RADARBONAG.ID — Platform media sosial X sedang menguji fitur baru yang dapat membuat pengguna lebih mudah mengetahui apakah akun atau unggahan mereka mengalami pembatasan visibilitas.
Fitur tersebut menjadi bagian dari upaya X meningkatkan transparansi mengenai cara algoritma rekomendasi menentukan konten yang muncul di linimasa pengguna.
Selama ini, istilah shadowban kerap digunakan pengguna media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika unggahan atau akun terasa sulit ditemukan dan jangkauannya menurun tanpa adanya pemberitahuan yang jelas.
Melalui fitur eksperimental ini, X mulai memberikan akses terhadap informasi yang dapat membantu pengguna memahami label atau faktor tertentu yang berpotensi memengaruhi distribusi konten mereka.
Bisa Cek Data Pembatasan dari Menu “Di Balik Layar”
Fitur pemeriksaan tersebut masih tersedia secara terbatas dan dapat ditemukan melalui halaman “Di Balik Layar” pada pengaturan aplikasi X.
Pengguna yang mendapatkan akses ke fitur ini dapat mengunduh data akun dalam format JSON.
Di dalam data tersebut terdapat statistik agregat mengenai sejumlah label yang memengaruhi visibilitas akun maupun unggahan selama periode bulan sebelumnya.
Dengan informasi tersebut, pengguna dapat memperoleh gambaran mengenai faktor yang mungkin membuat konten mereka tidak menjangkau audiens tertentu.
Namun, X belum memberikan sistem yang secara sederhana menunjukkan status setiap unggahan dengan keterangan seperti “terkena shadowban” atau “aman”.
Data yang diberikan lebih berupa kumpulan informasi mengenai label yang pernah diterapkan pada akun maupun postingan.
Data JSON Bisa Membingungkan Pengguna Awam
Meskipun memberikan informasi lebih banyak, cara penyajian data tersebut masih menjadi tantangan tersendiri.
Format JSON pada dasarnya dirancang agar mudah dibaca dan diproses oleh komputer.
Bagi pengguna umum yang tidak terbiasa melihat struktur data, informasi tersebut bisa terlihat seperti rangkaian kode yang sulit dipahami.
Dengan kata lain, fitur ini memang memberikan transparansi lebih besar, tetapi belum tentu membuat seluruh pengguna langsung memahami alasan di balik perubahan jangkauan sebuah unggahan.
Pengguna tetap perlu mengetahui arti masing-masing label untuk bisa menarik kesimpulan mengenai bagaimana kontennya diperlakukan oleh sistem X.
Label NSFW Bisa Memengaruhi Jangkauan Unggahan
Salah satu contoh yang diperlihatkan X berkaitan dengan label NSFW atau konten yang tidak aman untuk ditampilkan kepada semua pengguna.
Ketika sebuah unggahan mendapatkan label tertentu, distribusinya dapat dibatasi.
Misalnya, konten tersebut tidak ditampilkan kepada pengguna yang bukan pengikut akun atau pengguna yang masih berada di bawah umur.
Bagi pemilik akun, informasi semacam ini dapat membantu menjelaskan mengapa sebuah postingan yang sebelumnya mendapatkan jangkauan tinggi tiba-tiba memiliki distribusi lebih terbatas.
Selain NSFW, sistem X juga menggunakan berbagai label lain untuk mengelompokkan konten berdasarkan karakteristik dan potensi pelanggarannya.
X Buka Lebih Banyak Kode Algoritma Rekomendasi
Bersamaan dengan uji coba fitur transparansi tersebut, X juga membuka lebih banyak kode sumber yang digunakan dalam sistem rekomendasi linimasa “Untuk Anda”.
Kode tersebut tersedia melalui repositori GitHub dan mencakup berbagai komponen yang digunakan untuk menentukan konten yang akan direkomendasikan kepada pengguna.
Di dalamnya terdapat konfigurasi model, sistem filter, hingga mekanisme pemeringkatan yang menentukan bagaimana sebuah unggahan memperoleh skor sebelum akhirnya ditampilkan di linimasa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan X untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai cara algoritma rekomendasi bekerja.
Ada Label Spam hingga Perilaku Kebencian
Kode yang dibuka X juga memperlihatkan sejumlah kategori label yang digunakan dalam sistem moderasi dan rekomendasi.
Beberapa di antaranya berkaitan dengan spam, kekerasan, peniruan identitas, perilaku kebencian, serta berbagai kategori NSFW.
Selain itu, terdapat pula label yang berkaitan dengan “integritas sipil”.
Label tersebut dapat berpengaruh terhadap tingkat visibilitas sebuah unggahan pada profil pengguna yang membuatnya.
Dengan membuka sebagian struktur tersebut, X memberikan kesempatan kepada pihak luar untuk melihat bagaimana berbagai kategori konten dapat memengaruhi proses distribusi.
Tidak Semua Sistem Moderasi Dibuka
Meski mengusung transparansi yang lebih besar, bukan berarti seluruh sistem internal X tersedia untuk publik.
Perusahaan masih merahasiakan beberapa bagian dari mekanisme moderasi dan rekomendasinya.
Salah satunya adalah sistem yang menggunakan Grok untuk membantu mendeteksi potensi pelanggaran terhadap aturan platform.
X menyebut sebagian sistem tetap dirahasiakan karena membuka seluruh mekanismenya dapat memberikan celah bagi pihak tertentu untuk memanipulasi konten atau mencari cara menghindari sistem moderasi.
Dengan demikian, keterbukaan yang dilakukan X tetap memiliki batas antara kebutuhan transparansi dan keamanan sistem.
Peneliti Eksternal Diberi Kesempatan Meninjau
X juga mengatakan bahwa sejumlah peneliti eksternal yang memiliki pemahaman mengenai sistem rekomendasi telah diberikan kesempatan untuk memeriksa kode yang dibuka.
Kehadiran peneliti dari luar perusahaan diharapkan dapat membantu memberikan sudut pandang yang lebih objektif terhadap sistem algoritma X.
Perusahaan berharap keterbukaan tersebut memungkinkan publik melakukan audit, memberikan kritik, serta memahami dengan lebih baik bagaimana konten dipilih dan didistribusikan.
Bagi X, langkah tersebut juga diharapkan dapat membantu membangun sistem rekomendasi yang lebih transparan dan dianggap lebih adil bagi pengguna.
Fitur Shadowban Masih Dalam Tahap Uji Coba
Meski terdengar menarik bagi pengguna yang selama ini penasaran dengan istilah shadowban, fitur pemeriksaan tersebut masih berada dalam tahap pengujian.
Untuk saat ini, hanya kelompok akun tertentu yang mendapatkan akses. Belum diketahui kapan X akan memperluas fitur tersebut kepada seluruh pengguna.
Jika nantinya dirilis secara lebih luas, kemampuan untuk melihat label yang memengaruhi visibilitas dapat menjadi alat baru bagi pengguna untuk memahami performa kontennya.
Namun, pengguna juga perlu memahami bahwa penurunan jangkauan tidak selalu berarti akun terkena shadowban.
Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi distribusi sebuah unggahan, termasuk rekomendasi algoritma, interaksi pengguna, jenis konten, serta label moderasi tertentu.
Setidaknya, langkah terbaru X menunjukkan adanya perubahan pendekatan terhadap transparansi algoritma.
Jika sebelumnya pengguna hanya bisa menebak alasan sebuah unggahan kehilangan jangkauan, ke depan mereka mungkin mendapatkan lebih banyak data untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : engadget.com