RADARBONANG.ID – Perusahaan kini semakin gencar menggunakan kecerdasan artifisial atau AI untuk mempercepat pekerjaan.
Namun, semakin luas teknologi tersebut digunakan, semakin besar pula celah yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Ancaman tersebut tidak lagi sebatas virus, phishing, atau pencurian data. Infrastruktur AI juga mulai menjadi sasaran, termasuk model Large Language Model (LLM), plugin, hingga agen AI yang digunakan perusahaan.
Melihat perkembangan tersebut, Kaspersky meluncurkan Kaspersky AI Protect (KAIP) di kawasan Asia Pasifik.
Solusi ini dirancang untuk membantu perusahaan mendeteksi ancaman yang secara khusus menyasar infrastruktur AI, sekaligus tetap menangani ancaman siber konvensional.
Baca Juga: Ada Air Terjun Jatuh ke Laut di Pacitan, Pantai Banyu Tibo Bisa Jadi Destinasi Liburan yang Bikin Pe
Peluncuran tersebut dilakukan ketika aktivitas serangan siber di kawasan Asia Pasifik masih menjadi perhatian.
Kaspersky menyebut lebih dari 60 persen serangan siber yang tercatat secara global terjadi di kawasan tersebut.
Industri manufaktur dan layanan teknologi informasi termasuk sektor yang banyak menjadi sasaran.
AI Mulai Jadi Target Baru Pelaku Siber
Perkembangan teknologi AI membuat perusahaan memiliki semakin banyak komponen digital yang harus diamankan.
Model AI tidak selalu dibuat sepenuhnya dari dalam perusahaan.
Organisasi dapat menggunakan model dari pihak lain, plugin tambahan, maupun skrip untuk menjalankan agen AI.
Komponen tersebut dapat menjadi bagian dari rantai pasok teknologi perusahaan.
Menurut Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, salah satu kesalahpahaman yang masih terjadi adalah anggapan bahwa menyimpan model AI di dalam infrastruktur perusahaan sudah cukup untuk membuatnya aman.
Padahal, menurut Kaspersky, kode berbahaya dapat disusupkan melalui model weights, plugin AI, maupun skrip yang berasal dari luar organisasi.
Artinya, perusahaan tidak cukup hanya mengamankan komputer, server, dan jaringan.
Komponen yang digunakan untuk membangun sistem AI juga perlu diperiksa.
Ada Model Poisoning hingga Prompt Injection
Kaspersky menyoroti sejumlah ancaman yang berkembang seiring meningkatnya penggunaan AI.
Beberapa di antaranya adalah model poisoning, agen AI berbahaya, risiko rantai pasok AI, hingga prompt injection.
Model poisoning dapat dikaitkan dengan upaya memanipulasi model atau data yang digunakan dalam sistem AI.
Sementara prompt injection merupakan teknik yang dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi cara sistem AI memproses instruksi.
Ancaman tersebut menjadi semakin relevan ketika AI mulai digunakan untuk menjalankan tugas yang lebih kompleks.
Agen AI, misalnya, dapat dirancang untuk menjalankan sejumlah tindakan secara otomatis berdasarkan instruksi tertentu.
Jika komponen yang digunakan tidak aman, risiko yang muncul bisa ikut masuk ke dalam sistem perusahaan.
Lebih dari 92 Ribu Serangan Menyamar sebagai Layanan AI
Kaspersky juga mengungkap adanya peningkatan penyalahgunaan nama layanan AI untuk melakukan serangan.
Perusahaan keamanan siber tersebut mencatat lebih dari 92.000 serangan berbahaya yang menyamarkan diri sebagai layanan AI secara global selama paruh pertama 2026.
Angka tersebut merupakan data yang tercatat dalam sistem Kaspersky.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa popularitas AI juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Nama layanan AI dapat digunakan sebagai umpan agar korban lebih mudah percaya atau tertarik membuka suatu file maupun layanan.
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tantangan karena penggunaan AI berkembang lebih cepat dibandingkan kesiapan sebagian organisasi dalam mengelola risikonya.
KAIP Dirancang untuk Periksa Komponen AI
Kaspersky AI Protect dikembangkan untuk memeriksa file LLM dan komponen agen AI guna mendeteksi fungsi yang dianggap berbahaya.
Perlindungan tersebut tidak hanya ditujukan untuk sistem AI. KAIP juga tetap membawa kemampuan untuk menangani ancaman siber konvensional.
Solusi tersebut dapat diintegrasikan dengan berbagai aplikasi perusahaan.
Kaspersky menyebut KAIP dapat digunakan untuk memberikan perlindungan pada portal dan aplikasi web, server proxy, penyimpanan yang terhubung ke jaringan atau NAS, hingga gateway email.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak harus memandang keamanan AI sebagai sistem yang sepenuhnya terpisah dari keamanan siber yang sudah digunakan.
AI Tidak Cukup Hanya Cepat, Harus Aman
Simon Tung, General Manager Kaspersky untuk ASEAN dan Asia Emerging Countries, menilai keamanan seharusnya tidak menjadi penghambat perkembangan AI.
Menurutnya, keamanan justru perlu menjadi bagian dari seluruh siklus penggunaan AI.
Mulai dari proses memasukkan model hingga penerapan agen AI dalam lingkungan perusahaan.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena perusahaan mulai menggunakan AI bukan hanya untuk membuat teks atau gambar.
Teknologi tersebut juga digunakan untuk menganalisis data, membantu pengambilan keputusan, mengotomatisasi pekerjaan, hingga menjalankan tugas tertentu secara mandiri.
Semakin besar peran AI dalam operasional perusahaan, semakin besar pula konsekuensi apabila sistem tersebut berhasil disusupi.
Karena itu, keamanan tidak ideal jika baru dipikirkan setelah sebuah sistem AI selesai dibuat.
Ancaman AI Bisa Menyentuh UMKM
Persoalan keamanan AI juga tidak hanya berkaitan dengan perusahaan teknologi besar.
Kaspersky menyebut usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM turut menghadapi risiko karena kemampuan pertahanan siber di setiap organisasi belum merata.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena semakin banyak bisnis menggunakan layanan berbasis AI untuk pekerjaan sehari-hari.
Mulai dari pembuatan konten, layanan pelanggan, analisis data, hingga berbagai kebutuhan administrasi dapat melibatkan teknologi AI.
Penggunaan yang semakin luas membuat pemilik usaha perlu lebih memperhatikan dari mana aplikasi, plugin, model, dan layanan AI yang digunakan berasal.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Setiap Hari Bisa Bikin Kolesterol dan Picu Penyakit Jantung? Ini Penjelasannya
Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuka pintu baru bagi serangan siber.
Pada akhirnya, kehadiran Kaspersky AI Protect menunjukkan bahwa perkembangan AI mulai membawa kebutuhan baru dalam dunia keamanan digital.
Perusahaan tidak lagi cukup hanya bertanya apakah AI bisa membuat pekerjaan lebih cepat.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah teknologi tersebut aman digunakan dan bagaimana setiap komponen di dalamnya dapat diperiksa.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, keamanan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari inovasi.
Sebab, semakin pintar teknologi yang digunakan, semakin penting pula memastikan sistem di belakangnya tidak menjadi celah bagi pelaku kejahatan siber.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com