Lagu Buatan AI Terancam Dilarang di Tangga Lagu Australia, Ini Aturan Baru ARIA

Andika Julia Perdana Putra • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:11 WIB
AI makin canggih, tapi industri musik mulai pasang batas. Australia resmi melarang lagu yang mayoritas dibuat AI generatif masuk tangga lagu nasional. (Ilustrasi)
AI makin canggih, tapi industri musik mulai pasang batas. Australia resmi melarang lagu yang mayoritas dibuat AI generatif masuk tangga lagu nasional. (Ilustrasi)

RADARBONAG.ID — Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri musik mulai mendapat batasan baru di Australia.

Asosiasi Industri Rekaman Australia (ARIA) resmi menerapkan aturan yang membatasi lagu dengan kontribusi AI generatif untuk masuk ke tangga lagu nasional.

Kebijakan tersebut hadir di tengah semakin maraknya penggunaan teknologi AI dalam proses produksi musik.

Mulai dari menciptakan suara, membuat instrumen, hingga menghasilkan bagian tertentu dari sebuah lagu, teknologi generatif kini semakin mudah digunakan.

Namun, ARIA ingin memastikan tangga lagu tetap mencerminkan karya musik yang memiliki kontribusi kreatif manusia secara nyata.

Baca Juga: Istana Tanggapi Unjuk Rasa 27 Agustus, RUU Perampasan Aset Disebut Sejalan dengan Sikap Presiden

Lagu yang Sepenuhnya Dibuat AI Tak Bisa Masuk Chart

Berdasarkan aturan baru tersebut, rekaman yang seluruhnya atau sebagian besar dibuat menggunakan AI generatif tidak akan memenuhi syarat untuk masuk ke tangga lagu Australia.

Artinya, musisi tidak serta-merta dilarang menggunakan teknologi AI dalam proses produksi.

Penggunaan AI masih diperbolehkan selama manusia tetap memegang porsi utama dalam proses kreatif sebuah karya.

ARIA juga menetapkan bahwa lagu yang menggunakan AI harus terbebas dari indikasi manipulasi streaming maupun manipulasi tangga lagu.

Aturan tersebut mulai diberlakukan pada Jumat ini dan menjadi salah satu langkah terbaru industri musik Australia dalam menghadapi perkembangan teknologi generatif.

Tidak Semua Penggunaan AI Langsung Dilarang

Hal menarik dari kebijakan ARIA adalah adanya perbedaan antara AI sebagai alat bantu dan AI sebagai pencipta utama sebuah rekaman.

Penggunaan teknologi AI untuk membantu proses produksi masih dapat diterima dalam kondisi tertentu.

Sebagai contoh, vokal utama yang dinyanyikan manusia tetapi memiliki vokal latar yang dibuat menggunakan AI masih diperbolehkan.

Dengan pendekatan tersebut, ARIA tidak sepenuhnya menutup pintu terhadap perkembangan teknologi. Yang menjadi perhatian adalah seberapa besar peran AI dalam menghasilkan sebuah karya.

Sebaliknya, apabila vokal utama atau instrumen penting dalam sebuah lagu sepenuhnya dihasilkan oleh AI, rekaman tersebut dapat dinyatakan tidak memenuhi persyaratan untuk masuk tangga lagu.

ARIA Ingin Chart Mewakili Musik yang Dikonsumsi Publik

CEO ARIA Annabelle Herd mengatakan keberadaan tangga lagu memiliki fungsi penting dalam menggambarkan musik yang benar-benar dinikmati oleh masyarakat Australia.

Karena itu, aturan mengenai kontribusi AI dibuat untuk menjaga integritas chart di tengah perubahan teknologi produksi musik.

Rekaman yang dinilai melanggar ketentuan dapat dikeluarkan dari tangga lagu. Meski demikian, artis yang terkena keputusan tersebut tetap diberikan kesempatan untuk mengajukan banding.

Mekanisme tersebut memberikan ruang bagi musisi untuk mempertanyakan keputusan apabila mereka merasa karyanya seharusnya tetap memenuhi persyaratan.

Lagu Tak Lolos Chart Juga Tak Bisa Ikut ARIA Awards

Aturan baru tersebut tidak hanya berdampak terhadap tangga lagu nasional.

Rekaman yang menggunakan unsur AI dan dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk masuk chart juga tidak dapat bersaing dalam ARIA Awards.

Dengan demikian, status penggunaan AI dalam sebuah karya bisa memberikan dampak yang lebih luas terhadap peluang sebuah lagu untuk mendapatkan pengakuan di industri musik Australia.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa ARIA mulai membuat batas yang lebih jelas antara penggunaan AI sebagai perangkat pendukung dan produksi musik yang sebagian besar dikerjakan oleh mesin.

Industri Musik Global Mulai Hadapi Tantangan Serupa

Langkah Australia tersebut muncul ketika perdebatan mengenai AI dalam industri musik semakin berkembang di berbagai negara.

Persoalan yang dibahas bukan hanya mengenai teknologi, tetapi juga menyangkut hak cipta, kepemilikan karya, royalti, identitas musisi, hingga posisi kreativitas manusia di tengah perkembangan AI.

Federasi Internasional Industri Fonografi atau IFPI sebelumnya juga telah menerapkan prinsip yang membatasi lagu yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI dari sejumlah tangga lagu regional.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa industri musik global mulai mencari cara untuk beradaptasi dengan teknologi generatif tanpa menghilangkan peran manusia sebagai kreator.

Musisi Australia Soroti Penggunaan AI Generatif

Musisi Australia Ben Lee turut memberikan pandangan mengenai perkembangan teknologi tersebut.

Menurutnya, penggunaan teknologi dalam produksi musik sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Musisi selama ini telah menggunakan berbagai perangkat digital untuk membantu menghasilkan karya.

Teknologi dapat digunakan untuk kebutuhan seperti koreksi nada, pengurangan suara bising, hingga membantu proses produksi lainnya.

Namun, penggunaan AI generatif dinilai membawa persoalan yang berbeda karena teknologi tersebut dapat menghasilkan materi kreatif secara lebih mandiri.

Perbedaan inilah yang kemudian membutuhkan pembahasan lebih mendalam mengenai batas antara karya manusia dan karya yang dihasilkan mesin.

ARIA Mulai Tentukan Batas Kreativitas Manusia dan AI

Dengan aturan baru tersebut, ARIA kini menjadi salah satu organisasi industri musik yang secara lebih tegas menentukan batas penggunaan AI dalam karya yang masuk ke tangga lagu.

Kebijakan ini tidak berarti seluruh penggunaan AI dalam musik dilarang.

Baca Juga: Rockstar Buka Suara soal Kebocoran GTA 6, Gameplay Bocor Disebut Sangat Menyakitkan

Musisi masih dapat memanfaatkan teknologi tersebut selama kontribusi manusia tetap menjadi bagian utama dalam proses kreatif.

Namun, karya yang sebagian besar dihasilkan AI generatif tidak lagi mendapatkan ruang yang sama dalam sistem chart dan penghargaan musik Australia.

Perkembangan ini kemungkinan akan terus menjadi bahan perdebatan seiring semakin canggihnya teknologi AI.

Bagi industri musik, tantangannya kini bukan sekadar memilih antara menggunakan atau menolak AI, tetapi menentukan bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai kreativitas manusia.

Aturan ARIA menjadi salah satu contoh awal bagaimana industri mulai berusaha mencari titik tengah antara inovasi teknologi dan keaslian karya musik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : engadget.com
lagu buatan AI ARIA Australia musik AI tangga lagu Australia aturan AI industri musik