RADARBONANG.ID – Candi Cetho merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Keunikan lokasi dan arsitekturnya menjadikan candi ini sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus spiritual yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Berada di ketinggian sekitar 1.496 meter di atas permukaan laut, Candi Cetho sering dijuluki sebagai “candi di atas awan”.
Julukan ini muncul karena kawasan candi kerap diselimuti kabut tipis, menciptakan suasana mistis dan menenangkan.
Baca Juga: Mengerikan! Volume Sampah Indonesia Setara 4 Monas, Ancaman Nyata yang Tak Bisa Diabaikan
Dibangun di Akhir Masa Majapahit
Candi Cetho diperkirakan dibangun pada abad ke-15, tepatnya sekitar tahun 1452–1470 Masehi.
Pembangunan ini terjadi pada masa akhir kejayaan Majapahit, ketika kerajaan mulai mengalami kemunduran.
Candi ini diyakini berdiri pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V, yang dikenal sebagai raja terakhir Majapahit.
Pada periode ini, banyak perubahan sosial dan keagamaan yang terjadi, termasuk perpaduan antara budaya lokal dengan ajaran Hindu.
Arsitektur Unik Berbentuk Punden Berundak
Berbeda dengan kebanyakan candi Hindu-Buddha di Indonesia yang berbentuk menara atau stupa, Candi Cetho memiliki struktur berupa punden berundak atau teras bertingkat.
Bentuk ini menunjukkan adanya pengaruh budaya lokal yang kuat, khususnya tradisi megalitik yang sudah berkembang sebelum masuknya agama Hindu.
Setiap teras memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perjalanan spiritual manusia menuju kesucian.
Keunikan arsitektur ini menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus memperlihatkan bagaimana akulturasi budaya terjadi pada masa itu.
Fungsi Spiritual dan Ritual Penyucian
Selain sebagai tempat ibadah, Candi Cetho juga memiliki fungsi spiritual sebagai lokasi penyucian diri atau ruwatan.
Hal ini terlihat dari berbagai relief dan simbol yang menggambarkan proses pembersihan dari energi negatif.
Hingga kini, candi ini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah oleh umat Hindu dan masyarakat setempat.
Berbagai ritual keagamaan rutin digelar, menjadikan situs ini tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual yang terus berlangsung.
Jejak Runtuhnya Majapahit
Sejarah Candi Cetho tidak bisa dilepaskan dari masa keruntuhan Majapahit.
Pada saat itu, banyak pengikut kerajaan yang memilih mengungsi ke daerah pegunungan, termasuk kawasan Gunung Lawu.
Di tempat-tempat terpencil tersebut, mereka membangun situs suci sebagai bentuk perlindungan spiritual di tengah kondisi politik yang tidak stabil.
Candi Cetho menjadi salah satu bukti nyata dari fase penting dalam sejarah tersebut.
Panorama Alam yang Memikat
Selain nilai sejarah dan spiritual, keindahan alam di sekitar Candi Cetho juga menjadi daya tarik utama.
Pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan yang luas dengan udara sejuk khas dataran tinggi.
Kabut yang sering turun perlahan menambah kesan magis, seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu.
Kombinasi antara alam dan budaya menjadikan tempat ini cocok untuk wisata refleksi maupun edukasi.
Baca Juga: Jangan Langsung Minum Obat! Menkes Bagikan Trik Alami Redam Kolesterol dengan Cuka Apel
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Candi Cetho bukan sekadar situs arkeologi, melainkan simbol kebudayaan yang masih hidup hingga saat ini.
Keberadaannya mencerminkan perjalanan panjang sejarah, spiritualitas, serta kearifan lokal masyarakat Jawa.
Dengan perpaduan nilai sejarah, fungsi religius, dan keindahan alam, Candi Cetho terus menjadi salah satu destinasi penting yang memperkaya khazanah budaya Indonesia.
Editor : Muhammad Azlan Syah