Google Mulai Uji Project Suncatcher, Bisakah Pusat Data AI Dipindahkan dari Bumi ke Luar Angkasa?

Andika Julia Perdana Putra • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 08:01 WIB
Google mulai menguji gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah: menjalankan komputasi AI di luar angkasa. Lewat Project Suncatcher, satelit kecil akan membawa chip TPU untuk diuji menghadapi radiasi, panas, energi, dan kondisi ekstrem di orbit. (Sumber: @sundarpichai/X)
Google mulai menguji gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah: menjalankan komputasi AI di luar angkasa. Lewat Project Suncatcher, satelit kecil akan membawa chip TPU untuk diuji menghadapi radiasi, panas, energi, dan kondisi ekstrem di orbit. (Sumber: @sundarpichai/X)

RADARBONANG.ID – Pusat data biasanya identik dengan bangunan besar yang dipenuhi rak server, kabel, sistem pendingin, dan konsumsi listrik dalam jumlah tinggi.

Namun, Google kini mulai menguji gagasan yang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah: menjalankan pemrosesan kecerdasan buatan atau AI di luar angkasa.

Gagasan tersebut dikembangkan melalui Project Suncatcher.

Google berencana menguji kemampuan perangkat keras AI dalam lingkungan orbit Bumi dengan mengirim satelit kecil yang membawa chip pemroses khusus.

Langkah awal ini belum berarti Google akan segera membangun pusat data raksasa di luar angkasa.

Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah perangkat keras komputasi dapat bekerja dalam kondisi ekstrem sekaligus menjawab berbagai persoalan teknis yang muncul ketika pusat data dipindahkan dari Bumi.

Salah satu satelit yang digunakan dalam tahap awal proyek tersebut adalah MVP.

Satelit ini dijadwalkan meluncur menggunakan roket SpaceX Falcon 9 pada 1 Oktober.

Baca Juga: Cara Membuat Accordion Potato, Kentang Goreng Kekinian yang Renyah dengan Bahan Sederhana

Satelit Membawa Empat Chip AI Google

MVP akan membawa empat Tensor Processing Unit atau TPU Google Trillium.

Keempat chip tersebut secara keseluruhan memiliki kemampuan komputasi yang disebut setara dengan satu server pusat data.

Satelit tersebut juga dilengkapi panel surya dengan kapasitas sekitar satu kilowatt.

Energi yang dihasilkan akan digunakan untuk menjalankan permintaan AI sederhana selama kurang lebih satu tahun.

Meski aktivitas pemrosesan direncanakan berlangsung sekitar satu tahun, satelit tersebut diproyeksikan tetap berada di orbit selama enam tahun sebelum akhirnya kembali memasuki atmosfer Bumi.

Pengujian ini menjadi penting karena lingkungan luar angkasa memiliki kondisi yang sangat berbeda dengan pusat data di permukaan Bumi.

Perangkat tidak hanya harus bekerja dengan sumber energi yang terbatas, tetapi juga menghadapi radiasi, persoalan panas, serta kebutuhan komunikasi dengan sistem lain.

Radiasi Jadi Ancaman bagi Chip AI

Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan komputer di luar angkasa adalah radiasi.

Di luar atmosfer Bumi, perangkat elektronik dapat terpapar partikel berenergi tinggi.

Paparan tersebut berpotensi mengganggu komponen elektronik, termasuk chip pemroses AI.

Salah satu gangguan yang dapat terjadi disebut bit flip.

Kondisi tersebut terjadi ketika nilai biner dalam sistem komputer berubah akibat gangguan radiasi.

Perubahan kecil pada data memang terlihat sederhana.

Namun, pada sistem komputasi yang sedang menjalankan proses tertentu, kesalahan tersebut berpotensi memengaruhi pengoperasian perangkat.

Karena itu, ketahanan chip terhadap radiasi menjadi salah satu hal yang harus diuji sebelum konsep pusat data AI di luar angkasa dapat dikembangkan lebih jauh.

Google Sudah Menguji TPU di Bumi

Sebelum dikirim ke orbit, Google telah melakukan pengujian terhadap chip yang akan digunakan.

Pengujian radiasi dilakukan di Crocker Nuclear Laboratory, University of California, Davis atau UC Davis.

Chip tersebut sengaja diberikan paparan radiasi untuk mengetahui seberapa kuat perangkat menghadapi kondisi yang menyerupai lingkungan luar angkasa.

Hasil awal pengujian menunjukkan TPU mampu bertahan terhadap tingkat radiasi yang lebih tinggi dibandingkan paparan yang diperkirakan selama misi lima tahun.

