RADARBONANG.ID – OpenAI dikabarkan menunda rencana menghadirkan fitur chatbot erotis di layanan ChatGPT setelah muncul kekhawatiran dari kalangan karyawan maupun investor.
Fitur yang sebelumnya ditargetkan meluncur pada akhir 2025 tersebut kini ditangguhkan tanpa kepastian jadwal rilis.
Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak sosial dan psikologis dari teknologi kecerdasan buatan.
Rencana Citron Mode dan Tantangan Pengembangan
Berdasarkan laporan media internasional, chatbot dewasa ini direncanakan hadir dalam bentuk Citron Mode.
Baca Juga: Orang yang Selalu Membayar dengan Uang Pas, Ini 7 Ciri Kepribadiannya Menurut Psikologi
Mode tersebut disebut akan memberikan pengalaman interaksi yang lebih bebas bagi pengguna dewasa.
Namun dalam proses pengembangannya, OpenAI menghadapi sejumlah kendala teknis.
Salah satu tantangan utama adalah melatih model AI yang sebelumnya dirancang untuk menghindari konten seksual agar tetap aman dan tidak melanggar hukum.
Penyesuaian ini dinilai tidak sederhana karena sistem AI harus tetap mampu membedakan antara penggunaan yang sah dan potensi penyalahgunaan.
Kekhawatiran Dampak Psikologis
Selain kendala teknis, penundaan juga dipicu oleh minimnya penelitian terkait dampak psikologis interaksi manusia dengan AI erotis.
OpenAI disebut ingin melakukan studi lebih mendalam sebelum melanjutkan proyek tersebut.
Perusahaan khawatir pengguna dapat mengalami keterikatan emosional dengan AI, yang berpotensi menimbulkan efek jangka panjang terhadap perilaku sosial.
Langkah ini menunjukkan pendekatan kehati-hatian yang diambil OpenAI dalam mengembangkan teknologi yang sensitif.
Kontroversi Internal dan Kekhawatiran Investor
Rencana menghadirkan chatbot erotis juga memicu perdebatan di dalam perusahaan. Sejumlah staf menyuarakan kekhawatiran terkait arah pengembangan AI yang dianggap berisiko.
Bahkan, terdapat laporan bahwa beberapa karyawan senior memilih keluar karena tidak sepakat dengan proyek tersebut.
Di sisi lain, investor juga menilai fitur ini berpotensi menimbulkan penyalahgunaan teknologi.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah maraknya kasus konten manipulatif seperti deepfake yang dihasilkan oleh AI, termasuk dari platform seperti Grok AI.
Tantangan Verifikasi Usia
OpenAI sebelumnya juga berencana menghadirkan sistem kontrol orang tua serta teknologi verifikasi usia untuk mendukung fitur dewasa ini.
Namun, implementasi teknologi tersebut masih menghadapi kendala.
Sistem verifikasi usia dilaporkan memiliki tingkat kesalahan lebih dari 10 persen, sehingga menimbulkan risiko akses oleh pengguna di bawah umur.
Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat keamanan pengguna, khususnya anak-anak, merupakan prioritas utama dalam pengembangan AI.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Bologna Siapkan Kontrak Panjang, Orsolini Masih Menimbang Masa Depan
Perubahan Strategi OpenAI
CEO OpenAI, Sam Altman, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan memang mempertimbangkan pelonggaran pembatasan konten secara hati-hati.
Namun, aspek keamanan tetap menjadi fokus utama.
Penundaan fitur chatbot erotis ini juga mencerminkan perubahan strategi OpenAI yang kini lebih berfokus pada pengembangan alat produktivitas dan perangkat lunak yang memiliki dampak luas.
Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan juga dilaporkan menunda atau menghentikan sejumlah proyek lain yang dianggap sebagai “misi sampingan” demi memprioritaskan pengembangan inti.
Keputusan ini menunjukkan bahwa di tengah pesatnya inovasi AI, aspek etika, keamanan, dan dampak sosial tetap menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan teknologi. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah