RADARBONANG.ID - Industri pariwisata Bali tengah menghadapi kondisi yang unik dan membingungkan menjelang akhir tahun 2025.
Meski data menunjukkan tren kenaikan jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata, realitas di sektor perhotelan dan pendapatan daerah tidak selalu sejalan.
Fenomena ini kemudian disebut sebagai paradoks pariwisata oleh para pelaku industri lokal.
Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau lebih dikenal sebagai Cok Ace, data terbaru menunjukkan jumlah wisatawan yang datang ke Bali meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Tengku Firmansyah Selesaikan Tahun Pertama Welder Course di Kanada
Namun, tingkat hunian atau okupansi hotel dan penginapan justru mengalami penurunan.
Angka okupansi untuk hotel-hotel yang tergabung dalam PHRI turun dari sekitar 66 persen menjadi 58 persen pada periode yang sama.
Kunjungan Wisatawan Meningkat, tapi Okupansi Turun
Kenaikan angka kunjungan wisata ini turut diamini oleh data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, yang mencatat pertumbuhan kedatangan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2025.
Proyeksi BPS menunjukkan Bali berada pada jalur untuk mencapai hampir tujuh juta kunjungan wisatawan pada akhir tahun, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya.
Namun, lonjakan kunjungan ini tidak otomatis meningkatkan okupansi hotel secara signifikan.
Beberapa pelaku industri menduga ada sejumlah faktor yang membuat wisatawan tidak menginap di hotel resmi atau angkanya tidak tercatat secara resmi oleh asosiasi.
Akomodasi Liar dan Perubahan Pola Menginap Turis
Salah satu faktor yang sering disebut adalah maraknya akomodasi ilegal atau tidak resmi seperti rumah tinggal yang disewakan tanpa izin formal serta vila yang masuk kategori sewa jangka pendek melalui platform digital.
Praktik ini membuat wisatawan lebih memilih alternatif tempat tinggal yang tidak tercatat dalam data PHRI, sehingga memengaruhi angka okupansi hotel resmi dan kontribusi pajak dari sektor tersebut.
Fenomena akomodasi tidak terdaftar seperti ini bukan hal baru. Beberapa analis pariwisata telah lama mengamati bagaimana pilihan wisatawan kini semakin beragam, dari hotel berbintang hingga villa swasta lewat platform daring.
Banyak wisatawan menganggap opsi ini lebih fleksibel atau sesuai dengan preferensi, terutama untuk perjalanan keluarga atau kelompok besar.
Pendapatan Asli Daerah Tidak Meningkat Signifikan
Dampak dari rendahnya okupansi hotel dan jumlah wisatawan yang tidak tercatat secara resmi juga dirasakan dalam realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata seperti Pajak Hotel dan Restoran.
Pemerintah daerah mencatat bahwa meski jumlah kunjungan wisatawan meningkat, kontribusi PAD dari sektor tersebut tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hal ini memperkuat gambaran bahwa wisatawan banyak yang berkontribusi di luar jalur pajak resmi.
Reaksi dan Harapan Pelaku Industri
Pelaku pariwisata Bali berharap ada langkah kebijakan yang lebih efektif untuk mengatur akomodasi tidak resmi dan memastikan kontribusi ekonomi dari kunjungan wisatawan bisa dirasakan secara merata.
Selain itu, mereka menilai perlu ada penguatan perlindungan data dan pengawasan terhadap sistem akomodasi digital agar dapat membantu pemetaan real kondisi pasar pariwisata.
Sementara itu, sejumlah pejabat lain di Bali menanggapi isu tentang okupansi yang turun dengan perspektif yang lebih optimis, menyebut beberapa wilayah memang mencatat peningkatan hunian untuk liburan Nataru (Natal dan Tahun Baru).
Baca Juga: Tengku Firmansyah Selesaikan Tahun Pertama Welder Course di Kanada
Namun perbedaan data ini menunjukkan bahwa dinamika pariwisata Bali masih kompleks dan memerlukan kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri.
Paradoks yang Menjadi Tantangan Baru
Fenomena kunjungan wisatawan naik namun indikator ekonomi seperti okupansi hotel dan PAD tidak meningkat secara proporsional menggambarkan dinamika baru dalam pariwisata Bali di era pasca-pandemi.
Hal ini juga membuka diskusi penting mengenai cara Bali memetakan keberhasilan pariwisata bukan hanya dari jumlah kedatangan wisatawan, tetapi juga dari kontribusi ekonomi nyata yang dihasilkan di berbagai sektor.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah