RADARBONANG.ID – Perusahaan teknologi desain grafis Canva mengumumkan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak terhadap 1.271 pekerja di seluruh dunia.
Kebijakan tersebut mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), perubahan posisi, hingga pemindahan lokasi kerja.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 22 persen dari total tenaga kerja Canva.
Langkah ini menjadi salah satu perubahan organisasi terbesar dalam perjalanan perusahaan teknologi asal Australia tersebut sejak berdiri pada 2013.
CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, menyebut keputusan itu sebagai momen paling berat dalam sejarah 13 tahun perusahaan.
Dalam memo kepada karyawan, dia mengungkapkan bahwa pertumbuhan bisnis Canva mengalami perlambatan untuk pertama kalinya dalam satu dekade.
Perkins menjelaskan, perubahan yang dilakukan bukan sekadar penyesuaian kecil.
Perusahaan ingin membangun kembali struktur organisasi agar lebih sederhana, lincah, dan mampu menghadapi perkembangan industri teknologi dalam beberapa tahun mendatang.
Meski total pekerja terdampak mencapai 1.271 orang, Canva belum merinci berapa banyak karyawan yang benar-benar akan kehilangan pekerjaan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Destinasi Wisata, Ini Sejarah Terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir
Sebagian lainnya akan mengalami perubahan tanggung jawab atau diminta berpindah ke lokasi kerja tertentu.
Pertumbuhan Melambat, Canva Ubah Strategi Bisnis
Restrukturisasi ini dilakukan setelah Canva menghadapi tantangan pertumbuhan bisnis.
Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu platform desain grafis populer tersebut mengakui laju pertumbuhannya tidak lagi secepat tahun-tahun sebelumnya.
Dalam memo internal, Perkins menyampaikan bahwa keberhasilan Canva pada periode awal tidak otomatis menjamin kesuksesan pada tahap berikutnya.
Karena itu, perusahaan menilai perlu melakukan perubahan mendasar untuk mempersiapkan bisnis dalam satu dekade mendatang.
Canva akan menggabungkan tiga kelompok utama, yakni Product, Growth, dan Platform, ke dalam satu organisasi produk. Penggabungan ini diharapkan dapat mengurangi proses koordinasi yang berbelit dan mempercepat pengambilan keputusan.
Perusahaan juga akan mengurangi lapisan manajemen, menyatukan tanggung jawab yang tumpang tindih, serta mengurangi spesialisasi pekerjaan yang dinilai terlalu terfragmentasi.
Melalui struktur baru tersebut, Canva ingin membentuk tim yang lebih kecil dengan kewenangan lebih besar.
Dengan begitu, setiap tim diharapkan bisa lebih fokus mengembangkan produk tanpa terlalu banyak proses administratif.
Sydney Jadi Pusat Utama Tim Produk
Perubahan besar juga menyasar kebijakan lokasi kerja. Canva berencana menjadikan Sydney sebagai pusat utama bagi lebih banyak tim produk dan tenaga spesialis perusahaan.
Sebagian karyawan kemungkinan diminta berpindah lokasi untuk mendukung pemusatan aktivitas tersebut.
Selain itu, kebijakan kerja hybrid juga akan mengalami penyesuaian.
Mulai Januari 2027, sebagian besar karyawan yang menjalankan sistem kerja hybrid diperkirakan harus bekerja dari kantor sekitar dua hingga tiga hari dalam sepekan.
Perkins mengakui bahwa bekerja lintas negara selama ini memberikan keuntungan bagi perusahaan karena bisa menjangkau talenta dari berbagai wilayah.
Namun, model tersebut juga dinilai membuat koordinasi antartim menjadi lebih sulit ketika harus menyelesaikan persoalan kompleks.
Canva saat ini memiliki jaringan operasional di 37 negara. Melalui kebijakan baru, perusahaan ingin memperkuat kolaborasi langsung tanpa sepenuhnya menghilangkan fleksibilitas kerja.
Karyawan Terdampak Mendapat Pesangon dan Bantuan
Di tengah keputusan pengurangan tenaga kerja, Canva menyatakan akan memberikan sejumlah dukungan kepada karyawan yang harus meninggalkan perusahaan.
Pekerja yang terdampak PHK akan menerima kompensasi setidaknya enam bulan gaji, termasuk hak sesuai ketentuan yang berlaku di masing-masing negara.
Canva juga menyediakan dukungan layanan kesehatan hingga 12 bulan di negara yang memiliki fasilitas tersebut.
Karyawan yang keluar juga diperbolehkan mempertahankan laptop MacBook yang selama ini digunakan untuk bekerja.
Selain itu, perusahaan menyiapkan bantuan pengembangan karier, termasuk pendampingan untuk mencari pekerjaan baru.
Canva turut memperkenalkan Canva Collective Fund. Melalui program tersebut, mantan karyawan yang ingin membangun usaha rintisan atau mengembangkan proyek baru dapat mengajukan bantuan hibah hingga USD 10.000.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan membantu pekerja menghadapi perubahan karier setelah restrukturisasi.
Industri Teknologi Hadapi Tantangan Perkembangan AI
Restrukturisasi Canva juga berlangsung ketika industri perangkat lunak menghadapi perubahan besar akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berbagai perusahaan teknologi kini berlomba mengintegrasikan AI ke dalam produk mereka.
Baca Juga: Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan AI, Ini 7 Cara Mengenali Video Deepfake di Media Sosial
Pada saat bersamaan, kemunculan perangkat AI yang semakin canggih turut mengubah cara masyarakat membuat desain, mengolah konten, hingga menyelesaikan pekerjaan digital.
Canva sendiri telah mengembangkan berbagai fitur berbasis AI untuk memperluas kemampuan platform desainnya.
Meski demikian, dalam pengumuman restrukturisasi, Perkins tidak secara langsung menyebut AI sebagai penyebab PHK.
Dia lebih menekankan perlambatan pertumbuhan, perubahan teknologi, dan kebutuhan menyederhanakan organisasi.
Tantangan serupa juga dihadapi sejumlah perusahaan teknologi lain.
Atlassian, misalnya, mengumumkan pengurangan sekitar 1.600 pekerja pada 2026 sebagai bagian dari perubahan strategi perusahaan.
Situasi tersebut menunjukkan industri teknologi tengah memasuki fase penyesuaian besar.
Perusahaan tidak hanya dituntut mengembangkan produk baru, tetapi juga mengubah struktur kerja agar mampu bertahan di tengah persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com