RADARBONANG.ID - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau AI ternyata menghadapi persoalan yang sangat mendasar: ketersediaan listrik.
Pertumbuhan kebutuhan komputasi membuat pusat data AI di Amerika Serikat membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.
Masalahnya, pusat data baru bahkan dilaporkan dapat menunggu hingga satu dekade atau lebih untuk memperoleh sambungan listrik ke jaringan.
Kondisi tersebut mendorong NVIDIA, Google, dan Emerald AI membentuk AI Energy Management Alliance (AEMA).
Aliansi ini berupaya mengubah cara pusat data AI mengelola konsumsi energi agar lebih fleksibel dan tidak selalu memberikan tekanan besar kepada jaringan listrik.
Baca Juga: Honor Perkenalkan MagicOS 11, Yoyo AI Bisa Jalankan 100 Tindakan dan Storage Bisa Lebih Lega
Pusat Data Bisa Lebih Fleksibel
Melalui AEMA, ketiga perusahaan mendorong terciptanya standar yang memungkinkan pusat data menyesuaikan penggunaan listrik berdasarkan kondisi jaringan.
Konsep tersebut mengubah cara pusat data dipandang dalam sistem kelistrikan.
Pusat data tidak hanya menjadi pelanggan yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar secara terus-menerus, tetapi juga dapat berfungsi sebagai beban yang konsumsi dayanya bisa dikendalikan.
Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI.
Tidak semua pekerjaan yang dilakukan pusat data harus diselesaikan dalam waktu yang sama.
Beban kerja yang tidak mendesak dapat diperlambat, dijeda, atau dialihkan ketika jaringan listrik sedang menghadapi tekanan tinggi.
Dengan cara tersebut, konsumsi energi pusat data dapat disesuaikan tanpa harus menghentikan seluruh aktivitas komputasi.
Baterai hingga Pembangkit di Lokasi
Fleksibilitas pusat data juga dapat didukung oleh teknologi lain.
Salah satunya adalah baterai yang bisa digunakan ketika jaringan berada dalam periode permintaan listrik tinggi.
Pusat data juga dapat memanfaatkan pembangkit listrik di lokasi sebagai sumber tambahan.
Perangkat lunak kemudian dapat mengatur pekerjaan komputasi berdasarkan kondisi pasokan listrik yang tersedia.
Sistem tersebut memungkinkan pekerjaan yang sifatnya tidak mendesak dipindahkan ke waktu ketika tekanan terhadap jaringan lebih rendah.
Konsep ini menjadi penting karena permintaan listrik tidak selalu berada pada tingkat yang sama sepanjang hari.
Beban jaringan dapat meningkat tajam pada waktu tertentu, misalnya ketika cuaca panas membuat penggunaan pendingin ruangan melonjak.
Potensi Membuka Kapasitas hingga 100 GW
CEO Emerald AI Varun Sivaram mengatakan pusat data baru di Amerika Serikat saat ini dapat menghadapi waktu tunggu hingga satu dekade atau lebih untuk memperoleh sambungan listrik.
Menurut Sivaram, perusahaan utilitas harus memastikan kapasitas tersedia untuk seluruh pelanggan ketika kebutuhan listrik mencapai titik puncak.
Di sisi lain, rata-rata pemanfaatan jaringan listrik disebut berada di kisaran 50 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kapasitas jaringan yang tidak selalu digunakan secara maksimal pada setiap waktu.
Sivaram menilai pusat data AI yang mampu mengatur konsumsi listrik secara fleksibel dapat membantu memanfaatkan kapasitas tersebut.
Jika pusat data bersedia mengurangi beban komputasi ketika jaringan berada dalam kondisi paling berat, kapasitas yang tersedia dari jaringan yang sudah ada berpotensi mencapai hingga 100 gigawatt untuk pusat data yang menerapkan sistem fleksibel.
AEMA Dorong Standar Baru
AEMA tidak hanya berfokus pada teknologi pengelolaan energi.
Aliansi tersebut juga mendorong standardisasi berbagai persyaratan teknis, metrik kinerja, serta mekanisme pertukaran data operasional.
Standar tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pengelola jaringan ketika memproses permintaan sambungan dari pusat data baru.
Pusat data yang mampu memenuhi persyaratan fleksibilitas dapat memiliki peluang untuk mendapatkan proses sambungan yang lebih cepat.
Skema berbagi biaya pembangunan infrastruktur juga disebut sebagai salah satu kemungkinan yang dapat dikembangkan.
Dengan pendekatan tersebut, pusat data AI tidak hanya menunggu jaringan listrik menyediakan kapasitas baru.
Mereka juga dituntut menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan konsumsi ketika kondisi jaringan berubah.
Persaingan AI Mulai Bergeser
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan industri AI semakin melebar.
Selama ini, perhatian besar tertuju pada kemampuan chip, model AI, kapasitas komputasi, dan pembangunan pusat data.
Namun, seluruh infrastruktur tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Baca Juga: Darurat Sampah Makin Serius, Pemerintah Siapkan 24 Proyek PSEL di Berbagai Daerah
Tanpa pasokan listrik yang memadai, pusat data dengan teknologi paling canggih sekalipun tidak dapat beroperasi secara optimal.
Karena itu, akses terhadap energi mulai menjadi bagian penting dalam ekspansi industri AI.
Kemampuan mengelola konsumsi listrik secara fleksibel dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan terhadap jaringan sekaligus mempercepat pembangunan pusat data baru.
Bagi Amerika Serikat, persoalan tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI.
Perlombaan membangun AI pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memiliki chip atau pusat data paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu mendapatkan dan mengelola energi untuk menjalankannya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang