Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

General Motors Kembangkan Baterai Natrium Murah dan Tahan 20 Tahun, Siap Masuk Pasar Energi Masa Depan

Andika Julia Perdana Putra • Jumat, 12 Juni 2026 | 10:14 WIB
GM ternyata tidak hanya ingin menjadi raksasa mobil listrik. Perusahaan asal Amerika Serikat ini kini serius menggarap bisnis penyimpanan energi dengan baterai natrium yang diklaim lebih murah, tahan hingga 20 tahun, dan cocok untuk kebutuhan pusat data AI. (Avil Beckford/Pinterest)
GM ternyata tidak hanya ingin menjadi raksasa mobil listrik. Perusahaan asal Amerika Serikat ini kini serius menggarap bisnis penyimpanan energi dengan baterai natrium yang diklaim lebih murah, tahan hingga 20 tahun, dan cocok untuk kebutuhan pusat data AI. (Avil Beckford/Pinterest)

RADARBONANG.ID – Selama ini, nama General Motors (GM) identik dengan industri otomotif dan pengembangan kendaraan listrik.

Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), perusahaan asal Amerika Serikat tersebut mulai mengarahkan pandangannya ke sektor yang jauh lebih luas: bisnis penyimpanan energi skala besar.

Meningkatnya kebutuhan listrik global, terutama dari pusat data AI, industri digital, dan jaringan listrik modern, membuka peluang baru yang sangat menjanjikan.

GM melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk memperluas bisnisnya, tidak hanya sebagai produsen kendaraan listrik, tetapi juga sebagai pemain penting dalam ekosistem energi masa depan.

Langkah terbaru perusahaan menunjukkan keseriusan tersebut. GM kini fokus mengembangkan teknologi baterai ion natrium yang diyakini mampu menjadi alternatif lebih ekonomis dibandingkan teknologi baterai yang saat ini mendominasi pasar.

Baca Juga: Hakim Beberkan Faktor Pemberat dan Peringanan Vonis Empat Prajurit TNI dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Baterai Natrium Jadi Senjata Baru GM

Dalam beberapa tahun terakhir, baterai lithium iron phosphate (LFP) menjadi salah satu teknologi yang paling banyak digunakan untuk sistem penyimpanan energi. Namun GM menilai masih ada ruang untuk menghadirkan solusi yang lebih efisien dan terjangkau.

Karena itu, perusahaan mulai mengembangkan baterai ion natrium bersama startup teknologi energi Peak Energy.

Kolaborasi ini bertujuan menghadirkan sistem penyimpanan energi yang lebih murah, lebih tahan lama, dan lebih mudah dioperasikan dibandingkan teknologi yang ada saat ini.

Targetnya cukup ambisius. GM dan Peak Energy berencana membawa teknologi tersebut ke tahap komersial pada tahun 2028.

Jika berhasil, baterai ion natrium berpotensi menjadi salah satu teknologi penyimpanan energi paling kompetitif dalam dekade mendatang.

Lebih Murah dan Tidak Membutuhkan Pendingin Khusus

Salah satu keunggulan utama baterai ion natrium adalah biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan baterai berbasis lithium.

Natrium merupakan unsur yang lebih melimpah di alam sehingga pasokannya relatif lebih stabil dan murah.

Selain itu, teknologi ini tidak membutuhkan sistem pendingin aktif yang biasanya menjadi komponen penting dalam sistem baterai konvensional.

Tanpa kebutuhan pendinginan yang rumit, biaya pemasangan dan operasional dapat ditekan secara signifikan.

Keuntungan tersebut sangat menarik bagi operator pusat data, perusahaan utilitas listrik, hingga industri besar yang membutuhkan penyimpanan energi dalam kapasitas tinggi.

Dengan biaya yang lebih rendah, investasi pada sistem penyimpanan energi menjadi lebih mudah dijangkau.

Tahan Hingga 20 Tahun dan Tetap Stabil di Suhu Tinggi

GM juga mengklaim baterai ion natrium yang sedang dikembangkannya memiliki daya tahan yang sangat panjang.

Teknologi tersebut diproyeksikan mampu beroperasi hingga 20 tahun tanpa mengalami penurunan performa yang signifikan.

