TUBAN-Wanawisata Nganget di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan lebih dikenal dengan sumber air belerengnya untuk terapi berbagai penyakit, daripada keindahan alam maupun kekayaan budaya dan sejarahnya.
Destinasi wisata ini belum dikenal luas. Namanya pun tidak masuk dalam agenda wisata Dinas Kebudayaan Kepemudaaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Tuban.
Perhutani KPH Jatirogo sebagai pemilik aset wanawisata Nganget ini sepertinya hanya mengoptimalkan manfaatnya bagi pengunjung daripada menonjolkan keindahan tempat ini.
Wanawisata Nganget cukup potensial digarap sebagai destinasi wisata. Memasuki kawasan wanawisata di petak 33A, RPH Kejuron, BKPH Bangilan, KPH Jatirogo ini, wisatawan disuguhi gugusan pegunungan yang menghijau dan pemandangan hutan.
Selain hutan negara, kawasan ini juga memiliki hutan rakyat.
Wanawisata Nganget berada di kaki pegunungan Nolodito. Dalam peta Belanda yang dibuat pada 1926 disebut pegunungan Nolodito.
Wanawisata Nganget ini menempati lahan dengan tujuan istimewa (LDTI) dengan luas total 0,33 hektare.
Kawasan ini ditumbuhi vegetasi rimba campuran. Antara lain, mindi, panggang, asem, lumpit, sawo kecik, mahoni, flamboyan, kesambi, ploso, dan berbagai jenis tanaman buah.
Populasi fauna yang banyak ditemukan di kawasan hutan sekitar adalah burung kutilang, kadalan, derkuku, dan burung-burung kecil lainnya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, di kawasan ini masih banyak dijumpai monyet ekor panjang. Namun, sekarang ini, binatang mamalia tersebut sulit dijumpai.
Wanawisata ini berjarak sekitar 15 km arah tenggara Kota Kecamatan Jatirogo.
Sementara dari Kota Kecamatan Bangilan, lokasinya sekitar 12 km arah barat kota kecamatan ini.
Setelah melalui jalan kecamatan beraspal, perjalanan dilanjutkan menembus hutan dengan melalui jalan berbatu dan tanah.
Jalan ini sangat sempit dan hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat. Wanawisata Nganget memiliki tiga sumber air hangat yang mengandung belerang.
Pemandian utama berukuran paling luas. Pemandian ini berbentuk kolam berbentuk bulat berdiameter sekitar 6meter yang diitari batu bertembok.
Dasar pemandian ini dibiarkan alami dan tidak dikeraskan. Justru lumpur di dasar pemandian ini sering dilulurkan pada tubuh orang yang mandi.
Dua mata air lain berada di selatannya. Satu mata air yang juga hangat dan berbau belerang ditampung dalam sebuah kolam berukuran 4x2meter.
Posisi kolam ini lebih lebih tinggi dari permukaan tanah. Karena kolam ini tidak boleh dimasuki, pengunjung bisa menikmati pancuran air ini dari dua pipa yang dipasang di salah satu sisi dinding kolam.
Sementara satu kolam lain, meski berbau belerang, kondisi airnya tidak hangat. Karena itulah, sumber air yang dibiarkan alami ini dimanfaatkan Perhutani untuk budidaya ikan.
Satu satu petugas BKPH Bangilan, RPH Kejuran, KPH Jatirogo mengatakan, setiap bulannya jumlah pengunjung mencapai ratusan orang.
Sebagian besar mereka berasal dari berbagai daerah di wilayah Jateng. Seperti Kudus, Jepara, Pati, Rembang, dan Blora. Sebagian pengunjung datang secara rombongan dengan bus mini dan mobil.
Di wanawisata Nganget ini, Perhutani menyiapkan sebuah rumah untuk pengunjung yang menginap. Tempat menginap ini berupa bangunan terbuka seperti sal rumah sakit yang ditempatkan sepuluh dipan untuk sepuluh pengunjung yang menginap.
Tempat menginap ini sengaja disiapkan karena sebagian pengunjung menjalani terapi air hangat belerang lebih dari sehari.
Sejumlah pengunjung memilih mandi tengah malam. Mereka biasanya, memiliki keluhan kesehatan yang fatal.
Seperti stroke, darah tinggi, dan ganggung lain akibat peredarah darah. Selebihnya, pengunjung mandi sembarang waktu. Mereka ini biasanya memiliki keluhan penyakit kulit.
Pasangan suami-istri, Makruf warga Desa Sulursari, Kecamatan Gabus, Purwodadi, Jateng mengaku dua kali datang ke Nganget karena kedua kakinya merasa ngilu.
Setiap kali datang, dia selalu didampingi Yanti, istrinya yang justru menikmai tempat tersebut sebagai tempat rekreasi katimbang terapi kesehatan. (*)