TUBAN-Relief keindahan stalaktit dan stalakmit yang terbentuk dari tetesan air Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hanya dinikmati sebagian orang. Itu karena tak semua orang bisa masuk.
Aktivis lingkungan yang tercatat pernah menyusuri lorong Gua Ngerong, di antaranya, Akarina, Himpunan Kegiatan Speology Indonesia (Hikespi), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPPI), dan tim jelajah salah satu televisi swasta.
Ali Bahaudin, direktur LSM Akarina mengungkapkan, Gua Ngerong memiliki kedalaman lorong sekitar 1,8Km.
Untuk mencapai ujung lorong yang menjadi hulu atau mata air gua ini dibutuhkan perjalanan malam sekitar tiga jam.
Dipilih waktu malam karena pada saat itu ribuan kelelawar yang menghuni mulut hingga ujung gua, meninggalkan gua.
Keberadaan kelelawar menjadikan ketersediaan oksiden di dalam gua sangat terbatas.
Karena itu, aktivis lingkungan yang menjelajah lorong gua memilih waktu pukul 19.00 hingga 03.00.
Dari total panjang lorong, hanya 1 km yang bisa ditempuh dengan perahu. Sementara 800 meter hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Ali menceritakan, gua ini memiliki camber (ruang besar dalam besar) pada kedalaman sekitar 500m.
Dia memerkirakan tinggi ruang tersebut mencapai 30m dan lebar 30m lebih.
Di bagian inilah, kata dia, hidup jutaan kecoa yang memangsa guano atau kotoran kelelawar. Di bagian ruang besar ini pula hidup bulus atau kura kura berwarna hitam coklatan.
Di kedalaman ini juga mulai ditemukan ular yang kepala hingga separo tubuhnya lurik kekuningan. Sementara separo tubuh hingga ekor berwarna hitam.
Ali tak mengetahui persis jenis ular tersebut karena bentuk dan warnanya berbeda dengan ular kebanyakan.
Pada kedalaman ini, habitat bulus putih yang banyak ditemukan pada kedalaman 300m tidak ditemukan lagi.
Aktivis lingkungan ini menegaskan, setelah berperahu kurang lebih 1km, perjalanan terhadang air terjun yang berketinggian 5km.
Di bawah air terjun inilah perahu ditambatkan dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan memanjat tebing pada kedua sisi air terjun.
‘’Kita tidak mungkin naik air terjun dan melawan arus,’’ tuturnya.
Untuk melanjutkan perjalanan menuju ujung gua, perjalanan tidak bisa ditempuh dengan berjalan melalui kedua sisi sungai dalam lorong gua. Namun, harus berenang dan berjalan di dalam sungai.
Hal ini karena di sepanjang tepi sungai terdapat boulder (bongkahan batu besar) yang sulit ditembus.
Persis di ujung lorong terhadap sebuah kedung. Di salah satu sisi bagian dalam kedung inilah menjadi sumber air.
Ali menerangkan, pada era 80-an, di aliran sungai gua ini banyak ditemukan cavepaerl atau mutiara gua.
Mutiara berbentuk bulat putih tersebut terbentuk dari proses pusaran pengendapan air kapur. Sekarang, mutiara tidak ditemukan lagi. (*)