pada singa, tetapi juga dapat menurunkan kondisi fisik mamalia besar tersebut secara drastis hingga berujung pada kematian.
Untuk menyiasati gangguan tersebut, kawanan singa di Ishasha mulai membiasakan diri memanjat pohon ara (_Ficus_) yang memiliki dahan besar, rindang, dan horizontal.
Di atas ketinggian pohon, hembusan angin cenderung bertiup lebih kencang, sebuah kondisi atmosfer yang sangat dibenci oleh lalat tsetse karena menyulitkan mereka untuk terbang stabil.
Berada di atas dahan pohon juga memberikan keuntungan ganda bagi singa.
Selain terbebas dari gigitan serangga, mereka bisa mendapatkan tempat peristirahatan yang sejuk di bawah terik matahari Afrika serta posisi pengawasan yang strategis untuk mengincar hewan buruan.
Adaptasi perilaku ini kini diturunkan secara turun-temurun dari induk singa kepada anak-anak mereka sejak usia dini.
Fenomena singa pemanjat pohon ini menjadi daya tarik ekowisata utama di Uganda, sekaligus menjadi bukti nyata bagaimana tekanan lingkungan dari serangga sekecil lalat mampu mengubah pola hidup penguasa rantai makanan di alam liar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni