RADARBONANG.ID – Memakai headset virtual reality (VR) bisa membuat seseorang merasa benar-benar berada di tempat lain.
Dunia digital yang tampil di depan mata terasa lebih nyata dibandingkan ketika seseorang hanya melihat layar komputer biasa.
Ternyata, tingkat imersi tersebut juga dapat memengaruhi pengalaman psikologis seseorang.
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa penggunaan VR dapat memicu pengalaman yang oleh peneliti dikategorikan sebagai pengalaman mistis pada sebagian peserta.
Pengalaman tersebut antara lain ditandai dengan rasa menyatu dengan lingkungan, perubahan persepsi waktu dan ruang, emosi positif yang kuat, serta kesulitan menjelaskan pengalaman menggunakan kata-kata.
Baca Juga: Jangan Langsung Panik Saat HP Android Hilang, Coba Lacak dan Amankan Data Lewat Find Hub Google
Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul “Mystical Experiences in Virtual Reality 2: Fantasy Versus Realism and Psychophysiological Correlates” yang dilakukan Rebekka Miller, Tallulah Nyland, dan Paul Frewen dari Western University.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Psychology of Consciousness: Theory, Research, and Practice.
Namun, temuan ini bukan berarti VR dapat menghadirkan makhluk gaib atau membuktikan keberadaan dunia supranatural.
Yang diteliti adalah pengalaman subjektif manusia ketika berada dalam lingkungan virtual yang sangat imersif.
80 Orang Ikut Eksperimen
Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan 80 orang dewasa muda.
Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok dengan pengalaman yang berbeda.
Kelompok pertama mengikuti panduan imajinasi fantastis.
Peserta diajak membayangkan berbagai situasi, termasuk gambaran roh hewan yang muncul dari api unggun dan lubang hitam di langit.
Kelompok lainnya mengikuti meditasi pernapasan yang dibuat lebih realistis.
Kedua kelompok menggunakan lingkungan virtual bernama Nature Treks: Together.
Lingkungan digital tersebut menampilkan pulau, tumbuhan, bebatuan, serta kehidupan laut.
Peserta dapat menjelajahi lingkungan tersebut menggunakan avatar tanpa tubuh.
Dengan konsep tersebut, peneliti dapat melihat bagaimana perbedaan tingkat imersi memengaruhi pengalaman yang dirasakan peserta.
VR Dibandingkan dengan Layar Komputer
Hal menarik dalam penelitian tersebut adalah setiap peserta mengalami lingkungan yang sama dalam dua kondisi.
Pertama menggunakan headset VR.
Kedua menggunakan monitor komputer dua dimensi.
Dengan cara tersebut, peneliti dapat membandingkan pengalaman ketika seseorang benar-benar merasa berada di dalam lingkungan digital dengan ketika hanya melihat lingkungan tersebut melalui layar.
Selama eksperimen berlangsung, aktivitas listrik otak peserta direkam menggunakan electroencephalography atau EEG.
Peneliti juga memantau detak jantung serta variabilitas detak jantung.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok.
Sebanyak 28 persen peserta dari kelompok imajinasi dan 18 persen peserta dari kelompok meditasi mengalami pengalaman yang memenuhi kriteria peneliti untuk disebut sebagai pengalaman mistis ketika menggunakan VR.
Sementara itu, tidak ada peserta yang mencapai ambang tersebut ketika menggunakan monitor komputer.
Mengapa Bisa Terasa Seperti Pengalaman Mistis?
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan tingkat kehadiran atau presence.
Ketika menggunakan VR, pengguna tidak hanya melihat gambar pada layar.
Lingkungan digital memenuhi bidang pandang dan dapat merespons pergerakan kepala atau tubuh.
Kondisi tersebut membuat otak lebih mudah memperlakukan lingkungan virtual sebagai sesuatu yang sedang dialami secara langsung.
Penelitian lain mengenai VR juga menemukan bahwa pengalaman yang lebih imersif dapat menghasilkan skor lebih tinggi pada berbagai dimensi pengalaman mistis dibandingkan tampilan melalui layar komputer biasa.
Studi tersebut melibatkan 70 peserta dan menggunakan pengalaman audiovisual yang sama dalam dua media berbeda.
