RADARBONAG.ID - Dunia teknologi kembali dibuat heboh setelah robot humanoid asal Tiongkok menunjukkan kemampuan berlari yang sulit dipercaya.
Dalam ajang World Humanoid Robot Games 2026 di Beijing, robot humanoid Tiangong Ultra berhasil menuntaskan lari 100 meter hanya dalam 9,39 detik.
Catatan tersebut lebih cepat dibandingkan rekor dunia lari 100 meter putra yang masih dipegang legenda Jamaika, Usain Bolt, dengan waktu 9,58 detik yang dicatat pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin.
Dengan demikian, robot humanoid kini mampu berlari lebih cepat daripada catatan terbaik manusia dalam nomor sprint 100 meter.
Meski begitu, pencapaian tersebut tidak serta-merta berarti rekor robot dapat disandingkan secara resmi dengan rekor atlet manusia karena keduanya bertanding dalam kategori dan kondisi yang berbeda.
Baca Juga: Ditengah Tur Eropa, DeadSquad-Jasad-Death Vomit Terlantar di Dublin hingga Dapat Bantuan Diaspora
Tiangong Ultra Tembus 9,39 Detik, Lightning Juga di Bawah Rekor Bolt
Penampilan mengejutkan itu terjadi dalam babak penyisihan World Humanoid Robot Games 2026 yang berlangsung di Beijing pada 22 Agustus.
Tiangong Ultra, robot yang dikembangkan Beijing Humanoid Robot Innovation Center, mencatat waktu 9,39 detik dan menjadi yang tercepat dalam heat tersebut. Robot itu bahkan sempat tertinggal dari pesaingnya, Lightning, sebelum berhasil menyalip mendekati garis finis.
Lightning sendiri merupakan robot humanoid yang dikembangkan oleh Honor.
Robot tersebut menyelesaikan jarak 100 meter dengan waktu 9,47 detik, juga masih lebih cepat daripada catatan 9,58 detik milik Bolt.
Yang lebih menarik, Lightning sebelumnya dilaporkan mampu mencatat waktu 9,32 detik dalam sesi pengujian sebelum kompetisi berlangsung. Kecepatan puncaknya dalam pengujian tersebut mencapai sekitar 14,5 meter per detik.
Artinya, kemampuan robot humanoid dalam berlari mengalami perkembangan yang sangat cepat hanya dalam waktu singkat.
Tahun Lalu Masih 21,5 Detik, Kini Sudah di Bawah 10 Detik
Perkembangan Tiangong Ultra menjadi salah satu bagian paling mencolok dari kompetisi tahun ini.
Pada penyelenggaraan perdana World Humanoid Robot Games tahun lalu, robot yang sama membutuhkan waktu sekitar 21,50 detik untuk menyelesaikan lari 100 meter.
Setahun kemudian, waktunya turun drastis menjadi 9,39 detik.
Perubahan tersebut menunjukkan betapa cepatnya pengembangan teknologi robot humanoid dilakukan.
Peningkatan tidak hanya terjadi pada kemampuan motorik, tetapi juga sistem keseimbangan, aktuator, pengendalian gerak, sensor, serta kecerdasan buatan yang membantu robot mempertahankan pola gerak saat berlari.
Lompatan performa tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kompetisi robot humanoid di Tiongkok semakin mendapat perhatian dunia.
Bisa Berlari Sangat Cepat, tetapi Masih Sering Kehilangan Keseimbangan
Meski kecepatannya mengagumkan, robot-robot tersebut ternyata belum mampu bergerak seanggun atlet manusia.
Setelah mencapai garis finis, sejumlah robot terlihat kesulitan memperlambat laju tubuhnya. Beberapa bahkan kehilangan keseimbangan dan menghantam bantalan pengaman yang disediakan di ujung lintasan.
Adegan tersebut menjadi gambaran menarik mengenai kondisi teknologi humanoid saat ini.
Robot memang sudah mampu menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi mengendalikan tubuh setelah berlari kencang masih menjadi tantangan tersendiri.
