Astronom Temukan 2026 ED138, Calon Planet Kerdil Keenam di Ujung Tata Surya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:44 WIB
Observatorium Vera C. Rubin di Chile berhasil mengidentifikasi objek misterius 2026 ED138 yang berada sekitar 1,1 miliar mil di luar orbit Pluto. (ilustrasi AI)
Observatorium Vera C. Rubin di Chile berhasil mengidentifikasi objek misterius 2026 ED138 yang berada sekitar 1,1 miliar mil di luar orbit Pluto. (ilustrasi AI)

RADARBONANG - Astronom menemukan objek bernama 2026 ED138 di wilayah terluar Tata Surya yang berpotensi menjadi planet kerdil keenam.

Objek tersebut menarik perhatian karena memiliki tingkat kecerlangan yang tidak biasa, tetapi baru terungkap setelah para ilmuwan menganalisis data pengamatan menggunakan teknologi terbaru.

“Objek ini memiliki kecerlangan yang tidak biasa. Sebagian besar objek seterang ini seharusnya sudah ditemukan sebelumnya,” sebagaimana diulas dalam dokumenter NOVA PBS Official.

Baca Juga: Asteroid 2024 YR4 Sempat Bikin Khawatir, NASA Pastikan Bumi Aman dari Tabrakan

2026 ED138 berada di Sabuk Kuiper, kawasan di luar orbit Neptunus yang menyimpan berbagai benda es peninggalan pembentukan Tata Surya.

Meski telah ditemukan, objek tersebut belum resmi dikategorikan sebagai planet kerdil karena masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Selama ini, terdapat lima objek yang dikenal sebagai planet kerdil, yakni Ceres, Pluto, Eris, Haumea, dan Makemake.

Untuk mendapatkan status tersebut, 2026 ED138 harus memenuhi kriteria, termasuk memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk membentuk wujud mendekati bulat.

Cahaya Bintang Sempat Menyulitkan Pengamatan

Salah satu faktor yang membuat 2026 ED138 sulit ditemukan adalah posisinya di bidang galaksi, kawasan langit yang dipenuhi banyak bintang.

Cahaya dari bintang-bintang di sekitarnya dapat menyulitkan astronom untuk membedakan objek Tata Surya yang bergerak dari latar belakang langit.

Penemuan ini terbantu oleh Observatorium Vera C. Rubin di Chile, yang dilengkapi teleskop berdiameter 8,4 meter.

Fasilitas tersebut dirancang untuk memindai seluruh langit yang dapat diamati dari lokasinya setiap tiga malam.

Kemampuan memantau langit secara berulang memungkinkan observatorium merekam perubahan posisi benda langit dan menemukan objek yang sebelumnya luput dari pengamatan.

Namun, proses identifikasi tidak hanya bergantung pada penemuan titik cahaya.

Astronom harus memastikan bahwa titik-titik yang terlihat dalam sejumlah gambar berbeda benar-benar berasal dari objek yang sama.

“Kami mencoba memperkirakan orbitnya. Jika sebuah objek mengikuti orbit tersebut, kami dapat menentukan di mana objek itu seharusnya terlihat,” jelas salah satu peneliti dalam dokumenter tersebut.

Untuk menelusuri objek itu, tim menggunakan algoritma yang mencocokkan titik-titik pengamatan dengan kemungkinan orbit.

Setelah menemukan kandidat, peneliti kembali memeriksa data guna memastikan bahwa hasil tersebut bukan akibat kesalahan analisis.

Pencarian arsip turut membantu mengungkap keberadaan 2026 ED138 dalam gambar yang diambil menggunakan teleskop Blanco pada 2016.

Data lama tersebut menjadi petunjuk penting untuk melacak pergerakan objek selama lebih dari satu dekade sekaligus memperkirakan orbitnya dengan lebih akurat.

Ukuran dan Komposisi Masih Diteliti

Meski keberadaannya telah teridentifikasi, sejumlah karakteristik 2026 ED138 masih menjadi pertanyaan. Ukuran dan komposisi objek tersebut belum diketahui secara pasti.

Para ilmuwan berencana melakukan pengamatan lanjutan untuk memperkirakan ukurannya, mengidentifikasi bahan penyusunnya, serta meneliti kemungkinan adanya satelit alami yang mengorbit objek tersebut.

Informasi itu penting untuk membantu para astronom memahami karakteristik benda-benda di Sabuk Kuiper dan proses yang membentuk wilayah terluar Tata Surya.

“Kami masih belum sepenuhnya memahami bagaimana Tata Surya terbentuk. Semakin banyak objek yang ditemukan di wilayah terluarnya, semakin banyak petunjuk yang bisa membantu kami menyusun gambaran tentang proses tersebut,” lanjut tayangan tersebut.

Penemuan 2026 ED138 membuka peluang penelitian baru mengenai sejarah pembentukan Tata Surya.

Jika penelitian lanjutan membuktikan bahwa objek tersebut memenuhi kriteria planet kerdil, keberadaannya akan menambah daftar objek yang masuk dalam kategori tersebut.

Selain itu, pengamatan terhadap benda-benda di wilayah terluar Tata Surya dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi dan proses yang berlangsung sejak masa awal pembentukan sistem planet tempat Bumi berada. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
tata surya astronom ED138 bintang