RADARBONANG.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat kebutuhan terhadap pusat data terus meningkat.
Di balik semakin banyaknya layanan digital yang ditopang teknologi tersebut, terdapat persoalan lain yang ikut menjadi perhatian, yakni konsumsi energi dan air.
Kondisi tersebut mendorong Uni Eropa memperketat pengawasan terhadap pusat data.
Kawasan tersebut mulai menerapkan sistem label keberlanjutan yang dirancang untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai penggunaan sumber daya di fasilitas digital.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya Uni Eropa menjaga pertumbuhan infrastruktur digital agar tetap berjalan seiring dengan target efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
Pusat Data Mulai Mendapat Label Keberlanjutan
Mulai 21 September, pusat data dengan kapasitas lebih dari 500 kilowatt yang melaporkan data berdasarkan aturan efisiensi energi Uni Eropa akan mendapatkan label keberlanjutan elektronik.
Baca Juga: Bukan Kue Lapis, Ini Kue Lam Khas Barabai yang Punya Sejarah Panjang Sejak Kesultanan Banjar
Label tersebut nantinya memuat sejumlah informasi penting mengenai operasional pusat data.
Beberapa di antaranya adalah tingkat efisiensi penggunaan listrik, konsumsi air, hingga sumber energi yang digunakan.
Kehadiran label ini membuat informasi mengenai dampak lingkungan pusat data menjadi lebih mudah diperhatikan.
Selama ini, pusat data memang menjadi bagian penting dari infrastruktur digital, tetapi kebutuhan sumber dayanya juga terus meningkat.
Peningkatan tersebut semakin terasa ketika teknologi AI berkembang pesat.
Model AI membutuhkan infrastruktur komputasi dalam jumlah besar untuk menjalankan berbagai proses, mulai dari pelatihan model hingga melayani permintaan pengguna.
Konsumsi Listrik Diperkirakan Terus Naik
Besarnya kebutuhan energi pusat data menjadi salah satu alasan Uni Eropa mulai meningkatkan pengawasan.
Berdasarkan data Uni Eropa, pusat data di kawasan tersebut mengonsumsi sekitar 68 terawatt-jam atau TWh listrik sepanjang 2024.
Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 114 TWh pada 2030.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, konsumsi listrik pusat data dapat mencapai sekitar 3,2 persen dari total konsumsi listrik Uni Eropa.
Kenaikan kebutuhan listrik tersebut tidak terlepas dari semakin berkembangnya layanan digital dan teknologi AI.
Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar agar server, sistem pendingin, jaringan, serta berbagai perangkat pendukung dapat bekerja selama 24 jam.
Karena itu, pertumbuhan pusat data bukan hanya menjadi persoalan bagi perusahaan teknologi.
Kebutuhan energi tersebut juga berkaitan dengan kemampuan jaringan listrik dalam memenuhi permintaan yang semakin besar.
Uni Eropa Ingin Kapasitas Pusat Data Berlipat
Di sisi lain, Uni Eropa justru memiliki target untuk meningkatkan kapasitas pusat data secara signifikan.
Kawasan tersebut berencana melipatgandakan kapasitas pusat data hingga tiga kali lipat pada 2035.
Pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat infrastruktur teknologi, termasuk mendukung kebutuhan AI yang terus berkembang.
Langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya Uni Eropa mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat.
Namun, rencana ekspansi pusat data dalam skala besar turut menimbulkan sejumlah perhatian.
Selain kebutuhan listrik, fasilitas tersebut membutuhkan air untuk mendukung sistem pendinginan.
Pembangunan pusat data di wilayah tertentu berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan sumber daya serta jaringan infrastruktur di sekitarnya.
Dampaknya juga dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas apabila kebutuhan energi dan air meningkat secara signifikan.
Standar Minimum Baru Berlaku 2027
Untuk saat ini, sistem label keberlanjutan yang diperkenalkan Uni Eropa belum menetapkan batas maksimal konsumsi energi maupun air bagi pusat data.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti aturan berhenti pada sistem pelaporan.
Komisi Eropa berencana memperkenalkan standar kinerja minimum pada 2027.
Standar tersebut nantinya akan menetapkan persyaratan efisiensi yang harus dipenuhi oleh pusat data baru.
Artinya, pengembangan fasilitas pusat data pada masa mendatang tidak hanya akan mempertimbangkan kapasitas komputasi. Efisiensi penggunaan sumber daya juga menjadi bagian penting dari pembangunan fasilitas tersebut.
Aturan baru itu diharapkan dapat mendorong operator pusat data menggunakan teknologi yang lebih hemat energi dan air.
Perusahaan Teknologi Ikut Soroti Aturan
Rencana tersebut juga mendapat perhatian dari perusahaan teknologi yang menjalankan pusat data dalam skala besar.
Microsoft, misalnya, telah mengusulkan perubahan terhadap indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan air.
Perdebatan mengenai indikator tersebut menunjukkan bahwa penyusunan standar keberlanjutan pusat data tidak hanya berkaitan dengan angka konsumsi.
Cara pengukuran dan indikator yang digunakan juga menjadi bagian penting dalam menentukan seberapa efisien sebuah fasilitas.
Kelompok pengawas Corporate Europe Observatory turut menyoroti persoalan transparansi.
Mereka memperingatkan adanya potensi keterbatasan informasi apabila sebagian data operasional pusat data tidak dapat dipublikasikan karena alasan kerahasiaan.
Bukan Sekadar Hemat Listrik
Selain mengawasi konsumsi energi dan air, Uni Eropa juga mengevaluasi cara agar pusat data dapat memberikan manfaat tambahan bagi sistem energi.
Salah satu kemungkinan yang dikaji adalah pemanfaatan panas sisa dari pusat data untuk memasok kebutuhan rumah tangga.
Pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar selama server beroperasi.
Baca Juga: 6 Hours of Fuji 2026 Jadi Penentu, Toyota, BMW dan Ferrari Berebut Gelar WEC dengan Selisih Tipis
Jika teknologi dan infrastrukturnya memungkinkan, panas tersebut dapat dimanfaatkan kembali daripada terbuang begitu saja.
Uni Eropa juga mempertimbangkan kemungkinan pusat data membantu menyeimbangkan sistem kelistrikan.
Dengan berbagai langkah tersebut, perkembangan infrastruktur digital di Eropa diarahkan untuk tidak hanya mengejar kapasitas komputasi.
Efisiensi energi, penggunaan air, transparansi, hingga pemanfaatan kembali energi menjadi bagian dari pembahasan ketika AI dan pusat data terus berkembang.
Perubahan aturan yang mulai diterapkan saat ini menjadi langkah awal menuju standar yang lebih ketat pada 2027.
Bagi industri teknologi, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan AI ke depan akan semakin berkaitan dengan persoalan energi dan keberlanjutan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : euronews.com