Dalam beberapa perlombaan, robot juga masih membutuhkan bantuan manusia untuk meninggalkan area pertandingan setelah menyelesaikan tugasnya.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa kemampuan robot tidak bisa hanya dinilai dari seberapa cepat mereka berlari.
Kemampuan berhenti, berbelok, menjaga keseimbangan, merespons lingkungan, dan melakukan tugas secara mandiri juga menjadi bagian penting dalam pengembangan robot humanoid.
Lightning Sudah Lebih Dulu Membuat Rekor di Half Marathon
Sebelum tampil dalam perlombaan 100 meter, Lightning sebenarnya sudah lebih dulu mencuri perhatian dunia.
Pada April 2026, robot humanoid besutan Honor tersebut memenangkan Beijing E-Town Humanoid Robot Half-Marathon dengan catatan waktu 50 menit 26 detik.
Jarak yang ditempuh mencapai 21,0975 kilometer. Catatan tersebut bahkan lebih cepat daripada rekor dunia half marathon manusia yang tercatat 57 menit 20 detik.
Lightning memiliki tinggi sekitar 169 sentimeter. Untuk meningkatkan performanya menjelang kompetisi, tim pengembang juga melakukan perubahan pada desain kakinya.
Jika sebelumnya panjang kaki robot sekitar 95 sentimeter saat mengikuti half marathon, bagian tersebut kemudian diperpanjang hingga sekitar 105 sentimeter untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
Perubahan desain tersebut menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid tidak hanya berkaitan dengan perangkat lunak dan kecerdasan buatan, tetapi juga menyangkut biomekanik dan desain fisik tubuh robot.
Bukan Sekadar Lomba Lari, Ada Sepak Bola hingga Tinju
World Humanoid Robot Games 2026 bukan sekadar perlombaan lari.
Ajang yang berlangsung pada 22 hingga 26 Agustus tersebut menghadirkan puluhan cabang pertandingan dan tantangan yang menguji kemampuan robot dalam berbagai situasi.
Lebih dari 2.000 robot dari 666 tim dan 16 negara dilaporkan ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Cabangnya mencakup olahraga seperti lari, sepak bola, tenis meja, hingga tinju, serta sejumlah tantangan yang berkaitan dengan kemampuan robot melakukan pekerjaan tertentu.
Konsep tersebut membuat ajang ini tidak hanya menjadi tontonan teknologi, tetapi juga semacam tempat pengujian kemampuan robot sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Tiongkok Semakin Serius Mengembangkan Robot Humanoid
Keberhasilan Tiangong Ultra dan Lightning memperlihatkan semakin agresifnya perkembangan industri robot humanoid di Tiongkok.
Dalam beberapa tahun terakhir, robot humanoid tidak lagi sekadar menjadi prototipe yang dipamerkan di panggung teknologi.
Baca Juga: Prabowo Belum Tinjau Gempa Flores, Ini Alasan Jadwal Kunjungan Presiden Berubah
Pengembang mulai mengarahkannya untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan mobilitas, ketahanan, presisi, hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.
Meski demikian, robot humanoid masih menghadapi banyak tantangan sebelum dapat digunakan secara luas.
Kemampuan menjaga keseimbangan, memahami lingkungan secara real time, mengontrol gerakan secara presisi, efisiensi energi, hingga biaya produksi masih menjadi pekerjaan besar bagi para pengembang.
Karena itu, rekor lari di Beijing lebih tepat dilihat sebagai indikator perkembangan teknologi, bukan bukti bahwa robot sudah sepenuhnya mengungguli manusia dalam semua aspek.
Satu hal yang jelas, jarak antara kemampuan robot dan manusia dalam urusan gerak semakin mengecil.
Jika tahun lalu robot masih membutuhkan lebih dari 20 detik untuk menyelesaikan 100 meter, kini sudah ada humanoid yang mampu menembus batas 10 detik.
Dan perkembangan tersebut membuat satu pertanyaan semakin menarik: seberapa cepat robot humanoid akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan?
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : engadget.com