RADARBONANG.ID – Di tengah kota Surabaya yang modern, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan cerita unik: sebuah lapangan golf yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, lengkap dengan sebuah makam tua di area hole 18 yang memicu beragam legenda di kalangan masyarakat setempat.
Terletak di kawasan Gunung Sari, area yang kini menjadi bagian dari Jalan Ahmad Yani, lapangan golf ini dikenal sebagai Padang Golf A Yani (PGAY).
Dibangun pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1898, fasilitas ini termasuk salah satu lapangan golf tertua di Jawa Timur.
Lapangan ini tidak hanya menarik bagi pecinta olahraga, tetapi juga menyimpan kisah yang berkembang turun-temurun di masyarakat lokal, terutama tentang sebuah makam yang berdiri tak jauh dari green hole 18.
Baca Juga: Delica Mini Terbaru Rilis di Jepang, Kei Car Bergaya SUV dengan Harga Rp200 Jutaan
Golf Masuk ke Surabaya Sejak Zaman Kolonial
Golf datang ke Indonesia melalui era Hindia Belanda, diperkirakan mulai dikenal sejak abad ke-19 melalui warga Inggris dan Eropa yang tinggal di wilayah jajahan.
Di Surabaya, olahraga ini cepat mendapat tempat di kalangan elit kolonial dan menjadi salah satu aktivitas sosial penting pada masa itu.
Padang Golf A Yani menjadi bukti sejarah bahwa olah raga ini kemudian berkembang lebih jauh di Nusantara.
Meski sekarang menjadi fasilitas modern yang digunakan golfer masa kini, jejak sejarahnya tetap terasa melalui struktur lapangan yang masih mempertahankan sebagian aspek desain klasiknya.
Makam di Hole 18: Legenda dan Realitas
Salah satu elemen yang membuat lapangan golf ini unik adalah keberadaan sebuah makam tua di area hole 18.
Masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai makam Mbah Deler. Nama ini muncul karena pelafalan lokal terhadap nama asing yang sulit diucapkan.
Beragam cerita rakyat berkembang mengenai sosok yang dimakamkan di sana.
Versi populer menyebut Mbah Deler sebagai seorang pegolf ulung atau penjaga gaib lapangan, yang dianggap punya hubungan khusus dengan arena golf tersebut.
Ini diperkuat oleh adanya ornamen berbentuk piala perunggu di makam itu, yang seolah menjadi simbol penghargaan.
Namun menurut catatan sejarah yang lebih akurat, makam tersebut bukan milik seorang atlet atau pegolf legenda.
Dalam buku Oud Soerabaia, sejarawan Von Faber mencatat bahwa yang dimakamkan di sana adalah Fredrik Jacob Rothenbuhler — seorang pejabat tinggi Belanda yang pernah menjabat di wilayah Hindia Belanda.
Rothenbuhler bukan seorang pegolf profesional. Ia adalah tokoh administrasi kolonial yang dikenal sebagai pengusaha dan pemimpin wilayah.
Ornamen piala yang ada di makamnya kemungkinan besar merupakan hiasan khas zaman kolonial yang menunjukkan status sosial atau penghormatan atas jasa-jasanya, bukan bukti keahliannya dalam golf.
Dinamika Nama dan Cerita Lokal
Nama “Mbah Deler” sendiri diperkirakan berasal dari cara masyarakat lokal mengadaptasi sebutan nama asing seperti Van Deuller atau nama lain yang mirip.
Kesulitan pelafalan di masa lalu membuat nama itu berubah menjadi lebih mudah diucapkan oleh warga setempat.
Seiring waktu, cerita tentang makam ini berubah menjadi bagian dari folklore Surabaya.
Meski tidak memiliki dasar historis kuat, mitos dan kisah turun-temurun ini memberi warna tersendiri pada pengalaman pengunjung lapangan golf.
Beberapa pegolf bahkan mengaku merasakan suasana unik saat bermain dekat area makam, terutama saat sore hari.
Warisan Sejarah di Tengah Perkotaan
Padang Golf A Yani sangat berbeda dengan lapangan golf biasa.
Ia tidak hanya menjadi tempat olahraga, tetapi juga simbol sejarah kolonial dan dinamika budaya lokal yang hidup dalam masyarakat Surabaya.
Lapangan ini bahkan masuk dalam daftar situs yang sarat nilai sejarah dan budaya di kota itu.
Selain itu, kawasan Gunung Sari memiliki kaitan dengan beberapa peristiwa bersejarah lain, termasuk perlawanan rakyat Surabaya dan dinamika kehidupan komunitas abad ke-19.
Elemen sejarah ini memberi dimensi baru bagi wisatawan yang datang bukan hanya untuk bermain golf, tetapi juga menelusuri cerita masa lalu.
Baca Juga: Bedanya dengan Pulsa, Begini Cara Hitung Token Listrik Prabayar Rumah Tangga
Menjadi Daya Tarik Wisata
Saat ini, lapangan golf tertua ini masih digunakan secara aktif, dan tetap menjadi salah satu spot olahraga favorit di kota Surabaya.
Pengunjung bisa menikmati permainan golf sekaligus merasakan atmosfer sejarah yang unik — perpaduan antara nilai olahraga, nostalgia, dan kisah folklor yang telah berkembang selama puluhan generasi.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah