TUBAN-Wanawisata Pemandian Nganget di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur juga menyimpan sejarah Islam.
Itu tak lepas dari situs makam Syeh Abdul Jalil. Masyarakat setempat menyebutnya makam Gowah.
Situs makam ini berupa tumpukan batu memanjang membentuk pusara yang bagian tengahnya terdapat batu menyerupai kepala kuda.
Lokasi situs bersejarah ini di atas perbukitan Gunung Uceng, sederet dengan Pegunungan Nolodito yang kaki bukitnya merupakan lokasi Nganget. Persisnya, di petak 21 RPH Karanggeneng, BKPH Bangilan, KPH Jatirogo.
Dari Nganget, kalau ditarik garis lurus, situs makam ini hanya berjarak sekitar 2,5 km dari pemandian Nganget.
Selain situs makam, di lokasi sekitar juga terdapat sejumlah peninggalan bersejarah.
Salah satunya pohon panggang tua. Pohon ini memiliki keliling sekitar 240 cm.
Dari lingkaran dan gurat batangnya, umur pohon ini diperkirakan ratusan tahun.
Pohon panggang adalah salah satu dari beberapa jenis pohon yang biasa ditanam wali penyebar ajaran Islam di tlatah Jawa.
Pohon lainnya adalah sawo kecik dan beringin.
Filosofi pohon panggang adalah memberikan keteduhan. Sebab, pohon ini senantiasa berbuah sepanjang masa dan tak pernah meranggas seperti pohon pada umumnya.
Situs peninggalan lain di kaki Gunung Uceng adalah belik kembar. Ini berwujud dua mata air yang bentuk dan ukurannya sama.
Konon, sumber air ini terbentuk dari pijakan kedua kaki Sunan Bonang yang berdiri di pinggir kali sebelum sholat Maghrib.
Menurut Tim Kajian Lingkungan (TKL) Perum Perhutani KPH Jatirogo pada 2009, Syeh Abdul Jalil adalah salah satu aulia penyebar agama Islam di Jawa. Sejarahnya pun dikupas dalam satu rangkaian dengan Pemandian Nganget.
Seperti halnya makam aulia lain di Jawa, situs makam ini sering didatangi masyarakat dari berbagai daerah di Jawa untuk berziarah dan tawasul.
Bagi masyarakat setempat, makam ini adalah punden atau tempat yang dikeramatkan.
Karena itulah, setiap habis panen raya padi, masyarakat setempat selalu menghelat sedekah bumi di tempat ini.
Dalam Ahla al-Musamarah Fi Hikayah al-Auliya al-'Asyrah (sekelumit hikmah tentang Wali sepuluh) yang ditulis KH Abil Fadol dari Senori, Syeh Abdul Jalil adalah Syekh Siti Jenar alias Sunan Jepara.
Dia berasal dari seekor cacing yang berubah menjadi manusia. Versi lain menyebutkan, Syeh Abdul Jalil dari Persia.
Bahkan, ada juga yang menyebutnya sebagai keturunan seorang empu kerajaan Majapahit.
Sumber lain menyebutkan, Syeh Abdul Jalil adalah keturunan (cucu ) Syekh Maulana Ishak.
Syekh Maulana Ishak merupakan saudara kandung dari Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Siti Asfa yang dipersunting Raja Romawi. (*)