Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Konten Tak Ingin Dipakai AI? Google Siapkan Opsi Baru bagi Pemilik Situs Web di Hasil Pencarian

Andika Julia Perdana Putra • Jumat, 5 Juni 2026 | 09:23 WIB
Google membuat langkah besar yang bisa mengubah masa depan industri media digital. Pemilik situs web kini berpeluang menolak kontennya muncul di hasil pencarian AI tanpa memengaruhi peringkat di pencarian Google biasa. Google janjikan kembalikan air lebih banyak ke alam. (Sumber: The Korea Times/Pinterest)
Google membuat langkah besar yang bisa mengubah masa depan industri media digital. Pemilik situs web kini berpeluang menolak kontennya muncul di hasil pencarian AI tanpa memengaruhi peringkat di pencarian Google biasa. Google janjikan kembalikan air lebih banyak ke alam. (Sumber: The Korea Times/Pinterest)

 

RADARBONAG.ID – Google kembali melakukan perubahan penting dalam layanan pencariannya.

Raksasa teknologi tersebut mengumumkan rencana pengujian fitur baru yang memungkinkan pemilik situs web memilih untuk tidak menampilkan konten mereka dalam hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Fitur ini menjadi salah satu langkah terbaru Google dalam memberikan kontrol yang lebih besar kepada penerbit, media, dan kreator konten terkait penggunaan materi yang mereka publikasikan di internet.

Baca Juga: KONI Jatim Pasang Standar Tinggi untuk PON Bela Diri 2026, Hanya Atlet Peraih Emas dan Perak yang Diprioritaskan

Melalui fitur tersebut, pemilik situs nantinya dapat memilih keluar atau opt-out dari layanan AI Google seperti AI Overviews dan AI Mode tanpa memengaruhi posisi situs mereka di hasil pencarian konvensional.

Uji coba awal akan dilakukan melalui platform Search Console dan pertama kali tersedia bagi sejumlah kecil pemilik domain di Inggris sebelum diperluas secara bertahap ke wilayah lain di dunia.

Situs Bisa Keluar dari Hasil AI Tanpa Kehilangan Ranking Google

Selama ini banyak penerbit menghadapi dilema ketika konten mereka digunakan untuk menghasilkan ringkasan jawaban AI.

Di satu sisi, kemunculan dalam hasil AI dapat meningkatkan eksposur.

Namun di sisi lain, pengguna sering kali tidak lagi mengunjungi situs sumber karena informasi yang dibutuhkan sudah tersedia langsung di halaman pencarian.

Melalui kebijakan baru ini, Google memberikan pilihan yang lebih fleksibel.

Situs yang memilih untuk keluar dari hasil AI tidak akan kehilangan posisi mereka di hasil pencarian organik biasa.

Dengan kata lain, ranking SEO pada pencarian tradisional tetap berjalan seperti sebelumnya.

Namun Google juga menegaskan bahwa situs yang tidak ikut serta dalam fitur AI generatif tidak akan memperoleh tayangan, referensi trafik, maupun potensi eksposur yang berasal dari AI Overviews dan AI Mode.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Google untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan pengguna, pengembang AI, dan pemilik konten.

Tekanane Regulator Jadi Salah Satu Faktor

Kehadiran fitur opt-out ini disebut tidak lepas dari meningkatnya perhatian regulator terhadap penggunaan konten oleh sistem AI.

Di Inggris, Otoritas Persaingan dan Pasar atau Competition and Markets Authority (CMA) sebelumnya mendorong Google agar menyediakan mekanisme yang lebih adil bagi penerbit dan organisasi media.

Regulator menilai penerbit perlu memiliki posisi tawar yang lebih kuat terkait penggunaan karya jurnalistik dan konten digital mereka dalam layanan berbasis AI.

Selama beberapa tahun terakhir, berbagai perusahaan teknologi menghadapi tekanan serupa terkait cara mereka memanfaatkan konten yang tersedia di internet untuk melatih maupun menghasilkan jawaban AI.

Karena itu, keputusan Google menghadirkan opsi keluar dari hasil AI dianggap sebagai respons terhadap tuntutan transparansi dan perlindungan hak penerbit.

Search Console Hadirkan Laporan Khusus untuk AI

Selain menghadirkan tombol opt-out, Google juga memperkenalkan pembaruan pada Search Console.

Melalui laporan baru tersebut, pemilik situs dapat melihat informasi yang lebih rinci mengenai bagaimana konten mereka digunakan dalam layanan AI Google.

Data yang tersedia mencakup halaman mana yang muncul dalam respons AI, lokasi geografis pengguna yang melihat konten tersebut, hingga performa kemunculan halaman dalam hasil pencarian berbasis AI.

Google menyatakan fitur pelaporan ini masih akan terus dikembangkan.

Perusahaan membuka peluang untuk menambahkan metrik baru berdasarkan masukan dari penerbit, media, maupun kreator konten yang menggunakan Search Console.

Bagi pemilik website, data tersebut dinilai penting untuk membantu menyusun strategi distribusi konten di era pencarian berbasis kecerdasan buatan.

Industri Media Khawatir Trafik Terus Menurun

Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran industri media terhadap perkembangan teknologi pencarian AI.

Banyak perusahaan media menganggap fitur ringkasan AI berpotensi mengurangi jumlah kunjungan ke situs berita dan website informasi.

Ketika jawaban sudah tersedia secara langsung di halaman pencarian, pengguna sering kali tidak merasa perlu membuka artikel sumber untuk mendapatkan informasi tambahan.

Sejumlah penelitian industri juga menunjukkan bahwa fitur AI Overviews dapat menurunkan tingkat klik atau click-through rate ke situs web tertentu.

Penurunan trafik tersebut berpotensi berdampak pada pendapatan perusahaan media yang selama ini bergantung pada iklan digital dan jumlah kunjungan pembaca.

Meski demikian, memilih keluar dari hasil pencarian AI juga memiliki konsekuensi tersendiri.

Di tengah meningkatnya penggunaan AI oleh masyarakat, tidak tampil dalam hasil AI dapat membuat sebuah situs kehilangan sebagian visibilitasnya di internet.

Karena itu, fitur baru Google dianggap memberikan kebebasan kepada penerbit untuk menentukan strategi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagian mungkin memilih mempertahankan eksposur melalui AI demi menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca Juga: Bupati Lumajang Soroti Kasus di BGN, Harap Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan dan Semakin Baik

Sementara yang lain dapat memilih melindungi trafik langsung ke situs mereka sebagai sumber utama pendapatan.

Dengan hadirnya opsi baru ini, Google membuka babak baru dalam hubungan antara teknologi AI dan industri penerbitan digital.

Keputusan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu isu penting yang terus berkembang seiring semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan dalam mesin pencari modern.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Google AI Overviews #Google AI Mode #Search Console #pencarian AI Google #fitur baru Google