TUBAN-Setiap hari, peziarah mengalir ke Makam Sunan Bejagung Lor di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Membanjirnya wisatawan rohani ke makam wali yang berlokasi di selatan Alun-Alun Tuban dan berjarak sekitar 3 kilometer tersebut memuncak selama bulan Syakban atau menjelang Ramadan.
Sebagian besar yang datang dengan rombongan bus dan mobil tersebut tidak hanya untuk ngalab berkah di makam aulia bernama kecil Syekh Asy’ari itu.
Mereka juga mengambil air dari sumur di kompleks makam setempat yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit lahir maupun batin.
Mudri, juru kunci makam Sunan Bejagung Lor mengatakan, sumur tersebut merupakan salah satu karomah Sunan Bejagung Lor.
Saat terjadi bencana kekeringan di Bejagung, salah satu wali penyebar ajaran Islam di Tuban itu memerintah kepada salah satu santrinya untuk menancapkan tongkatnya di lahan kosong tersebut.
Dari tancapan tongkat inilah keluar air untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi masyarakat setempat.
Karomah Sunan Bejagung Lor lainnya juga diungkap Mudri.
Dari cerita tutur leluhurnya, kata dia, Syekh Asy’ari dipercaya sebagai orang yang menyalakan lampu minyak di area Masjidiharam, Makkah menjelang waktu Maghrib atau petang.
‘’Setelah menjalankan tugas menyalakan ublik (lampu tradisional) di Masjidilharam, beliau kembali untuk memimpin salat Isya’,’’ kata kuncen tersebut.
Syekh Asy’ari merupakan saudara Syekh Ibrahim As-Samarqandy atau Syekh Asmoroqondi yang merupakan ayah Sunan Ampel (Raden Rahmat).
Sunan Bejagung Lor dipercaya sebagai generasi wali pertama yang menyebarkan Islam di tlatah Jawa pada 1300-an masehi.
‘’Syekh Asy’ari dan Syekh Asmoroqondi merupakan putra Syekh Jumadil Kubro yang ditugaskan menyebarkan Islam di Jawa,’’ terang Mudri.
Nama Bejagung konon dikaitkan dengan kata serapan dari Mojo Agung. Dulunya, desa tersebut terdapat banyak buah Mojo yang mengandung air banyak (agung, Bahasa Jawa).
Versi lain menyebut, nama Sunan Bejagung merupakan sebutan yang dikaitkan dengan pekerjaan Syekh Asy’ari yang merupakan petani jagung.
‘’Mayoritas yang datang untuk ziarah karena punya masalah baik lahir maupun batin, dan berdoa kepada Allah melalui walinya,’’ tutur dia. (*)