Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Wisata Alam dan Cerita Mistis di Bukit Plangon: Dari Makam Ulama hingga 99 Monyet

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 28 Januari 2026 | 14:55 WIB

Bukit Plangon di Cirebon bukan sekadar hutan hijau. Di sana sejarah dan legenda hidup berdampingan — dari makam tokoh Islam hingga cerita 99 monyet penjaga alam.
Bukit Plangon di Cirebon bukan sekadar hutan hijau. Di sana sejarah dan legenda hidup berdampingan — dari makam tokoh Islam hingga cerita 99 monyet penjaga alam.

RADARBONANG.ID – Di tengah permukiman dan lalu lintas padat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terdapat sebuah kawasan alam luas yang sarat dengan sejarah dan cerita unik: Bukit Plangon.

Tempat ini bukan sekadar hutan biasa; ia menjadi ruang bagi legenda yang hidup turun-temurun tentang kawanan monyet yang diyakini menjaga kehijauan dan keberlangsungan alam di sana.

Bukit Plangon terletak di Desa Babakan, Kecamatan Sumber, dan dikenal sebagai kawasan hijau seluas puluhan hektare yang masih rimbun meskipun berada di pinggiran wilayah yang semakin berkembang.

Selain menjadi tempat wisata alam dan edukasi, Bukit Plangon juga menyimpan kisah-kisah budaya yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat setempat.

Baca Juga: Ide Jualan Paling Laris di Pasar Kaget Ramadan, Modal Ringan dan Potensi Cuan Besar

Habitat Alam yang Menarik

Saat memasuki area Bukit Plangon, pengunjung akan langsung disambut oleh rimbunnya pepohonan dan suara satwa liar.

Monyet-monyet berkeliaran bebas di antara jalan setapak, pepohonan, dan bahkan sering turun hingga ke tepi jalan serta pemukiman warga.

Fenomena ini bukan hal luar biasa bagi penduduk lokal karena kawasan ini memang menjadi habitat alami bagi primata tersebut sejak lama.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan warga, jumlah monyet di kawasan ini selalu tetap: 99 ekor.

Angka itu diyakini memiliki makna simbolis yang kuat, dan masyarakat setempat menyebut kawanan monyet ini sebagai penjaga kawasan hijau Bukit Plangon.

Bahkan, ada satu monyet yang sering disebut sebagai “raja” kawanan karena posturnya lebih besar dan perilakunya lebih dominan dibanding yang lain.

Legenda Kerajaan Monyet dan Peran Budaya

Di luar penjelasan ilmiah tentang populasi satwa, masyarakat setempat punya narasi tersendiri: kawanan monyet Bukit Plangon merupakan bagian dari sebuah kerajaan monyet yang konon pernah ada di tempat itu.

Dalam versi cerita rakyat, monyet-monyet itu bukan sekadar satwa biasa, melainkan entitas yang memiliki peran menjaga keseimbangan alam.

Angka 99 dianggap sebagai simbol keseimbangan dan kelestarian yang terus terjaga di wilayah hijau ini.

Cerita tentang “raja monyet” yang dinamai Robert juga menjadi bagian dari lore lokal.

Masyarakat kerap menceritakan bahwa ketika salah seekor dari kawanan ini mati, monyet lain akan menggantikannya sehingga jumlah total terus tetap 99.

Meski kisah ini tidak memiliki dasar sejarah yang kuat, legenda semacam ini memberi warna tersendiri bagi pengalaman berkunjung ke Bukit Plangon.

Sejarawan lokal menilai cerita seperti ini lebih merupakan bagian dari tradisi lisan dan strategi leluhur dalam menghormati serta melindungi alam.

Narasi mistis yang kuat membuat orang enggan merusak hutan atau mengganggu satwa di dalamnya — sebuah bentuk pelestarian yang diwariskan secara budaya.

Jejak Sejarah yang Tersimpan

Bukit Plangon tidak hanya terkenal karena legendanya, tetapi juga karena peran sejarahnya dalam penyebaran agama Islam di wilayah barat Cirebon.

Di bagian puncak bukit terdapat dua makam keramat, yaitu makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan, kakak-beradik tokoh penting dalam sejarah lokal.

Kedua pangeran ini berasal dari Baghdad dan datang ke Jawa pada abad ke-15 untuk berdakwah dan memperkuat pengaruh Islam di wilayah tersebut.

Menurut penuturan sejarawan, Pangeran Panjunan dan Kejaksan datang lebih awal ke Cirebon sebelum masa kejayaan Sunan Gunung Jati, dan diperkirakan memiliki peran dalam pengembangan syiar Islam sekaligus memperluas wewenang Kesultanan Cirebon di daerah baratnya.

Mereka menjalani masa hidupnya dan kemudian dimakamkan di Bukit Plangon.

Wisata Alam yang Kaya Makna

Kini Bukit Plangon menjadi destinasi wisata yang menarik berbagai kalangan.

Tidak hanya pencinta alam dan penikmat fotografi, tetapi juga mereka yang ingin merasakan suasana spiritual dan cerita budaya yang melekat kuat di tempat ini.

Pengunjung bisa menikmati jalur pendakian, melihat langsung kawanan monyet dalam habitatnya, serta berziarah ke makam para tokoh sejarah.

Selain itu, suasana hijau yang terbentang luas memberikan pengalaman berbeda dari hiruk-pikuk perkotaan.

Jalan setapak yang bersisian dengan pepohonan rindang dan suara alam membuat Bukit Plangon terasa seperti oase di tengah perkembangan wilayah.

Baca Juga: Sport Hybrid Honda Prelude Ludes Terpesan di Indonesia: Unit Untuk Tahun Ini Habis dalam 3 Hari

Warisan Budaya yang Hidup

Bukit Plangon menunjukkan bagaimana alam, sejarah, dan legenda dapat berpadu menjadi satu narasi yang hidup dalam budaya lokal.

Kawanan monyet yang berkeliaran bebas bukan hanya obyek satwa, tetapi juga bagian dari cerita yang telah lama mengakar di benak warga Cirebon.

Tempat ini mengajak kita memahami bahwa pelestarian alam juga bisa dilakukan melalui budaya dan tradisi — sebuah warisan yang layak dijaga dan diteruskan ke generasi mendatang.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#bukit hijau Jawa Barat #makam Pangeran Panjunan #Bukit Plangon Cirebon #legenda 99 monyet #wisata Cirebon