RADARBONANG.ID – TikTok resmi menghadirkan opsi langganan bebas iklan bagi pengguna di Inggris.
Melalui kebijakan baru tersebut, pengguna berusia 18 tahun ke atas kini dapat memilih membayar biaya bulanan sebesar £3,99 atau sekitar Rp80 ribuan agar bisa menikmati aplikasi tanpa gangguan iklan.
Fitur ini mulai diperkenalkan secara bertahap lewat notifikasi pop-up di aplikasi sejak pekan ini.
Pengguna nantinya diminta menentukan pilihan sebelum 11 November:
- tetap menggunakan TikTok gratis dengan iklan personalisasi,
atau - berlangganan versi bebas iklan.
TikTok Sebut Pengguna Diberi Kendali Lebih Besar
TikTok menyatakan langkah ini dilakukan untuk memberi pengguna kendali lebih besar terhadap pengalaman mereka saat menggunakan platform.
Direktur Pelaksana TikTok Inggris Kris Boger mengatakan iklan masih menjadi bagian penting dalam ekosistem platform digital.
Menurutnya, iklan membantu bisnis lokal menjangkau pelanggan baru sekaligus meningkatkan penjualan.
Meski begitu, pengguna yang membayar langganan tetap akan melihat konten promosi tertentu dari kreator atau influencer yang bekerja sama dengan brand.
Artinya, versi bebas iklan bukan berarti sepenuhnya tanpa konten komersial.
Pengguna Gratis Tak Bisa Lagi Tolak Iklan Bertarget
Kebijakan baru ini juga membawa perubahan besar terkait sistem iklan personalisasi di TikTok.
Sebelumnya, pengguna gratis di Inggris masih memiliki opsi untuk menolak iklan bertarget berdasarkan aktivitas mereka.
Namun setelah aturan baru diterapkan, pilihan tersebut akan dihapus.
Dengan begitu, pengguna gratis otomatis akan menerima iklan yang dipersonalisasi sesuai perilaku dan aktivitas mereka di platform.
Perubahan ini langsung memicu diskusi soal privasi digital dan masa depan internet berbasis langganan.
Tren Baru Industri Teknologi: “Consent or Pay”
Pengamat media sosial Matt Navarra menilai langkah TikTok menjadi bagian dari tren baru industri teknologi yang dikenal dengan istilah “consent or pay”.
Konsep ini membuat pengguna harus memilih:
- membayar untuk pengalaman lebih privat,
atau - tetap gratis tetapi menerima pengumpulan data dan iklan bertarget.
Menurut Navarra, internet kini perlahan bergerak menuju sistem dua tingkat.
Pengguna yang mampu membayar akan mendapatkan pengalaman digital yang lebih nyaman dan lebih privat.
Sementara pengguna gratis harus “membayar” dengan data dan perhatian mereka terhadap iklan.
Meta Sudah Lebih Dulu Terapkan Sistem Serupa
Sebelum TikTok, perusahaan teknologi Meta Platforms juga lebih dulu menghadirkan layanan serupa untuk platform seperti:
- dan Facebook
Di Inggris dan beberapa wilayah Eropa, pengguna Meta juga diberi pilihan antara menggunakan layanan gratis dengan iklan personalisasi atau membayar langganan bebas iklan.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi mulai mencari model bisnis baru di tengah meningkatnya tekanan regulasi soal privasi data pengguna.
Belum Dipastikan Hadir di Negara Lain
Hingga saat ini, TikTok belum mengumumkan apakah layanan bebas iklan tersebut akan diperluas ke negara lain, termasuk United States maupun negara-negara Asia.
Namun banyak pengamat memperkirakan jika uji coba di Inggris berjalan sukses, fitur serupa kemungkinan akan diperluas secara global.
Baca Juga: Sering Healing tapi Mental Tetap Lelah? Ini Fakta Emotional Exhaustion yang Banyak Dialami Gen Z
Terlebih, persaingan platform media sosial kini tidak hanya soal fitur hiburan, tetapi juga pengalaman pengguna dan perlindungan privasi digital.
Privasi Digital Kini Jadi Isu Besar
Kebijakan terbaru TikTok kembali memunculkan pertanyaan besar soal masa depan internet modern.
Apakah privasi akan tetap menjadi hak semua pengguna, atau justru berubah menjadi layanan premium yang hanya bisa dinikmati mereka yang mampu membayar?
Di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat pada media sosial, isu ini diperkirakan akan terus menjadi perdebatan besar dalam industri teknologi global. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah