RADARBONAG.ID — Microsoft mulai mengubah cara pengguna berinteraksi dengan Copilot.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut secara bertahap menyatukan pengalaman Copilot untuk konsumen dengan Microsoft 365 Copilot ke dalam satu aplikasi terpadu.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Microsoft untuk menjadikan Copilot bukan sekadar chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), tetapi sebuah platform yang mampu menangani berbagai kebutuhan pengguna dalam satu tempat.
Rencana tersebut sebelumnya diumumkan Microsoft pada Mei 2026 dan kini mulai diterapkan secara bertahap.
Perubahan awal menyasar perangkat seluler, sedangkan pengalaman serupa di Windows dan macOS akan tersedia secara opsional dalam beberapa minggu berikutnya.
Semua Pengalaman Copilot Mulai Disatukan
Melalui aplikasi baru tersebut, Microsoft menyederhanakan berbagai layanan Copilot di bawah satu identitas, yakni “Copilot”.
Pengguna nantinya tidak perlu terlalu memikirkan versi Copilot yang digunakan karena pengalaman untuk kebutuhan pribadi maupun pekerjaan akan tersedia melalui aplikasi yang sama.
Meski berada dalam satu aplikasi, Microsoft memastikan akun pribadi dan akun organisasi tetap memiliki pemisahan yang jelas.
Artinya, pengguna yang masuk menggunakan akun pribadi tidak akan otomatis memberikan akses terhadap data organisasi. Begitu pula sebaliknya.
Microsoft menegaskan bahwa data dari akun pribadi tidak akan dibagikan kepada organisasi.
Sementara ketika Copilot digunakan menggunakan akun kerja atau sekolah, kebijakan keamanan, privasi, kepatuhan, serta kontrol administratif organisasi tetap berlaku.
Tidak Semua Fitur Lama Ikut Dipertahankan
Penyatuan berbagai pengalaman Copilot ternyata juga membawa perubahan terhadap sejumlah fitur yang sebelumnya tersedia bagi pengguna konsumen.
Microsoft akan menghentikan beberapa fitur mulai 18 Agustus 2026.
Fitur yang akan dihentikan tersebut mencakup Copilot Podcasts, Group Chat, dan Deep Research untuk pengguna konsumen.
Penghentian ini membuat pengguna perlu memperhatikan data atau konten yang masih ingin mereka simpan sebelum batas waktu tersebut.
Group Chat Tak Lagi Dilanjutkan
Untuk fitur Group Chat, Microsoft menyatakan percakapan, pesan, serta gambar yang ada tidak akan diteruskan setelah layanan dihentikan.
Pengguna yang masih membutuhkan konten tersebut harus melakukan pencadangan secara mandiri dengan cara menyalin atau mengunduhnya sebelum fitur benar-benar tidak tersedia.
Perubahan ini menjadi salah satu konsekuensi dari langkah Microsoft merombak pengalaman Copilot konsumen menjadi lebih terintegrasi.
Copilot Podcasts Juga Berakhir
Fitur Copilot Podcasts juga akan dihentikan untuk pengguna konsumen.
Namun, pengguna yang sebelumnya telah membuat podcast masih mempunyai kesempatan untuk mengunduhnya sebelum fitur tersebut resmi ditutup.
Karena itu, pengguna yang memiliki konten penting disarankan menyimpannya lebih awal agar tidak kehilangan akses setelah perubahan diterapkan.
Deep Research Tak Bisa Buat Riset Baru
Nasib serupa berlaku untuk Deep Research.
Mulai 18 Agustus, pengguna konsumen tidak lagi dapat membuat penelitian baru menggunakan fitur tersebut.
Meski demikian, konten penelitian yang telah dibuat sebelumnya masih dapat diakses.
Dengan kata lain, Microsoft tidak langsung menghapus seluruh hasil penelitian lama, tetapi kemampuan membuat riset baru melalui fitur tersebut akan dihentikan.
Microsoft Ingin Bangun “Super Copilot”
Di balik perubahan tersebut terdapat ambisi Microsoft yang jauh lebih besar.
Perusahaan disebut tengah mengembangkan konsep “super Copilot”, yakni aplikasi AI yang dapat menggabungkan berbagai kemampuan dalam satu platform.
Menurut laporan Fortune, aplikasi tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk percakapan dengan AI.
Copilot juga diproyeksikan memiliki kemampuan pengkodean melalui GitHub Copilot, dukungan untuk kebutuhan kerja melalui Copilot Cowork, serta kemampuan menjalankan alur kerja secara mandiri menggunakan sistem berbasis agen.
Secara sederhana, Microsoft ingin membuat Copilot sebagai satu pintu untuk berbagai aktivitas berbasis AI.
Pengguna dapat berbicara dengan AI, menyelesaikan pekerjaan, membuat kode, mengelola produktivitas, hingga menjalankan tugas tertentu secara otomatis tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.
Copilot Makin Serius di Dunia Bisnis
Strategi tersebut juga tidak lepas dari ambisi Microsoft memperluas bisnis AI di sektor perusahaan.
Microsoft 365 Copilot dilaporkan telah memiliki lebih dari 30 juta pengguna berbayar.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar AI untuk kebutuhan profesional dan perusahaan.
Microsoft juga terus mengembangkan teknologi AI secara internal dan berusaha mengurangi ketergantungan terhadap satu model maupun satu mitra teknologi tertentu.
Langkah ini menjadi penting karena persaingan industri AI semakin ketat.
Perusahaan teknologi besar kini berlomba membangun ekosistem AI yang tidak hanya menawarkan chatbot, tetapi juga mampu menjalankan berbagai pekerjaan secara otomatis.
Copilot Bisa Jadi Pusat Ekosistem AI Microsoft
Penyatuan Copilot konsumen dan Microsoft 365 Copilot pada akhirnya menunjukkan arah baru strategi Microsoft.
Jika sebelumnya pengguna mengenal Copilot sebagai asisten AI untuk menjawab pertanyaan atau membantu pekerjaan tertentu, perannya ke depan berpotensi jauh lebih luas.
Copilot diproyeksikan menjadi pusat berbagai aktivitas AI, mulai dari komunikasi, produktivitas, penelitian, pengkodean hingga pekerjaan yang dapat dilakukan secara otomatis oleh agen AI.
Namun, proses menuju aplikasi terpadu juga membuat Microsoft harus merapikan sejumlah layanan lama.
Penghentian beberapa fitur konsumen menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar menambahkan kemampuan baru, tetapi juga memilih kembali fitur mana yang dianggap sesuai dengan arah pengembangan Copilot berikutnya.
Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, pengguna nantinya akan memiliki satu aplikasi yang menjadi pintu utama menuju berbagai layanan AI Microsoft.
Dengan demikian, Copilot berpotensi berubah dari sekadar asisten digital menjadi platform AI terpadu yang menghubungkan kebutuhan pribadi, pekerjaan, pengkodean, produktivitas, hingga otomatisasi tugas dalam satu ekosistem.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : engadget.com