RADARBONAG.ID — Microsoft mulai memperketat akses terhadap konten digital untuk pengguna Xbox di Australia.
Perusahaan teknologi tersebut akan memberlakukan sistem verifikasi usia bagi pengguna yang ingin mengakses game maupun aplikasi dengan rating dewasa atau 18+.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari tren yang semakin berkembang di dunia digital, ketika perusahaan teknologi mulai menerapkan mekanisme pemeriksaan usia untuk memastikan konten tertentu tidak mudah diakses oleh pengguna di bawah umur.
Untuk pengguna Xbox di Australia, aturan baru ini akan mulai diberlakukan pada akhir Agustus 2026.
Pemilik akun yang ingin mengakses konten berusia 18 tahun ke atas melalui Xbox Store maupun Microsoft Store di PC harus terlebih dahulu melewati proses verifikasi usia.
Akses Game 18+ Bisa Dibatasi
Microsoft telah menginformasikan kebijakan tersebut kepada pengguna di Australia melalui email.
Dalam pemberitahuannya, perusahaan menjelaskan bahwa akses terhadap konten yang memiliki batasan usia dapat dibatasi apabila pengguna tidak menyelesaikan proses pemeriksaan usia yang diwajibkan.
Dengan demikian, pengguna yang ingin membeli atau mengakses game dengan klasifikasi dewasa harus memastikan informasi usia mereka dapat diverifikasi oleh sistem Microsoft.
Aturan ini tidak serta-merta berarti seluruh game yang tersedia di akun pengguna akan terkena pembatasan.
Microsoft secara khusus menyebut game yang sebelumnya sudah dimiliki pengguna tidak akan terdampak oleh kebijakan baru tersebut.
Artinya, fokus utama sistem ini berada pada akses terhadap konten 18+ yang hendak diperoleh atau diakses melalui layanan Microsoft setelah aturan tersebut berlaku.
Ada Beberapa Pilihan untuk Verifikasi Usia
Untuk membuktikan bahwa pengguna telah memenuhi batas usia, Microsoft menyediakan sejumlah metode verifikasi.
Pengguna dapat memilih metode yang tersedia sesuai dengan kondisi mereka.
Beberapa di antaranya menggunakan alamat email, teknologi estimasi usia berdasarkan foto wajah, kartu kredit, serta dokumen identitas resmi.
Dokumen yang dapat digunakan antara lain paspor, surat izin mengemudi, kartu identitas, maupun dokumen izin tinggal.
Metode tersebut menunjukkan bahwa verifikasi usia tidak hanya mengandalkan tanggal lahir yang dimasukkan ketika membuat akun.
Microsoft membutuhkan metode tambahan untuk memastikan usia pengguna sesuai dengan batasan konten yang hendak diakses.
Namun, sistem seperti ini juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana data pengguna dikumpulkan, diproses, disimpan, dan dilindungi.
Australia Sudah Lama Ketat soal Game Dewasa
Kebijakan Microsoft tersebut muncul di tengah regulasi konten digital yang cukup ketat di Australia.
Negara tersebut memiliki sistem klasifikasi sendiri untuk menentukan apakah sebuah game dapat dipasarkan dan dimainkan berdasarkan kontennya.
Salah satu contoh terbaru adalah kontroversi mengenai Halloween: The Game, sebuah game horor yang diadaptasi dari waralaba film Halloween.
Dewan Klasifikasi Australia dilaporkan menolak memberikan klasifikasi untuk game tersebut.
Persoalannya bukan hanya berkaitan dengan adegan kekerasan, tetapi juga keberadaan unsur yang berhubungan dengan zat terlarang.
Australia sendiri bukan kali pertama menghadapi persoalan terkait klasifikasi video game.
Sejumlah judul terkenal seperti seri Grand Theft Auto dan South Park: The Stick of Truth pernah menghadapi kendala dalam proses klasifikasi di negara tersebut.
Sementara itu, beberapa game dengan konten yang sangat dewasa seperti Hotline Miami dan Outlast 2 tetap dapat beredar setelah memperoleh klasifikasi yang sesuai.
Verifikasi Usia Mulai Menjadi Tren Global
Kebijakan yang diterapkan Microsoft di Australia juga tidak berdiri sendiri.
Sistem pemeriksaan usia semakin banyak diterapkan pada layanan digital di berbagai negara.
Australia dan Inggris termasuk negara yang aktif mendorong mekanisme tersebut, sementara sejumlah wilayah di Amerika Serikat juga telah memperkenalkan aturan serupa untuk layanan online tertentu.
Tujuan utamanya adalah memberikan perlindungan tambahan kepada anak-anak agar tidak dengan mudah menemukan konten yang memang dirancang untuk pengguna dewasa.
Dalam konteks game, sistem tersebut dianggap dapat membantu orang tua maupun regulator memastikan konten dengan rating tinggi hanya tersedia bagi pengguna yang memenuhi batas usia.
Namun, penerapan teknologi verifikasi usia juga menghadirkan persoalan baru.
Data Pribadi Jadi Kekhawatiran
Di satu sisi, pemeriksaan usia dianggap dapat meningkatkan perlindungan terhadap anak.
Di sisi lain, pengguna dan kelompok pemerhati privasi mempertanyakan seberapa banyak informasi pribadi yang harus diberikan untuk sekadar mengakses sebuah game.
Jika verifikasi dilakukan menggunakan foto wajah, kartu kredit, atau dokumen identitas, terdapat kekhawatiran mengenai keamanan data tersebut.
Data seperti paspor, SIM, kartu identitas dan informasi biometrik merupakan informasi yang sangat sensitif.
Apabila sistem keamanan sebuah perusahaan mengalami kebocoran, informasi tersebut berpotensi menimbulkan masalah serius bagi pengguna.
Karena itu, perdebatan mengenai verifikasi usia tidak hanya berkutat pada persoalan apakah anak-anak boleh memainkan game 18+.
Ada persoalan yang jauh lebih besar mengenai keseimbangan antara perlindungan pengguna, privasi, keamanan data dan kebebasan mengakses konten digital.
Microsoft Hadapi Tantangan Baru di Era Verifikasi Digital
Langkah Microsoft di Australia menjadi gambaran bagaimana industri teknologi mulai menghadapi tuntutan regulator untuk meningkatkan pengawasan terhadap konten berdasarkan usia pengguna.
Bagi Microsoft, kebijakan tersebut menjadi cara untuk menyesuaikan layanan Xbox dengan aturan yang berlaku di Australia.
Bagi pengguna, aturan ini berarti proses mengakses game dewasa bisa menjadi sedikit lebih rumit dibanding sebelumnya.
Sementara itu, bagi industri teknologi secara keseluruhan, perkembangan ini dapat menjadi pertanda bahwa verifikasi usia akan semakin umum digunakan di berbagai platform.
Pertanyaan terbesarnya kini adalah bagaimana perusahaan dapat memastikan pengguna di bawah umur terlindungi tanpa harus meminta terlalu banyak informasi pribadi dari pengguna dewasa.
Jika sistem tersebut diterapkan secara luas, persoalan perlindungan anak dan privasi digital kemungkinan akan terus menjadi dua kepentingan yang harus berjalan beriringan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : eurogamer.net