RADARBONANG.ID – Raksasa teknologi Meta kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan di berbagai divisi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi perusahaan yang terus berlanjut di tengah perubahan fokus bisnis, terutama pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
PHK kali ini dilaporkan berdampak pada sejumlah tim penting, mulai dari divisi penjualan, perekrutan, operasional global, hingga unit teknologi masa depan di Reality Labs.
Kebijakan ini tidak hanya menyasar karyawan di Amerika Serikat, tetapi juga di beberapa negara lainnya.
Baca Juga: Teaser Serial Harry Potter Dirilis, Ajak Penggemar Bernostalgia Kembali ke Hogwarts
Restrukturisasi Jadi Alasan Utama
Pihak Meta menyebut bahwa langkah ini merupakan bagian dari proses penyesuaian organisasi agar lebih efisien dan fokus pada target bisnis ke depan.
Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa restrukturisasi merupakan hal yang rutin dilakukan dalam perusahaan besar untuk memastikan setiap tim berada dalam posisi optimal.
Meski melakukan PHK, Meta dikabarkan tetap membuka peluang bagi sebagian karyawan terdampak untuk berpindah posisi internal atau relokasi ke unit lain.
Hal ini dilakukan sebagai upaya mempertahankan talenta yang masih dibutuhkan dalam struktur baru perusahaan.
Jumlah karyawan yang terdampak kali ini diperkirakan kurang dari seribu orang. Sebagai gambaran, hingga akhir 2025, Meta tercatat memiliki sekitar 79 ribu karyawan secara global.
Reality Labs Paling Terdampak
Divisi Reality Labs menjadi salah satu unit yang paling merasakan dampak kebijakan ini. Divisi yang fokus pada pengembangan teknologi realitas virtual, augmented reality, dan konsep metaverse tersebut memang telah beberapa kali mengalami pemangkasan tenaga kerja.
Sebelumnya, pada awal tahun, unit ini juga melakukan PHK yang memengaruhi sekitar seribu karyawan dari total sekitar 15 ribu staf.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Meta masih terus mengevaluasi investasi dan efisiensi di sektor metaverse yang membutuhkan biaya besar.
Fokus Beralih ke Kecerdasan Buatan
Langkah pengurangan tenaga kerja ini sejalan dengan strategi baru Meta yang semakin agresif dalam mengembangkan Artificial Intelligence.
Perusahaan kini mengalihkan fokus investasi ke teknologi AI yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan bisnis di masa depan.
Meta bahkan memperkirakan belanja modal (capital expenditure) tahun ini dapat mencapai 115 miliar hingga 135 miliar dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun infrastruktur teknologi, terutama untuk mendukung pengembangan AI.
Selain itu, Meta juga dirumorkan tengah menyiapkan proyek besar berupa pembangunan pusat data berskala raksasa.
Investasi ini diperkirakan akan menelan biaya hingga ratusan miliar dolar, sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas komputasi dan pengolahan data.
Efisiensi di Tengah Persaingan Teknologi
Langkah PHK yang dilakukan Meta mencerminkan dinamika industri teknologi global yang semakin kompetitif. Perusahaan-perusahaan besar kini berlomba untuk menguasai teknologi AI, yang dianggap sebagai kunci utama dalam transformasi digital ke depan.
Di sisi lain, kebijakan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan harus melakukan efisiensi untuk menjaga keseimbangan antara investasi besar dan keberlanjutan bisnis.
Meski berdampak pada banyak karyawan, Meta berupaya menjaga reputasi sebagai perusahaan yang tetap memberikan peluang bagi tenaga kerja untuk beradaptasi dalam struktur baru.
Tantangan dan Masa Depan Meta
Keputusan Meta untuk terus melakukan restrukturisasi menandakan bahwa perusahaan sedang berada dalam fase transformasi besar.
Baca Juga: Restrukturisasi PlayStation Berlanjut, Sony Tutup Dark Outlaw Games
Peralihan fokus dari metaverse ke AI menjadi langkah strategis yang dapat menentukan arah bisnis perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, tantangan tetap ada. Investasi besar di bidang AI membutuhkan hasil nyata agar dapat memberikan keuntungan jangka panjang.
Jika berhasil, langkah ini bisa memperkuat posisi Meta sebagai salah satu pemimpin industri teknologi global.
Sebaliknya, jika tidak diimbangi dengan eksekusi yang tepat, risiko finansial juga akan meningkat.
Di tengah situasi ini, satu hal yang pasti: industri teknologi akan terus berubah, dan perusahaan seperti Meta harus terus beradaptasi untuk tetap relevan.
Editor : Muhammad Azlan Syah