Hampir Seabad Diperdebatkan, Gagasan Einstein tentang Realitas Kembali Diuji

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 16:56 WIB
Albert Einstein, fisikawan teoretis yang dikenal melalui teori relativitas dan kontribusinya terhadap perkembangan fisika modern. (pinterest)
Albert Einstein, fisikawan teoretis yang dikenal melalui teori relativitas dan kontribusinya terhadap perkembangan fisika modern. (pinterest)

RADARBONANG.ID - Eksperimen fisika modern kembali menguji salah satu pandangan Albert Einstein mengenai cara kerja alam semesta, yakni realisme lokal.

Melalui pengujian yang dikenal sebagai Cosmic Bell Test, para ilmuwan menemukan bahwa keterikatan antarpartikel tetap menunjukkan korelasi meskipun pengaturan pengukurannya ditentukan menggunakan cahaya dari objek yang berjarak miliaran tahun cahaya.

Dalam Cosmic Bell Test yang dipublikasikan pada 2018, partikel-partikel yang saling terikat tetap memperlihatkan perilaku seolah terhubung, meski pilihan pengukurannya ditentukan berdasarkan cahaya dari objek kosmik yang sangat jauh.

Baca Juga: Asteroid 2024 YR4 Sempat Bikin Khawatir, NASA Pastikan Bumi Aman dari Tabrakan

Penelitian tersebut mencatat pelanggaran ketaksamaan Bell dengan tingkat signifikansi 9,3 standar deviasi.

Hasil ini menunjukkan bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan sekaligus melalui realisme lokal, yaitu pandangan bahwa tidak ada pengaruh seketika antara objek yang berjauhan, dan asumsi kebebasan memilih pengukuran dalam kerangka pengujian tersebut.

Namun, temuan ini tidak berarti seluruh teori Einstein terbukti keliru. Eksperimen tersebut menguji asumsi realisme lokal, bukan teori relativitas yang menjadi salah satu sumbangan terbesarnya bagi ilmu fisika.

Dalam video kanal YouTube The Infographics Show, dijelaskan bagaimana para ilmuwan memanfaatkan Cosmic Bell Test untuk menguji persoalan yang sebelumnya menjadi perdebatan Einstein.

"Semesta menjadi generator angka acak kosmik," demikian narasi dalam video tersebut.

Cahaya dari dua quasar, yakni inti galaksi yang sangat terang, ditangkap menggunakan teleskop di Pulau La Palma, Kepulauan Canary.

Salah satu quasar berjarak 7,8 miliar tahun cahaya, sedangkan yang lainnya mencapai 12,2 miliar tahun cahaya.

Perubahan warna cahaya tersebut kemudian dikonversi menjadi sinyal angka untuk mengatur detektor ketika foton yang saling terikat tiba.

Jarak kedua quasar yang sangat jauh membuat keduanya tidak mungkin saling berkomunikasi, sehingga peluang adanya faktor tersembunyi yang memengaruhi pilihan pengukuran dapat diperkecil.

Perdebatan ini bermula dari ketidaksepakatan Einstein terhadap mekanika kuantum. Teori tersebut menjelaskan bahwa perilaku partikel pada skala terkecil hanya bisa diperkirakan berdasarkan probabilitas.

Pandangan Einstein dikenal melalui ungkapannya bahwa Tuhan tidak bermain dadu.

Pernyataan itu menggambarkan keyakinannya bahwa alam semesta memiliki keteraturan mendasar dan tidak sepenuhnya bergantung pada kemungkinan acak.

Pada 1935, Einstein bersama Boris Podolsky dan Nathan Rosen menerbitkan makalah yang kemudian dikenal sebagai paradoks EPR.

Salah satu persoalan yang dibahas adalah keterikatan kuantum, yakni hubungan korelasi antara dua partikel yang tetap dapat diamati meskipun keduanya terpisah dalam jarak sangat jauh.

Einstein menilai fenomena tersebut bermasalah karena seolah memungkinkan adanya pengaruh seketika antarbenda yang berjauhan. Dia menggambarkannya sebagai aksi menyeramkan dari kejauhan.

Pada 1960-an, John Stewart Bell mengajukan metode pengujian untuk menjawab perdebatan tersebut.

Sejumlah eksperimen pada 1970-an dan 1980-an kemudian menunjukkan bahwa batas Bell dapat dilanggar.

Namun, pendukung pandangan Einstein masih menyoroti beberapa celah dalam pengujian, termasuk persoalan kebebasan memilih pengukuran yang kemudian berusaha ditutup melalui Cosmic Bell Test.

"Setidaknya satu dari hal mendasar yang selama ini kita yakini tentang dunia, kehidupan, serta pilihan dan pengalaman kita mungkin keliru," demikian narasi lanjutan dalam video tersebut.

Video itu menguraikan dua kemungkinan penafsiran, yakni alam semesta sepenuhnya telah ditentukan sejak awal atau ruang dan waktu bukanlah fondasi utama realitas.

Meski demikian, kedua gagasan tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan dan penafsiran dalam fisika.

Hampir satu abad setelah Einstein mempertanyakan mekanika kuantum, pembahasan mengenai hakikat realitas masih terus berlangsung.

Menariknya, ketidaksetujuan Einstein terhadap teori kuantum justru menjadi salah satu landasan penting bagi para ilmuwan modern untuk mengembangkan eksperimen yang menguji batas pemahaman manusia terhadap alam semesta. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Cosmic Bell Test albert einstein eksperimen alam semesta