TUBAN- Wanawisata Pemandian Nganget di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran ajaran Islam oleh Sunan Bonang.
Salah satu sumbernya cerita Kashrah, tokoh agama Desa Sidotentrem, Kecamatan Bangilan. Cerita tutur tersebut dihimpun Tim Kajian Lingkungan (TKL) Perhutani KPH Jatirogo pada 2009.
Merujuk cerita tutur yang dihimpun TKL, sumber air belerang tersebut muncul setelah Syeh Makdum Ibrahim, nama kecil Sunan Bonang menancapkan tongkatnya ketika perjalanan ke pegunungan Nolotidu atau Nolodito, area pemandian Nganget, untuk mengejar Blancak Ngilo.
Turunnya Sunan Bonang ke wilayah barat daya Tuban tersebut setelah mendapat tugas Sunan Kalijaga setelah yang mendengar sepak-terjang penjahat dari Kadipaten Demak, Jateng yang menyebarkan kejahatan dan bertentangan dengan syariah agama Islam.
Konon, di setiap daerah yang dikunjungi, Blancak Ngilo membawa pengaruh buruk dengan mengajak Masyarakat setempat untuk berjudi, sabung ayam, dan lainnya.
Dikisahkan dari cerita tutur tersebut, dalam pengejaran Blancak Ngilo, Sunan Bonang kehilangan jejak dan beristirahat di tempat yang diyakini sebagai awal munculnya sumber air belerang.
Ketika itu, di tempat tersebut tidak ada sumber air untuk berwudhu Sunang Bonang.
Untuk mengeluarkan air dari dalam perut bumi, wali penyebar ajaran Islam tersebut menancapkan tongkatnya.
‘’Dari tancapan tongkat ini, kemudian menyebur air yang terasa hangat,’’ tutur Kashrah.
Nama Nganget yang berarti hangat, dalam bahasa Indonesia, juga diberikan Sunan Bonang karena air yang keluar dari sumber air ini selalu hangat.
Mengutip penuturan Marno bin Marwan, ulama setempat sebagaimana disampaikan kepada TKL, dari sumber air ini, Sunan Bonang melanjutkan pengejaran.
Di tengah jalan, dia menemukan bekas minuman kesukaan Blancak Ngilo, yakni wedang kopi yang sudah dalam keadaan dingin.
Tempat wedang kopi tersebut ditemukan berada di barat Nganget.
Untuk tetenger, tempat kopi tersebut ditemukan diberi nama Ngadem yang sekarang ini dipakai nama dusun di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan.
Masih menurut cerita tutur tokoh Masyarakat setempat, dalam pengejaran tersebut sampaikan Sunan Bonang pada suatu tempat di mana Blancak Ngilo berada.
Kehadiran sunan ini dilihat Blancak Ngilo yang saat itu menyalakan api dengan menggunakan korek uceng dan gendok untuk memasak.
Kagetnya melihat kehadiran orang yang memburunya, gendok yang ditenteng penjahat tersebut jatuh dan pecah.
Tempat gendok ini pecah diberi nama Bendo Gowah, yang akhirnya dipakai nama dusun di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan. Lokasi dusun ini berada di barat Nganget.
Selain gendok, uceng yang hendak dinyalakan Blancak Ngilo juga tertarik. Tempat terjadinya peristiwa tersebut dinamakan Gunung Uceng yang juga berada di barat Nganget.
Nama perkampungan lain di sekitar Nganget yang dikaitkan dengan perjalanan Sunan Bonang memerangi keangkaramurkaan adalah Dusun Sumurup juga di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan.
Konon, di dusun inilah, Blancak Ngilo beradu kesaktian dengan Sunan Bonang.
Salah satu adu kesaktian tersebut adalah sumurup atau menyelam di dalam bumi. Nama Desa Bendolateng, Kecamatan Kenduruan di selatan Nganget dikaitkan dengan tumpahnya pengaron pedagang nasi uduk akibat ditabrak Blancak Ngilo dalam pengejaran Sunan Bonang.
Sementara mata air dikaitkan dengan tumpahnya beras yang hendak dicuci atau di-pususi Blancak Ngilo.
Cerita tutur lain yang dihimpun TKL adalah penyamaran Sunan Bonang sebagai orang biasa dan menantang sabung ayam Blancak Ngilo.
Untuk bisa menandingi ayam Blancak Ngilo yang merupakan perubahan wujud kapak, Sunan Bonang mengubah wujud sebuah kapal besar menjadi ayam.
Pertarungan kedua tersebut dimenangkan Sunan Bonang. Karena kalah, Blancak Ngilo lari dan mengasingkan diri. (*)