Artinya, bukan hanya isi yang dilihat pengguna yang berpengaruh.
Cara informasi tersebut disajikan juga dapat mengubah bagaimana pengalaman dirasakan.
Lingkungan virtual yang sangat imersif dapat membuat seseorang lebih tenggelam dalam pengalaman tersebut.
Rasa Takjub dan Hadir di Dunia Virtual
Dalam penelitian Miller dan kolega, penggunaan VR juga menghasilkan skor yang lebih tinggi dalam sejumlah pengalaman subjektif.
Peserta melaporkan rasa takjub, ketenangan, ketertarikan, dan keindahan yang lebih kuat.
Mereka juga merasakan kehadiran secara fisik dan temporal yang lebih tinggi di lingkungan virtual.
Sebaliknya, penggunaan monitor komputer lebih banyak dikaitkan dengan rasa bosan dan kelelahan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa VR memiliki kemampuan untuk mengubah cara seseorang mengalami sebuah konten.
Sebuah pemandangan digital yang terlihat biasa ketika ditampilkan melalui monitor dapat terasa jauh lebih intens ketika seseorang merasa seolah-olah berada di dalamnya.
Pengalaman Mistis Tidak Selalu Berarti Hal Gaib
Istilah pengalaman mistis dalam penelitian psikologi tidak secara otomatis berarti seseorang melihat hantu atau bertemu makhluk gaib.
Dalam konteks penelitian tersebut, pengalaman mistis merujuk pada kondisi psikologis tertentu.
Seseorang dapat merasakan batas antara dirinya dan lingkungan seolah menjadi kabur.
Persepsi terhadap waktu dan ruang juga dapat berubah.
Emosi positif dapat terasa sangat kuat hingga pengalaman tersebut sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.
Penelitian mengenai “felt presence” atau rasa seolah ada seseorang di sekitar, padahal tidak ada orang yang terlihat, juga menunjukkan bahwa pengalaman seperti itu telah dipelajari dalam berbagai konteks psikologi dan neurologi.
Bahkan, pengalaman rasa kehadiran tersebut diketahui dapat berkaitan dengan kondisi yang sangat imersif.
Karena itu, pengalaman yang terasa mistis perlu dibedakan dari kesimpulan bahwa seseorang benar-benar berinteraksi dengan dunia supranatural.
VR Makin Imersif, Pengalaman Makin Beragam
Temuan tersebut menjadi menarik karena teknologi VR terus berkembang.
Perangkat VR tidak lagi hanya digunakan untuk bermain game.
Teknologi tersebut mulai digunakan dalam pendidikan, simulasi, hiburan, pelatihan, terapi, hingga berbagai eksperimen psikologi.
Semakin imersif teknologi yang digunakan, semakin besar pula kemungkinan pengguna merasakan pengalaman yang berbeda dari ketika berhadapan dengan layar biasa.
Namun, hal tersebut tidak berarti VR selalu menghasilkan pengalaman mistis.
Dalam penelitian yang dilakukan Miller dan kolega, hanya sebagian peserta yang memenuhi kriteria pengalaman mistis tersebut.
Artinya, respons setiap orang tetap dapat berbeda.
Baca Juga: Limbah Pertanian Bisa Kembali ke Lahan, Begini Cara Biochar dan Kompos Bantu Menyuburkan Tanah
Latar belakang, kondisi psikologis, cara seseorang merespons lingkungan virtual, serta jenis pengalaman yang diberikan juga dapat memengaruhi hasil.
Pada akhirnya, studi tersebut menunjukkan bahwa VR bukan sekadar teknologi untuk membuat gambar terlihat tiga dimensi.
Ketika seseorang merasa benar-benar berada di dalam sebuah lingkungan digital, teknologi tersebut dapat memengaruhi cara manusia merasakan ruang, waktu, emosi, bahkan hubungan antara dirinya dan lingkungan.
Pengalaman yang muncul mungkin terasa sangat nyata.
Namun, rasa nyata tersebut tetap perlu dipahami sebagai pengalaman psikologis dalam lingkungan virtual, bukan otomatis sebagai bukti adanya fenomena supranatural.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com