Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Belum Genap Setahun, OpenAI Resmi Tutup Aplikasi Video AI Sora, Ini Alasannya

Andika Julia Perdana Putra • 2026-03-26 07:44:49

OpenAI berencana menghadirkan Sora langsung di ChatGPT untuk meningkatkan minat pengguna terhadap teknologi video AI generatif.
OpenAI berencana menghadirkan Sora langsung di ChatGPT untuk meningkatkan minat pengguna terhadap teknologi video AI generatif.
RADARBONANG.ID – Kejutan datang dari dunia teknologi kecerdasan buatan. OpenAI secara resmi mengumumkan rencana penutupan aplikasi video berbasis AI mereka, Sora, meski usianya bahkan belum genap satu tahun sejak diluncurkan.

Aplikasi yang sempat viral ini diketahui baru mengudara sekitar enam bulan setelah debutnya pada akhir tahun lalu.

Popularitasnya sempat melesat berkat kemampuan unik dalam menghasilkan video berbasis kecerdasan buatan dengan kualitas tinggi dan realistis.

Pengumuman penutupan tersebut disampaikan langsung oleh OpenAI melalui unggahan resmi pada Selasa (24/3).

Meski demikian, hingga kini perusahaan belum memberikan kepastian mengenai tanggal pasti kapan layanan aplikasi maupun API Sora akan benar-benar dihentikan.

Baca Juga: Barcelona Resmi Amankan Tiket Liga Champions Musim Depan Usai Unggul Jauh di Klasemen LaLiga

Dalam pernyataan resminya, OpenAI menyampaikan apresiasi kepada para pengguna yang telah berkontribusi dalam menciptakan berbagai konten serta membangun komunitas kreatif di dalam platform tersebut. Namun, alasan spesifik di balik penghentian Sora tidak dijelaskan secara rinci.

Konsep Mirip Media Sosial Video Pendek

Sejak awal peluncurannya, Sora dirancang sebagai platform video pendek berbasis AI yang memiliki konsep serupa dengan TikTok.

Pengguna dapat membuat dan menikmati video dalam format vertikal yang cepat dan interaktif.

Salah satu fitur unggulan yang menarik perhatian adalah “cameo”. Fitur ini memungkinkan pengguna memindai wajah mereka untuk kemudian diolah menjadi video berbasis teknologi deepfake yang tampak sangat realistis.

Teknologi ini sempat dianggap revolusioner karena membuka peluang baru dalam industri konten digital.

Kreator dapat membuat berbagai video unik hanya dengan memanfaatkan AI, tanpa perlu proses produksi yang kompleks.

Kontroversi Deepfake Tak Terhindarkan

Namun di balik inovasinya, fitur tersebut juga memicu berbagai kontroversi. Banyak pengguna yang menyalahgunakan teknologi ini untuk membuat video deepfake dari tokoh publik tanpa izin.

Fenomena ini bahkan memicu reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk keluarga tokoh terkenal yang telah meninggal dunia.

Mereka meminta agar publik menghentikan penggunaan wajah orang tercinta dalam konten yang dinilai tidak etis.

Selain itu, masalah hak cipta juga menjadi sorotan serius. Tidak sedikit pengguna yang membuat video menggunakan karakter populer seperti Mario, Naruto, hingga Pikachu tanpa izin resmi.

Hal ini membuka potensi konflik hukum dengan pemilik lisensi, terutama perusahaan besar di industri hiburan.

Sempat Gandeng Disney, Namun Batal

Menariknya, di tengah isu tersebut, The Walt Disney Company sempat mengambil langkah tak terduga dengan menjalin kesepakatan lisensi dengan OpenAI.

Kolaborasi ini digadang-gadang akan membuka jalan baru bagi penggunaan karakter berhak cipta secara legal dalam platform AI.

Namun, seiring dengan keputusan penutupan Sora, kerja sama tersebut dikabarkan ikut batal dan tidak dilanjutkan.

Popularitas Menurun Drastis

Dari sisi performa, Sora sebenarnya sempat menunjukkan capaian yang cukup impresif. Pada November tahun lalu, aplikasi ini berhasil mencatatkan lebih dari 3,3 juta unduhan.

Akan tetapi, tren tersebut tidak bertahan lama. Dalam beberapa bulan berikutnya, minat pengguna menurun tajam. Pada Februari tahun ini, jumlah unduhan hanya berkisar 1,1 juta.

Penurunan ini menunjukkan bahwa meski teknologi AI video menarik perhatian, mempertahankan minat pengguna dalam jangka panjang tetap menjadi tantangan besar.

Dari sisi pendapatan, Sora diperkirakan hanya menghasilkan sekitar 2,1 juta dolar AS dari pembelian dalam aplikasi selama masa operasionalnya.

Fokus Baru OpenAI

OpenAI menjelaskan bahwa penghentian Sora berkaitan erat dengan perubahan strategi perusahaan.

Ke depan, tim pengembang akan lebih fokus pada riset simulasi dunia serta pengembangan teknologi AI yang mendukung robotika di dunia nyata.

Langkah ini menunjukkan pergeseran prioritas dari aplikasi hiburan ke teknologi yang memiliki dampak lebih luas dalam kehidupan manusia, termasuk sektor industri dan otomasi.

Baca Juga: Galaxy S26 Bisa Kirim File ke iPhone, Quick Share Kini Makin Canggih dan Lintas Platform

Teknologi Sora Masih Berlanjut

Meski aplikasinya ditutup, teknologi di balik Sora tidak sepenuhnya hilang. Model generasi terbaru, yakni Sora 2, masih tersedia melalui layanan berbayar ChatGPT.

Hal ini menandakan bahwa pengembangan teknologi video berbasis AI tetap menjadi bagian penting dari visi OpenAI ke depan.

Keputusan menutup Sora mungkin mengejutkan banyak pihak, namun juga mencerminkan dinamika cepat dalam industri teknologi.

Inovasi yang sukses secara viral belum tentu mampu bertahan jika dihadapkan pada tantangan etika, hukum, dan perubahan strategi bisnis.

Pada akhirnya, kisah Sora menjadi contoh bagaimana teknologi canggih perlu diimbangi dengan regulasi, tanggung jawab, dan arah pengembangan yang jelas agar dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Aplikasi Video #deepfake #ai #Open AI #video pendek #Sora