RADARBONAG.ID – OpenAI kembali memperluas jangkauan layanan kecerdasan buatan (AI) dengan menghadirkan ChatGPT di platform WhatsApp untuk pengguna di kawasan Eropa.
Kehadiran kembali chatbot populer tersebut menjadi kabar baik bagi jutaan pengguna yang kini dapat mengakses berbagai fitur ChatGPT langsung melalui aplikasi perpesanan tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
Layanan ini mulai tersedia sejak 13 Juli 2026 dan dapat digunakan oleh masyarakat di 27 negara anggota Uni Eropa, serta Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein.
Pengguna hanya perlu menghubungi nomor resmi ChatGPT melalui WhatsApp untuk mulai berinteraksi dengan chatbot berbasis AI tersebut.
Kembalinya ChatGPT ke WhatsApp juga menjadi bagian dari perubahan regulasi digital di Eropa yang mendorong persaingan lebih terbuka bagi layanan kecerdasan buatan.
Pengguna Bisa Chat, Kirim Suara, hingga Membuat Gambar
Melalui integrasi terbaru ini, OpenAI menghadirkan hampir seluruh fitur utama ChatGPT ke dalam WhatsApp.
Pengguna dapat mengirimkan pesan teks seperti biasa, mengunggah gambar untuk dianalisis, mengirim pesan suara, hingga meminta chatbot membuat gambar secara langsung tanpa harus berpindah ke aplikasi lain.
Berdasarkan pengujian awal, ChatGPT di WhatsApp memperkenalkan dirinya sebagai chatbot yang menggunakan model GPT-5.5.
Sementara itu, fitur pembuatan gambar diduga memanfaatkan model gpt-image-2, yang dikenal mampu menghasilkan ilustrasi maupun gambar digital dengan waktu pemrosesan yang relatif cepat.
Integrasi ini diharapkan memberikan pengalaman yang lebih praktis karena seluruh aktivitas dapat dilakukan langsung dari aplikasi WhatsApp yang telah digunakan sehari-hari oleh jutaan orang.
Riwayat Percakapan Bisa Disinkronkan
OpenAI juga menyediakan opsi bagi pengguna untuk menghubungkan akun WhatsApp dengan akun ChatGPT yang telah dimiliki.
Apabila akun ditautkan, riwayat percakapan dapat disinkronkan sehingga chatbot mampu memahami konteks pembicaraan sebelumnya dan memberikan jawaban yang lebih relevan.
Fitur tersebut juga memudahkan pengguna yang berpindah perangkat atau menggunakan ChatGPT di berbagai platform karena percakapan dapat diakses secara lebih terintegrasi.
Meski demikian, OpenAI belum memberikan penjelasan rinci mengenai batas penggunaan bagi pengguna yang memilih tidak menghubungkan akun WhatsApp dengan akun ChatGPT mereka.
Perusahaan juga belum mengonfirmasi apakah seluruh permintaan pengguna diproses menggunakan GPT-5.5 atau sebagian dialihkan ke model AI lain sesuai kebutuhan sistem.
Aturan Baru Uni Eropa Jadi Titik Balik
Kembalinya ChatGPT ke WhatsApp tidak terlepas dari kebijakan baru yang diterapkan Komisi Eropa.
Sebelumnya, pada awal 2026, Meta sempat membatasi kehadiran chatbot AI pihak ketiga di WhatsApp.
Kebijakan tersebut membuat sejumlah layanan seperti ChatGPT, Microsoft Copilot, hingga Perplexity tidak lagi dapat beroperasi di platform tersebut.
Pada saat yang sama, hanya Meta AI yang tetap memperoleh akses penuh di aplikasi WhatsApp.
Langkah tersebut sempat memunculkan perhatian regulator karena dinilai berpotensi menghambat persaingan di pasar layanan kecerdasan buatan.
Meta Diminta Membuka Akses AI Pesaing
Dalam perkembangan berikutnya, Meta sebenarnya sempat membuka kembali akses chatbot AI pihak ketiga melalui skema layanan berbayar.
Namun kebijakan tersebut belum dianggap cukup oleh regulator Uni Eropa.
Pada Juni 2026, Komisi Eropa mengeluarkan keputusan sementara yang mewajibkan Meta membuka akses gratis bagi layanan AI pesaing selama proses investigasi terhadap perusahaan masih berlangsung.
Keputusan tersebut membuka jalan bagi OpenAI untuk kembali menghadirkan ChatGPT di WhatsApp bagi pengguna di kawasan Eropa.
Regulasi ini juga dipandang sebagai upaya menjaga persaingan yang sehat di sektor teknologi digital sekaligus memberikan lebih banyak pilihan layanan AI kepada masyarakat.
OpenAI Terus Perluas Ekosistem ChatGPT
Selain kembali hadir di WhatsApp Eropa, OpenAI juga terus memperluas jangkauan ChatGPT ke berbagai platform perpesanan lainnya.
Perusahaan diketahui tengah menghadirkan layanan serupa di KakaoTalk yang banyak digunakan masyarakat Korea Selatan.
Tidak hanya itu, ChatGPT juga mulai diperluas ke Viber, aplikasi pesan instan yang masih memiliki basis pengguna besar di sejumlah negara.
Strategi tersebut menunjukkan ambisi OpenAI untuk menghadirkan layanan AI di platform yang sudah akrab digunakan masyarakat sehari-hari.
Dengan integrasi ke berbagai aplikasi pesan instan, pengguna tidak lagi harus membuka aplikasi khusus untuk memanfaatkan kemampuan ChatGPT.
Ke depan, langkah ini diperkirakan akan semakin memperluas adopsi teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, membuat konten, membantu pekerjaan, hingga menghasilkan gambar hanya melalui percakapan di aplikasi pesan instan.
Kehadiran kembali ChatGPT di WhatsApp Eropa menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan layanan AI global, sekaligus memperlihatkan bagaimana regulasi dapat memengaruhi persaingan dan inovasi di industri teknologi.
Editor : Muhammad Azlan Syah