Meski hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai ketahanan perangkat, pengujian di laboratorium tetap berbeda dengan pengalaman perangkat ketika benar-benar berada di orbit.

Karena itu, pengujian langsung melalui satelit menjadi bagian penting dari Project Suncatcher.

Bagaimana Mendinginkan Komputer di Luar Angkasa?

Selain radiasi, Google juga menghadapi persoalan lain yang tidak kalah rumit, yakni panas.

Komputer dan chip berdaya tinggi menghasilkan panas ketika digunakan.

Di pusat data di Bumi, panas tersebut dapat dikelola menggunakan berbagai sistem pendingin dan sirkulasi udara.

Namun, kondisi di luar angkasa berbeda.

Tidak terdapat udara yang dapat digunakan untuk membawa panas keluar dari perangkat.

Karena itu, sistem harus mengandalkan radiator serta teknologi perpindahan panas lainnya untuk membuang energi panas yang dihasilkan perangkat.

Google disebut masih perlu mengembangkan sistem tersebut karena teknologi pendinginan yang digunakan dalam lingkungan luar angkasa memiliki keterbatasan.

Pengujian di orbit diharapkan dapat memberikan data mengenai bagaimana sistem pendingin bekerja ketika perangkat benar-benar digunakan untuk menjalankan beban komputasi.

Google Bayangkan Puluhan Satelit AI

Project Suncatcher tidak berhenti pada satu satelit.

Google berencana melanjutkan pengembangan dengan meluncurkan dua satelit serupa pada 2027.

Jika pengujian berjalan sesuai rencana, proyek tersebut dapat dikembangkan menjadi jaringan satelit yang lebih besar.

Dalam visi jangka panjangnya, Google membayangkan hingga 80 satelit yang saling terhubung.

Satelit-satelit tersebut nantinya dapat berkomunikasi menggunakan teknologi laser untuk mengirimkan data dan memproses beban kerja AI.

Konsep tersebut pada dasarnya mencoba membayangkan pusat komputasi yang tidak lagi seluruhnya bergantung pada bangunan fisik di permukaan Bumi.

Namun, gambaran tersebut masih berada pada tahap pengembangan teknologi.

Kenapa Pusat Data AI Dibawa ke Luar Angkasa?

Meningkatnya kebutuhan komputasi AI membuat perusahaan teknologi terus mencari cara untuk menyediakan kapasitas pemrosesan yang lebih besar.

Pusat data membutuhkan energi dalam jumlah besar. Selain itu, sistem komputasi dengan kepadatan tinggi juga menghasilkan panas yang harus dikelola.

Ruang angkasa menawarkan lingkungan yang berbeda.

Energi matahari tersedia secara terus-menerus di wilayah tertentu di orbit dan tidak ada atmosfer yang menghalangi akses langsung terhadap sumber energi tersebut.

Namun, keuntungan tersebut datang bersama persoalan baru yang jauh lebih kompleks.

Perangkat harus diluncurkan menggunakan roket. Sistem harus mampu bertahan dari radiasi.

Baca Juga: Fasilitas Mewah Lapas Cibinong Disorot, Ini 15 Nama yang Disebut hingga Ada Bantahan Ditjenpas

Panas harus dibuang tanpa mengandalkan udara. Satelit juga membutuhkan sistem komunikasi yang stabil.

Semua persoalan tersebut membuat pusat data AI di luar angkasa belum bisa langsung menggantikan pusat data di Bumi.

Masih Jauh dari Pusat Data di Luar Angkasa

Google sendiri mengakui bahwa pusat data AI yang beroperasi penuh di luar angkasa belum akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Project Suncatcher saat ini lebih tepat dilihat sebagai rangkaian penelitian dan pengujian untuk mengetahui apakah konsep tersebut secara teknis memungkinkan.

Radiasi, pendinginan, pasokan energi, komunikasi, hingga biaya peluncuran masih menjadi tantangan yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jika seluruh persoalan tersebut suatu hari dapat diatasi, cara manusia membangun infrastruktur komputasi berpotensi berubah.

Namun untuk saat ini, Google masih berada pada tahap menguji satu pertanyaan dasar: apakah chip AI dapat bekerja secara andal ketika pusat komputasi benar-benar dipindahkan dari Bumi ke orbit?

Project Suncatcher menjadi salah satu upaya untuk mencari jawabannya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : engadget.com
Project Suncatcher Google pusat data AI luar angkasa Google AI luar angkasa satelit AI Google TPU Trillium