Daya tahan tersebut menjadi faktor penting dalam industri penyimpanan energi karena dapat mengurangi biaya penggantian dan pemeliharaan.

Tidak hanya itu, baterai ini juga dirancang untuk tetap bekerja optimal dalam kondisi suhu tinggi.

Kepala Divisi Baterai GM, Kurt Kelty, mengungkapkan bahwa prototipe yang tengah diuji mampu beroperasi pada suhu mencapai 55 derajat Celsius tanpa mengalami masalah panas berlebih.

Kemampuan tersebut memungkinkan sistem penyimpanan energi ditempatkan di berbagai lingkungan tanpa memerlukan infrastruktur pendinginan yang kompleks.

Ekspansi ke Bisnis Energi Semakin Agresif

Pengembangan baterai natrium hanyalah salah satu bagian dari strategi besar GM di sektor energi.

Perusahaan juga terus memperluas portofolio bisnisnya melalui berbagai kemitraan strategis.

GM saat ini bekerja sama dengan LG Energy Solution untuk pengembangan teknologi baterai generasi berikutnya.

Di sisi lain, perusahaan juga menggandeng Redwood Materials, perusahaan yang fokus pada daur ulang baterai dan pengelolaan material energi berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut membuka peluang baru dalam pemanfaatan baterai bekas kendaraan listrik untuk kebutuhan penyimpanan energi skala besar.

Baterai Bekas Mobil Listrik Disulap Jadi Penyimpan Energi

Salah satu proyek menarik yang sedang dijalankan GM bersama Redwood Materials adalah pemanfaatan baterai bekas kendaraan listrik untuk sistem penyimpanan energi dan mikrogrid.

Alih-alih dibuang setelah masa pakainya di kendaraan berakhir, baterai tersebut diberikan kehidupan kedua sebagai penyimpan energi stasioner.

Pendekatan ini dinilai mampu memperpanjang nilai ekonomi baterai sekaligus mengurangi limbah industri.

Saat ini GM dan Redwood tengah mengembangkan sistem penyimpanan energi berkapasitas 7,2 megawatt di fasilitas GM yang berada di Michigan.

Perusahaan memperkirakan proyek tersebut dapat menghemat biaya energi hingga sekitar 3 juta dolar Amerika Serikat selama masa operasionalnya.

Kendaraan Listrik Bisa Jadi Sumber Listrik Cadangan

Selain baterai stasioner, GM juga melihat masa depan energi melalui kendaraan listrik yang memiliki kemampuan pengisian daya dua arah atau bidirectional charging.

Teknologi ini memungkinkan kendaraan listrik tidak hanya menerima listrik dari jaringan, tetapi juga mengirimkan kembali energi ke rumah, gedung, atau jaringan listrik saat dibutuhkan.

Menurut perusahaan, sekitar 250 ribu kendaraan listrik GM yang saat ini beroperasi sudah memiliki kemampuan tersebut.

Jika dimanfaatkan secara optimal, jutaan kendaraan listrik di masa depan berpotensi menjadi jaringan penyimpanan energi raksasa yang tersebar di berbagai wilayah.

Baca Juga: Liburan Tidak Harus ke Mall atau Tempat Wisata Ramai, Ini Alternatif yang Lebih Bermakna dan Berkesan

AI Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Pasar Energi

Lonjakan penggunaan teknologi AI menjadi salah satu alasan utama GM mempercepat ekspansi ke sektor energi.

Pusat data yang digunakan untuk menjalankan model AI membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar dan stabil.

Kebutuhan tersebut diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor.

Karena itu, solusi penyimpanan energi menjadi semakin penting untuk menjaga kestabilan pasokan listrik sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Melalui investasi pada baterai natrium, daur ulang baterai kendaraan listrik, serta teknologi pengisian daya dua arah, GM menunjukkan bahwa masa depan perusahaan tidak hanya berada di jalan raya, tetapi juga dalam infrastruktur energi global yang menopang era digital dan AI.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#General Motors #baterai ion natrium #penyimpanan energi #kendaraan listrik GM #pusat data AI