RADARBONANG.ID- Meta kembali menghadapi sorotan terkait privasi setelah program pemantauan aktivitas karyawan yang digunakan untuk melatih AI dikabarkan berpotensi melanggar aturan perlindungan data Uni Eropa.
Program bernama Model Capability Initiative (MCI) itu sebelumnya diperkenalkan untuk merekam cara karyawan di Amerika Serikat menggunakan komputer, mulai dari pergerakan mouse, klik, hingga interaksi dengan berbagai aplikasi.
Nantinya data tersebut akan digunakan untuk mengembangkan agen AI yang mampu menjalankan tugas digital secara otomatis.
Tetapi, dalam dokumen internal yang diperoleh Reuters mengungkap bahwa cakupan MCI lebih luas dari yang sebelumnya dijelaskan.
Baca Juga: Followers Instagram Mendadak Hilang Massal, Meta Akui Sedang Bersihkan Akun Bot dan Spam
Alat tersebut disebut memantau aktivitas di lebih dari 200 aplikasi dan situs web, serta berpotensi merekam komunikasi yang melibatkan pegawai di luar wilayah AS.
Dalam dokumen tanya jawab untuk karyawan, Meta mengakui bahwa email maupun pesan yang dikirim atau diterima pegawai AS dapat ikut terekam, termasuk ketika lawan bicaranya berada di negara lain.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait kepatuhan terhadap aturan General Data Protection Regulation (GDPR) di Uni Eropa.
Sejumlah pakar privasi menilai pengumpulan data tersebut dapat bermasalah karena informasi awalnya dikumpulkan untuk kebutuhan komunikasi kerja, bukan untuk pelatihan model AI.
Selain itu, GDPR mengharuskan perusahaan memiliki dasar hukum yang jelas dalam memproses data pribadi.
Meta melalui juru bicaranya, Dave Arnold, menegaskan bahwa MCI hanya dipasang pada perangkat karyawan AS dan fokus utamanya adalah memahami cara pengguna berinteraksi dengan komputer, bukan isi layar yang mereka lihat.
Selain itu, perusahaan juga mengklaim telah menerapkan berbagai langkah untuk mengurangi risiko privasi yang mungkin terjadi.
Di sisi lain, program ini memicu kekhawatiran internal. Sejumlah karyawan mengeluhkan penggunaan data internet yang meningkat drastis sejak MCI aktif.
Ada pula yang menilai teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk melatih AI yang suatu saat dapat menggantikan sebagian pekerjaan manusia.
Kasus tersebut menjadi perbincangan hangat ditengah semakin maraknya penggunaan AI di era serba digital ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni