Tyo Guritno: Manusia Adalah Teknologi Paling Canggih, Jangan Kalah Dengan AI

Lailatul Khusna Febriyanti • Dipublikasikan Rabu, 22 April 2026 | 08:37 WIB
Tyo Guritno menilai AI bukan ancaman, melainkan alat untuk mendorong manusia menciptakan karya bernilai dan berkembang lebih jauh. (Ilustrasi antara manusia dan Ai)
Tyo Guritno menilai AI bukan ancaman, melainkan alat untuk mendorong manusia menciptakan karya bernilai dan berkembang lebih jauh. (Ilustrasi antara manusia dan Ai)

RADARBONANG.ID – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) kerap dipandang sebagai ancaman yang akan menggantikan peran manusia di berbagai sektor pekerjaan.

Kekhawatiran ini semakin menguat seiring pesatnya perkembangan teknologi yang mampu mengotomatisasi banyak tugas.

Namun bagi Tyo Guritno, CEO dan Co-founder Inspigo, AI justru bukan ancaman, melainkan cermin untuk melihat kembali kapasitas sejati manusia.

Dalam sebuah diskusi, ia menegaskan bahwa manusia adalah “teknologi paling canggih” yang pernah ada.

Baca Juga: 4 Kebiasaan Kerja Kantor Menyebalkan yang Jadikan Work From Home Pilihan Terbaik, Kata Psikologi

Mindset Masterpiece di Tengah Era Instan

Menurut Tyo Guritno, tantangan terbesar di era AI bukanlah kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan standar kualitas.

Ia menyoroti fenomena penggunaan teknologi secara instan tanpa proses berpikir mendalam.

Banyak orang kini hanya mengandalkan AI untuk menghasilkan sesuatu secara cepat, tanpa menambahkan sentuhan kreativitas atau makna.

Padahal, kecepatan seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas, bukan menggantikannya.

Ia mencontohkan Candi Borobudur sebagai bukti bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menciptakan karya besar dengan detail, filosofi, dan perhitungan yang luar biasa.

“Imagination is a skill, thinking big is a skill. Kita punya kemampuan untuk menciptakan masterpiece,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan berimajinasi dan berpikir besar harus terus diasah, agar manusia tidak kehilangan jati dirinya di tengah kemudahan teknologi.

Karier Tidak Hilang, Tapi Berubah

Menjawab kekhawatiran generasi muda terkait masa depan pekerjaan, Tyo Guritno menegaskan bahwa pekerjaan tidak benar-benar hilang, melainkan sedang mengalami redefinisi.

Pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif memang mulai tergantikan oleh AI.

Namun, kondisi ini justru membuka peluang bagi manusia untuk naik ke level yang lebih tinggi.

“Standarnya naik. Dengan AI, satu orang sekarang bisa mengerjakan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih cepat,” jelasnya.

Artinya, individu dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih luas dan fleksibel. Mereka yang mampu beradaptasi akan justru diuntungkan dalam ekosistem kerja baru ini.

Soft Skill dan Value Jadi Penentu

Di era disrupsi, nilai seseorang tidak lagi hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari nilai (value) yang bisa diberikan kepada orang lain.

Tyo Guritno menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah awal untuk menciptakan value tersebut.

Ia menyebut bahwa memahami apa yang disukai dan tidak disukai merupakan fondasi dasar dalam membangun arah hidup dan karier.

“Kalau kita tahu apa yang kita suka, kita bisa menciptakan sesuatu yang punya nilai. Bisnis yang bertahan bukan soal fitur, tapi soal value,” ujarnya.

Pendekatan ini membuat seseorang tidak hanya bekerja untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menciptakan dampak yang lebih luas.

Manajemen Energi dan Kesadaran Diri

Selain skill, kemampuan mengelola energi juga menjadi faktor penting dalam menghadapi masa depan.

Tyo Guritno menilai bahwa banyak orang kehilangan arah karena tidak memahami kondisi dirinya sendiri.

Dengan mengenali emosi, minat, dan batas kemampuan, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan terarah.

Kesadaran diri (self-awareness) menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental di tengah tuntutan yang semakin tinggi.

Kembali Menjadi Manusia

Di akhir pemaparannya, Tyo Guritno mengingatkan agar manusia tidak terlalu mendewakan teknologi buatan hingga melupakan potensi dirinya sendiri.

AI memang mampu meniru banyak hal, tetapi tidak bisa menggantikan empati, kesadaran, dan perasaan manusia.

“A human is an advanced technology. Jangan lupa itu,” tegasnya.

Menurutnya, keunggulan manusia justru terletak pada kemampuan merasakan, memahami, dan menciptakan makna—sesuatu yang tidak dimiliki mesin.

Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti

AI seharusnya dilihat sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti.

Baca Juga: 3 Strategi Mengoptimalkan Kekuatan Diri: Cara Cerdas Mengarahkan Karakter untuk Hidup Berkualitas

Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, manusia justru bisa menciptakan karya yang lebih besar dan berdampak.

Di tengah era yang serba cepat, tantangan sebenarnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.

Jika digunakan dengan tepat, AI bisa menjadi katalis untuk melahirkan lebih banyak “masterpiece” dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa dalam manusia memahami dirinya sendiri dan berani menciptakan nilai di tengah perubahan. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
mindset sukses AI dan masa depan kerja Tyo Guritno Inspigo artificial intelligence Indonesia